Orang-orang Hebat

Bukan hanya pemain bulu tangkis berbakat kelas dunia yang keluar dari Indonesia dan tersebar ke mancanegara. Ribuan profesional dari Indonesia juga bekerja sebagai tenaga ahli di berbagai kawasan dunia. Jika Indonesia kurang hebat di pentas dunia dalam berbagai bidang, penyebabnya bukan langkanya orang Indonesia yang hebat dan berkelas dunia.

Heryanto, Ariel (2021) “Orang-orang Hebat”, Kompas, 31/07/2021, https://www.kompas.id/baca/opini/2021/09/04/orang-orang-hebat/

kata kunci: global, individu, lembaga, modal, negara, pendidikan, TKI

Krisis

Krisis membuat gamblang yang sebelumnya samar atau sengaja diabaikan masyarakat. Krisis juga membuka peluang bagi perubahan. Namun, tak ada jaminan perubahan itu ke arah yang lebih baik. Tidak ada jaminan kita menjadi lebih bijak.

Heryanto, Ariel (2021) “Krisis”, Kompas, 31/07/2021, https://www.kompas.id/baca/opini/2021/07/31/krisis-4

kata kunci: covid-19, global, lockdown, nasionalisme, pandemi, populisme

Gila Hormat

Di berbagai negara, hukum pencemaran memang berfungsi mengimbangi kebebasan berpendapat. Namun, ada dua perbedaan besar dari usulan Pemerintah RI.

Beda pertama, di banyak negara lain pencemaran diatur hukum perdata, bukan pidana. Misalnya di Australia, polisi tak ikut campur kasus pencemaran. Orang tak boleh ditahan dan dipenjara karena kasus pencemaran.

Beda kedua, terbalik dari RI, hukum mereka membatasi peluang bagi lembaga negara dan perusahaan besar mengadu kasus pencemaran.

Heryanto, Ariel (2021) “Gila Hormat”, Kompas, 26/06/2021, https://www.kompas.id/baca/opini/2021/06/26/gila-hormat-2

kata kunci: haatzaai artikelen, hukum, kolonial, lèse-majesté, penghinaan, pidana, UU ITE

Aib

Setiap bangsa menanggung aib kekejaman leluhurnya. Tapi umumnya yang diketahui hanya aib bangsa lain. Bukannya mereka menyangkal atau lupa. Mereka sama sekali tidak tahu-menahu. Mereka hanya diajar sebagai bangsa yang menjadi korban kekejaman bangsa lain.

Heryanto, Ariel (2021) “Aib”, Kompas, 22/05/2021, https://www.kompas.id/baca/opini/2021/05/22/aib-3/

kata kunci: bangsa, De Oost, film, Hindia Belanda, Indo, kolonial, teroris

Indo

Komunitas peranakan Tionghoa, Arab, dan India di Tanah Air ataupun negara tetangga giat merayakan warisan leluhurnya. Komunitas keturunan Indo dari Indonesia yang kini hidup di Eropa, Amerika, dan Australia giat merayakan ”tempo doeloe” kakek-neneknya. Generasi muda keturunan Indo di Tanah Air sendiri mungkin kurang kenal atau kurang peduli sejarah dan zaman emas leluhur mereka.

Heryanto, Ariel (2021) “Indo”, Kompas, 10/04/2021, https://www.kompas.id/baca/opini/2021/04/10/indo-2/

kata kunci: Belanda, Eropa, Indisch, kolonial, nasional, rasisme, Tionghoa

Timpang

Kebencian yang mewabah adalah reaksi wajar terhadap dampak ketimpangan sosial. Ibarat batuk, bersin, atau mual yang berkisah tentang tubuh sakit. Sensor media sosial dan hukuman terhadap pelaku ujar kebencian ibarat membungkam mulut yang batuk. Bukan mengobati penyakit yang menimbulkan batuk.

Heryanto, Ariel (2021) “Timpang”, Kompas, 6/03/2021, https://www.kompas.id/baca/opini/2021/03/06/timpang-4/

kata kunci: hoaks, media, Microsoft, negara, perundungan, UU ITE

Polisi Bahasa

Merosotnya kreativitas, kemerdekaan, dan kemandirian berbahasa berdampak merosotnya toleransi pada kemajemukan, variasi, dan inkonsistensi. Bukan hanya dalam berbahasa. Juga pada gaya-hidup, berpacaran atau beribadah.

Heryanto, Ariel (2021) “Polisi Bahasa”, Kompas, 30/01/2021, https://www.kompas.id/baca/opini/2021/01/30/polisi-bahasa/

kata kunci: ahli, baku, elite, majemuk, toleransi

Media

Sensor negara terhadap akses media sosial bukan solusi. Menghukum netizen penyebar hoaks atau ujaran kebencian tidak mengatasi masalah. Semua kebijakan represif itu hanya reaksi terhadap gejala di permukaan.

Akar masalah menuntut strategi konstruktif berjangka panjang. Yakni mengatasi kesenjangan sosial dan membangun sistem informasi yang andal. Ini proyek bersama negara, jurnalis, dan khalayak umum.

Heryanto, Ariel (2020), “Media”, Kompas 26/12/2020, https://www.kompas.id/baca/opini/2020/12/26/media-3/

kata kunci: facebook, informasi, krisis, pers, teknologi

Bukan Katak

Masalahnya, nasionalisme punya watak bawaan bertolak-belakang. Ia bisa membangkitkan solidaritas, kesetaraan dan kedaulatan. Ia juga membina kebencian, fanatisme dan diskriminasi. Nasionalisme melahirkan pahlawan. Juga menciptakan aneka musuh.

Seperti agama, nasionalisme merupakan lahan subur bagi tumbuhnya fanatisme politik identitas. Dengan mengatas-namakan agama atau kepentingan nasional, seorang tokoh karismatik mampu membakar emosi massa untuk mengobrak-abrik tata-sosial.

Heryanto, Ariel (2020) “Bukan Katak”, Kompas, 21/11/2020, https://www.kompas.id/baca/opini/2020/11/21/bukan-katak/

kata kunci: agama, nasionalisme, Perang Dingin, Trump, white supremacy

Pekerja

Hak-hak kerja yang paling mendasar, seperti gaji dan cuti, membantu pekerja bertahan hidup dan bekerja untuk perusahaan. Semua itu akan memperkaya pengusaha kaya. Tidak membantu pekerja keluar dari lingkaran kerja rutin turun-temurun.

Yang memberdayakan pekerja agar bisa mendaki tangga strata sosial adalah kesempatan meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan daya-tawar secara berkelanjutan.

Heryanto, Ariel (2020) “Pekerja”, Kompas, 17/10/2020, https://www.kompas.id/baca/opini/2020/10/17/pekerja-2/

kata kunci: hukum, kekerasan, negara, publik, Undang-Undang Cipta Kerja