1990_01_27_SP Ideologi dan Estetika-c
Heryanto, Ariel (1990) “Ideologi dan Estetika”, Suara Pembaruan, 27 Januari 1990, hal. VI.
kata kunci: Bambang Widoyo, ideologi, Jawa, estetika, Suara Pembaruan, Teater Gapit, Tuk
1990_01_27_SP Ideologi dan Estetika-c
Heryanto, Ariel (1990) “Ideologi dan Estetika”, Suara Pembaruan, 27 Januari 1990, hal. VI.
kata kunci: Bambang Widoyo, ideologi, Jawa, estetika, Suara Pembaruan, Teater Gapit, Tuk
1990_01_22_SP Bekerja Di Desa Tukang Becak-c
Heryanto, Ariel (1990) “Bekerja Di Desa Tukang Becak”, Suara Pembaruan, 22 Januari 1990, hal. V.
kata kunci: becak, Freire, Moelyono, Suara Pembaruan, Tegalrejo
1989_10_27_SP Memberi Makna Sumpah Pemuda 1928-c
Sumpah Pemuda 1928 terjadi bukan karena Indonesia ada. Sebaliknyalah. Sumpah itu diikrarkan dalam upaya MENGadaKAN Indonesia.
Heryanto, Ariel (1989) “Memberi Makna Sumpah Pemuda 1928”, Suara Pembaruan, 27 Oktober 1989, hal. VI, XI.
kata kunci: bangsa, Benedict Anderson, kekinian, pemaknaan, penjajah, sejarah, Suara Pembaruan, Sumpah Pemuda
1989_09_06_SP Kontradiksi dan Sensor Sosial-c
Heryanto, Ariel (1989) “Kontradiksi dan Sensor Sosial”, Suara Pembaruan, 6 September 1989, hal. VI, XII.
kata kunci: dualitas, film, kontradiksi, Pembalasan Ratu Laut Selatan, sensor, Suara Pembaruan
1989_06_10_SP Kebrutalan di Beijing-c
Heryanto, Ariel (1989) “Kebrutalan di Beijing”, Suara Pembaruan, 10 Juni 1989, hal. VI.
kata kunci: Beijing, internasional, solidaritas, Suara Pembaruan, Tianan Mien
1990_08_24_JP Globalisasi_Pudarnya Bangsa Negara 01-c
Heryanto, Ariel (1990) “Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (1/2), Jawa Pos, 24 Agustus 1990, hal. IV.
kata kunci: budaya, bangsa, globalisasi, Jawa Pos, nasional, negara
Tulisan berkait:
“Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (2/2)
“Kebudayaan Nasional: Ada atau Mengada-ada?”
1990_08_25_JP Globalisasi_Pudarnya Bangsa Negara 02-c
Heryanto, Ariel (1990) “Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (2/2), Jawa Pos, 25 Agustus 1990, hal. IV.
kata kunci: bangsa, globalisasi, Jawa Pos, Mangunwijaya, modernitas, pasca-Indonesia, negara
Tulisan berkait:
“Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (1/2)
“Kebudayaan Nasional: Ada atau Mengada-ada?”
Dalam negara yang lemah legitimasinya, nasion dijadikan senjata untuk mengukuhkan legitimasi negara. Warga bangsa yang mempertanyakan perilaku atau kebijakan negara dituduh tidak setia kepada bangsa.
Heryanto, Ariel (1990) “Kebudayaan Nasional: Ada atau Mengada-ada?”, Jawa Pos, 30 Juli 1990, hal. IV, VI.
kata kunci: Benedict Anderson, Geoffrey Benjamin, jamak, Jawa Pos, kebudayaan majemuk, nasional
Tulisan berkait:
“Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (1/2)
“Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (2/2)
1989_01_08_K ‘Aib’ Putu Wijaya-c
Heryanto, Ariel (1989) “‘Aib’ Putu Wijaya”, Kompas, 8 Januari 1989, hal. X.
kata kunci: Aib, Harry Roesli, ideologi, Kompas, Putu Wijaya, realisme, stabilitas dan keamanan, teater Indonesia
1988_04_21_K Wanita Korban Pembangunan-c
Heryanto, Ariel (1988) “Wanita Korban Pembangunan”, Kompas, 21 April 1988, hal. IV, V.
kata kunci: Ivan Illich, feminin, gender, Kompas, maskulin, pembangunan, wanita