Mei 1998: Titik Balik Sejarah

Klik 2020_05_05_Kumparan Mei 1998-c

Kekerasan anti-Tionghoa Mei 1998 merupakan titik-balik dalam sejarah perubahan sosial dan kapitalisme Indonesia. Untuk pertama kalinya secara terlembaga, dan dalam jumlah besar2an warga kelas-menengah, urban, non-Tionghoa menolak kekerasan rasial itu. Mengapa?

Heryanto, Ariel (2020) “Mei 1998: Titik Balik Sejarah”, Kumparan, 5/05/2020, https://kumparan.com/ariel-heryanto/mei-1998-titik-balik-sejarah-1tLz94o9Ha4

kata kunci: Burjuasi, kelas sosial, Mei 1998, Orde Baru, rasisme, Tionghoa

Kenangan Ariel Heryanto Untuk Arief Budiman

Klik 2020_04_24_ABC Kenangan Ariel Heryanto Untuk Sahabatnya-c

Bukan sekedar dalam semangat, juga dalam berbusana Arief tampil ala aktivis muda. Bajunya itu-itu saja. Jumlahnya tidak banyak, dipakai berkali-kali.

Tutur bahasanya sederhana. Ia suka humor. Ia memilih gaya hidup yang disebutnya ‘kiri dan kere’, sekali pun rumahnya dua, lumayan mewah dan ia menerima gaji tetap sebagai guru besar sebuah universitas besar di Australia.

Heryanto, Ariel (2020) “Kenangan Ariel Heryanto Untuk Sahabatnya Intelektual Politik Arief Budiman”, ABC Indonesia, 24/04/2020, https://t.co/422EOVRwbg

kata kunci: akademik, aktivis, demonstran, Marxisme, Orde Baru, UKSW

Profesor Ariel Heryanto, Akademisi Asal Indonesia di Australia yang Terus Upayakan Persahabatan Dua Negara

Klik WWR-2020_03_27_ABC Profesor Ariel Heryanto-c

Salah satu akademisi asal Indonesia yang bekerja di luar negeri adalah Profesor Ariel Heryanto. Dalam beberapa tahun terakhir, ia memimpin lembaga bernama ‘Herb Feith Indonesian Engagement Center’, bagian dari Monash University di Melbourne.

Ariel memulai karir akademiknya di Universitas Satya Wacana di Salatiga, Jawa Tengah, hingga akhirnya bekerja di beberapa negara, termasuk Singapura dan Australia.

Awal Maret lalu, Ariel mengakhiri tugasnya di ‘Herb Feith Indonesian Engagement Center’, sekaligus memasuki usia pensiun.

Wijaya, Sastra (2020) “Profesor Ariel Heryanto, Akademisi Asal Indonesia di Australia yang Terus Upayakan Persahabatan Dua Negara”, ABC Indonesia, https://www.abc.net.au/indonesian/2020-03-27/wawancara-dengan-profesor-ariel-heryanto/12080520

kata kunci: Emeritus, Herb Feith Center, media sosial, Monash University, pendidikan

Ariel: Sama Dengan LBH!

Klik WWR_1996_05_HumOr Sama Dengan LBH-c

Anda bandingkan, kalau Anda membikin rumah dengan pondasi sedeng-sedeng, rumahnya sedeng-sedeng saja, nggak apa-apa. Tapi kalau kita bikin rumah bertingkat dua, tiga atau empat, sementara pondasi tidak diubah, ya … ambruk! Dan ini yang saya perhatian di banyak lembaga.

Sedewi, Rinta dan Hidayat, Nur (1996) “Ariel: Sama Dengan LBH!”, HumOr, Mei: 71-72.

kata kunci: lembaga, sejarah, swasta, Tempo, UKSW, universitas

Sekali Seumur Hidup

Klik 2019 Sekali Seumur Hidup-c

[S]tudi doktoral bukan perkara sepele. Bukan semata-mata persoalan kecerdasan. Juga bukan persoalan kerja keras dan tekad. Tapi yang terlebih penting dari semua itu: persoalan makna dan jalan hidup orang yang
bersangkutan.

Heryanto, Ariel (2019) “Sekali Seumur Hidup”, pengantar dalam Iwan A. Yusuf (ed) Roller Coaster Empat Musim, Jakarta: Writerprenuer Club, hal. 11-17.

kata kunci: Australia, beasiswa, doktor, mahasiswa, peneliti, S3, studi

Mutu Debat Publik Kita

Klik 2020_01_16_Tirto Mutu Debat Publik Kita-c

Pemahaman yang kompleks dan rumit membutuhkan uraian panjang yang tersusun utuh dan berfokus tajam. Diskusi demikian membutuh pranata komunikasi publik, yang sayangnya nyaris tak tersedia saat ini. Akibat selanjutnya: terjadi polarisasi besar-besaran dalam masyarakat, sehingga terbelah-belah. Masing-masing membela keyakinan dengan harga mati, sambil mencurigai yang berbeda sebagai ancaman.

Heryanto, Ariel (2020) “Mutu Debat Publik Kita”, Tirto, 16/01/2020, https://tirto.id/esM6

kata kunci: biner, iklan, media sosial, polarisasi, teknologi komunikasi, televisi

Dari Otak, Omong, hingga Otot

Klik 2019_09_25_kumparan Dari Otak, Omong, hingga Otot-c

Di Jawa, kasta dan nasib para aktivis mahasiswa Orde Baru berbeda jauh dari gerakan kaum muda dan mahasiswa segenerasi yang berkait atau dikait-kaitkan dengan aliran radikal Islam, komunisme, atau separatisme di Maluku, Papua, Timor Timur, dan Aceh.

Gerakan mahasiswa di Jawa masa kini pasti tidak gentar pada pasukan keamanan negara. Apalagi bila pasukan ini tidak segalak yang di Papua. Pertanyaannya, mampukah mereka melawan musuh yang lebih samar dan sulit dilawan, yakni rayuan mitos sebagai pahlawan yang gagah berani, sebelum kelak lulus kuliah lalu ditarik masuk dalam kawasan kekuasaan yang hari ini mereka lawan.

Heryanto, Ariel (2019) “Dari Otak, Omong, hingga Otot”, kumparan, 25/09/2019, https://t.co/bTUmzivqLF.

kata kunci: bujukan, gerakan, Jawa, kekerasan, mahasiswa, Orde Baru, Papua, Reformasi

Ketegangan di Papua dan hiper-nasionalisme di Indonesia

Klik 2019_09_13_C Ketegangan di Papua dan hiper-nasionalisme di Indonesia-c

Hiper-nasionalisme yang kini merebak merupakan pengkhianatan terhadap gagasan kebangsaan modern dan kosmopolitan yang dulu mengilhami tumbuhnya gerakan nasionalis Indonesia seabad lalu.

Di masa itu nasionalisme tidak terlepas dari internasionalisme. Juga tidak terlepas dari gagasan tentang kesetaraan dan martabat manusia secara global, sebagaimana telah diukir dan dimuliakan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar di negeri ini.

Heryanto, Ariel (2002) “Ketegangan di Papua dan hiper-nasionalisme di Indonesia”, The Conversation, 13/09/2019, https://t.co/2LVIKQGnVO.

kata kunci: fasisme, kolonialisme, lagu nasional, NKRI, Orde Baru, pribumi,

Mencari Akar Kebencian Orang Indonesia

Klik BR_2018_07_21 Mencari Akar Kebencian Orang Indonesia-c

Selagi kita masih terjebak pada angan-angan tentang yang murni, asli, atau suci, kita akan bisa terus jatuh pada kebencian.

“Wajar saja, selama ada ketimpangan, orang berhak marah. Saat ada ketimpangan, orang butuh jalur atau wadah untuk mengungkapkannya. Kalau di suatu negara, jalur atau wadah itu tidak ada, orang akan mencari caranya sendiri. Bisa dengan ujaran kebencian, hoax, atau bahkan bom bunuh diri,” katanya.

Kurniawan, Sigit (2018) “Mencari Akar Kebencian Orang Indonesia”, Scriboers, 21/07/2018, https://scriboers.com/2018/07/21/mencari-akar-kebencian-orang-indonesia/

kata kunci: hoax, Islam, kolonialisme, komunis, LGBT, media, modernitas

Kassandra, Siapa Yang Punya?

Klik 1994_12_11_SP Kassandra, Siapa Yang Punya-c

Di zaman ini kita dilatih bertubi-tubi sejak kecil untuk percaya, bekerja keras adalah mulia. Juga berhemat. Manusia jadi homo ekonomikus. Beristirahat, bergembira, berbelanja, dan menikmati hiburan dinyatakan sebagai musuh.

Ajaran itu tak sepenuhnya salah. Tapi bila ajaran itu dijadikan dogma sebagai kebenaran yang mutlak, maka hakikat kehidupan yang penuh nuansa menjadi terbelah dan penuh gelisah. Hiburan dianggap sebagai virus atau candu. Sedang bekerja sebagai kebajikan.

Heryanto, Ariel (1994) “Kassandra, Siapa Yang Punya?”, Surabaya Post, 11/12/1994: 8.

kata kunci: ibu rumah tangga, kenikmatan, kerja, pembantu rumah tangga, telenovela