Indo

Komunitas peranakan Tionghoa, Arab, dan India di Tanah Air ataupun negara tetangga giat merayakan warisan leluhurnya. Komunitas keturunan Indo dari Indonesia yang kini hidup di Eropa, Amerika, dan Australia giat merayakan ”tempo doeloe” kakek-neneknya. Generasi muda keturunan Indo di Tanah Air sendiri mungkin kurang kenal atau kurang peduli sejarah dan zaman emas leluhur mereka.

Heryanto, Ariel (2021) “Indo”, Kompas, 10/04/2021, https://www.kompas.id/baca/opini/2021/04/10/indo-2/

kata kunci: Belanda, Eropa, Indisch, kolonial, nasional, rasisme, Tionghoa

Timpang

Kebencian yang mewabah adalah reaksi wajar terhadap dampak ketimpangan sosial. Ibarat batuk, bersin, atau mual yang berkisah tentang tubuh sakit. Sensor media sosial dan hukuman terhadap pelaku ujar kebencian ibarat membungkam mulut yang batuk. Bukan mengobati penyakit yang menimbulkan batuk.

Heryanto, Ariel (2021) “Timpang”, Kompas, 6/03/2021, https://www.kompas.id/baca/opini/2021/03/06/timpang-4/

kata kunci: hoaks, media, Microsoft, negara, perundungan, UU ITE

Polisi Bahasa

Merosotnya kreativitas, kemerdekaan, dan kemandirian berbahasa berdampak merosotnya toleransi pada kemajemukan, variasi, dan inkonsistensi. Bukan hanya dalam berbahasa. Juga pada gaya-hidup, berpacaran atau beribadah.

Heryanto, Ariel (2021) “Polisi Bahasa”, Kompas, 30/01/2021, https://www.kompas.id/baca/opini/2021/01/30/polisi-bahasa/

kata kunci: ahli, baku, elite, majemuk, toleransi

Perjuangan Mereka akan Berimbas pada Lapisan Bawah

Kelas menengah sangat plural. Tidak bisa dikatakan semua lapisan menengah itu baik atau jelek. Ada kalanya sebagian dari mereka menjadi opportunistik. Sebagian lain sangat radikal. Ketika keadaan mendesaknya ke bawah, perilaku kelas menengah akan menjadi radikal. Sebaliknya, ketika melambung ke atas, ia akan cenderung opportunistik.

Syaify, Ahmad (1995), “Ariel Heryanto: Perjuangan Mereka akan Berimbas pada Lapisan Bawah”, Tekad (suplemen Republika), 30/01/1995, hal 8.

kata kunci: demokratisasi, kapitalis, kelas menengah, kepentingan, kontradiksi, Marx, Weber

Sastra Punya Peran Politik yang Subversif

Jadi di mana fungsi politik sastra? Dia memberikan alternatif untuk memahami kebenaran yang beragam, yang ditindas oleh ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan hanya dikenal satu jenis kebenaran, yaitu yang bisa dibuktikan secara ilrniah. Padahal di dalam alam manusia, kebenaran itu bukan hanya kebenaran ilmiah.

Setiyoko, Edy (1995) “Dr. Ariel Heryanto: Sastra Punya Peran Politik yang Subversif”, Tekad (Republika), 16/01/1995.

kata kunci: fiksi, Lekra, pluralitas, realisme sosialis, sastra kontekstual, universal,

Media

Sensor negara terhadap akses media sosial bukan solusi. Menghukum netizen penyebar hoaks atau ujaran kebencian tidak mengatasi masalah. Semua kebijakan represif itu hanya reaksi terhadap gejala di permukaan.

Akar masalah menuntut strategi konstruktif berjangka panjang. Yakni mengatasi kesenjangan sosial dan membangun sistem informasi yang andal. Ini proyek bersama negara, jurnalis, dan khalayak umum.

Heryanto, Ariel (2020), “Media”, Kompas 26/12/2020, https://www.kompas.id/baca/opini/2020/12/26/media-3/

kata kunci: facebook, informasi, krisis, pers, teknologi

Ariel Heryanto Diangkat Jadi Anggota Akademi

Akademi untuk Bidang Ilmu Humaniora ini beranggotakan sekitar 600 sarjana paling senior di Austalia, dan keanggotaannya tidak dapat dilamar atau didaftar.

Anggota Akademi hanya diusulkan dan diangkat oleh akademi lewat sebuah proses seleksi ketat dan berlapis yang melibatkan ratusan anggotanya selama setahun.

Wijaya, Sastra (2017) “Ariel Heryanto Diangkat Jadi Anggota Akademi Bergengsi di Australia”, ABC Indonesia, 24/11/2017,
https://www.abc.net.au/indonesian/2017-11-24/ariel-heryanto-diterima-jadi-angota-akademi-bergengsi-di-austra/9188638

Diterbitkan-ulang di https://www.tempo.co/abc/414/ariel-heryanto-diangkat-jadi-anggota-akademi-ilmuwan-di-australia

kata kunci: Australian Academy of the Humanities, Herb Feith, studi pasca kolonial, Universitas Satya Wacana

Bukan Katak

Masalahnya, nasionalisme punya watak bawaan bertolak-belakang. Ia bisa membangkitkan solidaritas, kesetaraan dan kedaulatan. Ia juga membina kebencian, fanatisme dan diskriminasi. Nasionalisme melahirkan pahlawan. Juga menciptakan aneka musuh.

Seperti agama, nasionalisme merupakan lahan subur bagi tumbuhnya fanatisme politik identitas. Dengan mengatas-namakan agama atau kepentingan nasional, seorang tokoh karismatik mampu membakar emosi massa untuk mengobrak-abrik tata-sosial.

Heryanto, Ariel (2020) “Bukan Katak”, Kompas, 21/11/2020, https://www.kompas.id/baca/opini/2020/11/21/bukan-katak/

kata kunci: agama, nasionalisme, Perang Dingin, Trump, white supremacy

Pekerja

Hak-hak kerja yang paling mendasar, seperti gaji dan cuti, membantu pekerja bertahan hidup dan bekerja untuk perusahaan. Semua itu akan memperkaya pengusaha kaya. Tidak membantu pekerja keluar dari lingkaran kerja rutin turun-temurun.

Yang memberdayakan pekerja agar bisa mendaki tangga strata sosial adalah kesempatan meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan daya-tawar secara berkelanjutan.

Heryanto, Ariel (2020) “Pekerja”, Kompas, 17/10/2020, https://www.kompas.id/baca/opini/2020/10/17/pekerja-2/

kata kunci: hukum, kekerasan, negara, publik, Undang-Undang Cipta Kerja