Propaganda

1996_10_21_FK Propaganda-c

“Kerukunan kelas atas dan ketenteraman kelas menengah merupakan kunci stabilitas. Tak ada perubahan sosial tanpa keretakan elite. Yang dapat diharapkan dari propaganda adalah agar mereka yang makan gaji dari ketimpangan tata-sosial tidak melihat ketimpangan itu.”

Heryanto, Ariel (1996) “Propaganda”, Forum Keadilan, Th. V, No. 14, 21 Oktober 1996, hal. 56.

kata kunci: antikomunisme, slogan, pendidikan, kelas sosial

Kapan Kambuhnya Bahaya PKI?

Klik 2016_05_10_CNN Kapan Kambuhnya Bahaya PKI-c

Peringatan akan bahaya komunis di masa ini dianggap berlebihan oleh banyak pihak. Mereka menertawakannya sebagai ketololan yang sangat konyol. Sebagian dari yang geli tampaknya jadi usil membuat gambar palu-arit, sekedar untuk mengolok-olok ketololan itu.

Apakah masalahnya hanya berhenti di situ? Hanya ketololan yang disambut keusilan? Menurut saya tidak. Kambuhnya beberapa isu politik seperti “bahaya Komunis” penting. Ia ibarat sirine yang menandakan memanasnya gesekan di kalangan elite politik.

Heryanto, Ariel (2016) “Kapan Kambuhnya Bahaya PKI?”, CNN Indonesia, 10/05/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160510094659-21-129620/kapan-kambuhnya-bahaya-pki/

kata kunci: 1988, bahaya Komunis, Cina, konflik elite, PKI

Indonésie : ouverture d’un dialogue historique sur les massacres de 1965

2016_05_12 AA Indonésie _ ouverture d’un dialogue historique sur les massacres de 1965-c

Heryanto, Ariel (2016) “Indonésie : ouverture d’un dialogue historique sur les massacres de 1965”, Alter Asia, 12/05/2016, http://www.alterasia.org/201605124719/indonesie-ouverture-dun-dialogue-historique-massacres-de-1965/

Translated from Heryanto, Ariel (2016) “Massacre, memory and the wounds of 1965”, New Mandala, 2/05/2016

key words: Indonésie, massacres de 1965, Symposium national sur la tragédie de 1965

Negara dan Maaf 1965

Klik 2016_05_08 TEMPO Negara dan Maaf 1965-c

“Kerangka berpikir “1965-sebagai-konflik-horisontal” tidak saja membebaskan Negara dari gugatan politik, moral, kultural, dengan atau tanpa gugatan legal, sebagai penanggung-jawab terbesar banjir darah 1965. Bila kita mereproduksi kerangka berpikir itu, kita ikut meneruskan tradisi Orde Baru mengadu-domba antar golongan dalam masyarakat.”

Heryanto, Ariel (2016) “Negara dan Maaf 1965”, Tempo, 8/05/2016: 90-91.

kata kunci: 1965, korban, maaf, negara, konflik horizontal, Simposium