Di situ teks dianggap dapat mewakili langsung suatu realita. Atau bahkan bagian dari realita itu sendiri. Konon di banyak negeri komunis ada kewajiban bagi rakyat untuk memasang potret wajah ketua partai di gedung-gedung pertemuan. Ini dianggap sama dengan kesetiaan atau pemujaan kepada sang pemimpin besar.
Heryanto, Ariel (1993) “Sampul Kaset Palu-Arit”, Jakarta-Jakarta, No. 383, 6-12 November 1993, hal. 26, 27.
kata kunci: Atiek CB, hantu, Idrus, Jakarta-Jakarta, kaset, Komaruddin Hidayat, Palu-Arit
