Memberi Makna Sumpah Pemuda 1928

1989_10_27_SP Memberi Makna Sumpah Pemuda 1928-c

Sumpah Pemuda 1928 terjadi bukan karena Indonesia ada. Sebaliknyalah. Sumpah itu diikrarkan dalam upaya MENGadaKAN Indonesia.

Heryanto, Ariel (1989) “Memberi Makna Sumpah Pemuda 1928”, Suara Pembaruan, 27 Oktober 1989, hal. VI, XI.

kata kunci: bangsa, Benedict Anderson, kekinian, pemaknaan, penjajah, sejarah, Suara Pembaruan, Sumpah Pemuda

Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara? (1/2)

1990_08_24_JP Globalisasi_Pudarnya Bangsa Negara 01-c

Heryanto, Ariel (1990) “Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (1/2), Jawa Pos, 24 Agustus 1990, hal. IV.

kata kunci: budaya, bangsa, globalisasi, Jawa Pos, nasional, negara

Tulisan berkait:
Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (2/2)
“Kebudayaan Nasional: Ada atau Mengada-ada?”

Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara? (2/2)

1990_08_25_JP Globalisasi_Pudarnya Bangsa Negara 02-c

Heryanto, Ariel (1990) “Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (2/2), Jawa Pos, 25 Agustus 1990, hal. IV.

kata kunci: bangsa, globalisasi, Jawa Pos, Mangunwijaya, modernitas, pasca-Indonesia, negara

Tulisan berkait:
“Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (1/2)
“Kebudayaan Nasional: Ada atau Mengada-ada?”

Kebudayaan Nasional: Ada atau Mengada-ada?

Dalam negara yang lemah legitimasinya, nasion dijadikan senjata untuk mengukuhkan legitimasi negara. Warga bangsa yang mempertanyakan perilaku atau kebijakan negara dituduh tidak setia kepada bangsa.

Heryanto, Ariel (1990) “Kebudayaan Nasional: Ada atau Mengada-ada?”, Jawa Pos, 30 Juli 1990, hal. IV, VI.

kata kunci: Benedict Anderson, Geoffrey Benjamin, jamak, Jawa Pos, kebudayaan majemuk, nasional

Tulisan berkait:
“Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (1/2)
“Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (2/2)