1995_11_03_K ABRI Masuk Internet-c
Heryanto, Ariel (1995) “ABRI Masuk Internet”, Kompas, 3 November 1995, hal. 4, 5.
kata kunci: ABRI, desentralistik, dwifungsi, informasi, internet, Kompas, militer, OTB
1995_11_03_K ABRI Masuk Internet-c
Heryanto, Ariel (1995) “ABRI Masuk Internet”, Kompas, 3 November 1995, hal. 4, 5.
kata kunci: ABRI, desentralistik, dwifungsi, informasi, internet, Kompas, militer, OTB
Dalam kajian tentang Indonesia pernah tampil karya Clifford Geerts yang membicarakan negara sebagai teater dengan acuan empirik Bali abad 19. Lalu ada analisa cemerlang Benedict Anderson tentang bangsa di mana pun di dunia sebagai fiksi. Belakangan gugatan terhadap rasionalitas bertumbuh di kalangan cendekiawan muda Indonesia dalam telaah pascamodernisme.
Heryanto, Ariel (1994) “Ilmu Politik, Masihkah Berguna?”, Kompas, 23 September 1994, hal. 4.
kata kunci: Benedict Anderson, cekal, Clifford Geertz, fiksi, film, ilmu politik, kajian budaya, Kompas, sensor, SIUPP, teater
Tanggapan Afan Gaffar: 1994_10_18_K_Sosiologi, Ilmu Ekonomi Dll-c
1996_04_29_JP Tiada Demokrasi yang Tak Retak-c
Heryanto, Ariel (1996) “Tiada Demokrasi yang Tak Retak”, Jawa Pos, 29 April 1996, hal. 4, 5.
kata kunci: demokrasi, HKBP, Jawa Pos, NU, PDI, perpecahan, swasta, tandingan, TEMPO, UKSW, YLBHI
Tanggapan:
(1) Hendardi (YLBHI): 1996_04_30 Hendardi Tanggapi AH-c
(2) Dr Riswanda Imawan (UGM): 1996_05_01 Riswanda Imawan Tanggapi AH_20160224_0001-c
(3) Dr Loekman Soetrisno (UGM): 1996_05_09 Loekman Soetrisno Tanggapi AH-c
(4) Cornelius Lay MA (UGM): 1996_05_15 Cornelius Lay Tanggapi AH_20160224_0001-c
(5) Dr Ramlan Surbakti (UnAir): 1996_05_18 Ramlan Surbakti Tanggapi
(6) Mukaffi Riza (pembaca Jawa Pos): 1996_05_03_Tanggapan buat Bung Ariel-c
Ada suatu zaman sebagian besar orang lahir, besar, bekerja, menikah, mati dan dikubur di dusun yang sama. Yang merantau jauh, pulang kampung halaman. Lalu mati dan dikuburkan di tempat yang sama nenek moyangnya lahir, besar, kawin, mati dan dikuburkan juga.
Zaman itu sudah punah. Tapi angan-angan dan kebiasaan dari zaman itu masih tercecer sampai sekarang.
Heryanto, Ariel (2003) “Kamu di Mana?”, Kompas, 7/12/2003.
kata kunci: Asal Usul, bahasa, digital, globalisasi, keluarga, Kompas, perubahan
“Andaikan Habibie tidak pernah dilahirkan pun, kemerdekaan Timtim sulit dibendung walau dengan warna, corak, tanggal, dan detail lain yang berbeda. . . . Tentara Indonesia, seperti Habibie, berperan sebagai tokoh pelengkap yang telah digariskan sejarah untuk mempercepat kemerdekaan Timtim.”
Heryanto, Ariel (2003) “Santa Cruz”, Kompas, 9/11/2003.
kata kunci: Asal Usul, Komnas HAM, Kompas, media, penjajahan, Santa Cruz, Timor Timur
“Tidak salah bila ada yang menuduh bahwa film-film ini mencerminkan sempitnya wawasan anak-anak muda yang kelihatannya ‘cool’ dan ‘cosmopolitan’. Gaya hidupnya wow. Bicaranya ke seluruh penjuru dunia, seperti juga SMS mereka. Mungkin ini anak-anak dari keluarga yang mahakaya untuk ukuran dunia dari salah satu negara yang paling miskin di dunia.”
Heryanto, Ariel (2003) “Indo”, Kompas, 20/07/2003.
kata kunci: Asal Usul, film, Kompas, Melbourne, parokial, rantau
Arsipnya Hilang
Urutan dari yang paling mutakhir ke yang lebih tua. Sebagian dapat diakses dalam bentuk teks sederhana (plain text) di situs ini.
=======================
(2) Karya Terjemahan
9-12 Juli 1980 : Yayasan Teater Nasional mementaskan Perangkap Tikus, terjemahan Ariel Heryanto dari The Mouse Trap karya Agatha Christie, di Bali Room Hotel Indonesia, sutradara Galeb Husin, pemain Rahayu Efendi, Deddy Mizwar, Yuanita Pranoto.
10-11 April 1992: “Nirtata Dunia Baru”, Bernas, 10-11 April 1992 terjemahan Ariel Heryanto dari “New World Disorder”, ceramah Ben Anderson yang dipublikasikan 24 Hour, special supplement, February 1992, pp. 41-46.