Tentang arielheryanto

Born in Indonesia. Worked in Indonesia (1980-1995), Singapore (1996-1999), and Australia (2000-present).

Dari Otak, Omong, hingga Otot

Klik 2019_09_25_kumparan Dari Otak, Omong, hingga Otot-c

Di Jawa, kasta dan nasib para aktivis mahasiswa Orde Baru berbeda jauh dari gerakan kaum muda dan mahasiswa segenerasi yang berkait atau dikait-kaitkan dengan aliran radikal Islam, komunisme, atau separatisme di Maluku, Papua, Timor Timur, dan Aceh.

Gerakan mahasiswa di Jawa masa kini pasti tidak gentar pada pasukan keamanan negara. Apalagi bila pasukan ini tidak segalak yang di Papua. Pertanyaannya, mampukah mereka melawan musuh yang lebih samar dan sulit dilawan, yakni rayuan mitos sebagai pahlawan yang gagah berani, sebelum kelak lulus kuliah lalu ditarik masuk dalam kawasan kekuasaan yang hari ini mereka lawan.

Heryanto, Ariel (2019) “Dari Otak, Omong, hingga Otot”, kumparan, 25/09/2019, https://t.co/bTUmzivqLF.

kata kunci: bujukan, gerakan, Jawa, kekerasan, mahasiswa, Orde Baru, Papua, Reformasi

Ketegangan di Papua dan hiper-nasionalisme di Indonesia

Klik 2019_09_13_C Ketegangan di Papua dan hiper-nasionalisme di Indonesia-c

Hiper-nasionalisme yang kini merebak merupakan pengkhianatan terhadap gagasan kebangsaan modern dan kosmopolitan yang dulu mengilhami tumbuhnya gerakan nasionalis Indonesia seabad lalu.

Di masa itu nasionalisme tidak terlepas dari internasionalisme. Juga tidak terlepas dari gagasan tentang kesetaraan dan martabat manusia secara global, sebagaimana telah diukir dan dimuliakan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar di negeri ini.

Heryanto, Ariel (2002) “Ketegangan di Papua dan hiper-nasionalisme di Indonesia”, The Conversation, 13/09/2019, https://t.co/2LVIKQGnVO.

kata kunci: fasisme, kolonialisme, lagu nasional, NKRI, Orde Baru, pribumi,

Tensions in Papua and hyper-nationalism in Indonesia

Click 2019_09_05 Conversation Tensions in Papua and hyper-nationalism in Indonesia-c

The prevailing hyper-nationalism betrays the modern and cosmopolitan idea of nationhood, which inspired the Indonesian nationalist movement a century ago.

It was a nationalism that is inseparable from internationalism, and the idea of human equality and dignity, as already enshrined in the preamble of the Indonesian constitution.

Heryanto, Ariel (2002) “Tensions in Papua and hyper-nationalism in Indonesia”, The Conversation, 5/09/2019, <https://theconversation.com/tensions-in-papua-and-hyper-nationalism-in-indonesia-122767&gt;.

keywords: anthem, colonial, fascism, native, New Order, NKRI,

Heroism and the Pleasure and Pain of Mistranslation; The Case of The Act of Killing

Click Heroism and the Pleasure and Pain of Mistranslation-c

The notion of hero versus villain is understood differently across time, nations, and even within a single nation-state. Yet, it is still common in many of these instances that those who disagree on the issue can nonetheless exchange views and engage in some form of debate. This chapter examines a radically different case, where the understanding of heroes and villains in one discursive practice is incommensurate and inverted in another.

Heryanto, Ariel (2019) “Heroism and the Pleasure and Pain of Mistranslation; The Case of The Act of Killing”, in B. Korte, S. Wendt and N. Falkenhayner (eds), Heroism as a Global Phenomenon in Contemporary Culture, Routledge: New York, pp. 167-188.

keywords: Cold War, Communist, Discourse, Indonesia, Nazism, New Order

Mencari Akar Kebencian Orang Indonesia

Klik BR_2018_07_21 Mencari Akar Kebencian Orang Indonesia-c

Selagi kita masih terjebak pada angan-angan tentang yang murni, asli, atau suci, kita akan bisa terus jatuh pada kebencian.

“Wajar saja, selama ada ketimpangan, orang berhak marah. Saat ada ketimpangan, orang butuh jalur atau wadah untuk mengungkapkannya. Kalau di suatu negara, jalur atau wadah itu tidak ada, orang akan mencari caranya sendiri. Bisa dengan ujaran kebencian, hoax, atau bahkan bom bunuh diri,” katanya.

Kurniawan, Sigit (2018) “Mencari Akar Kebencian Orang Indonesia”, Scriboers, 21/07/2018, https://scriboers.com/2018/07/21/mencari-akar-kebencian-orang-indonesia/

kata kunci: hoax, Islam, kolonialisme, komunis, LGBT, media, modernitas

Kassandra, Siapa Yang Punya?

Klik 1994_12_11_SP Kassandra, Siapa Yang Punya-c

Di zaman ini kita dilatih bertubi-tubi sejak kecil untuk percaya, bekerja keras adalah mulia. Juga berhemat. Manusia jadi homo ekonomikus. Beristirahat, bergembira, berbelanja, dan menikmati hiburan dinyatakan sebagai musuh.

Ajaran itu tak sepenuhnya salah. Tapi bila ajaran itu dijadikan dogma sebagai kebenaran yang mutlak, maka hakikat kehidupan yang penuh nuansa menjadi terbelah dan penuh gelisah. Hiburan dianggap sebagai virus atau candu. Sedang bekerja sebagai kebajikan.

Heryanto, Ariel (1994) “Kassandra, Siapa Yang Punya?”, Surabaya Post, 11/12/1994: 8.

kata kunci: ibu rumah tangga, kenikmatan, kerja, pembantu rumah tangga, telenovela

Yang Terabaikan Dari Rekonsiliasi 2019

Klik 2019_07_17_Tirto Yang Terabaikan Dari Rekonsiliasi 2019-c

Indonesia merupakan proyek untuk masa depan bersama milik seluruh bangsa yang luar biasa majemuknya. Bukan warisan masa lampau yang sudah jadi atau selesai.

Perdebatan tentang ke-Indonesia-an yang dicita-citakan bersama itu belum pernah selesai. Ia menjadi proses yang terus hidup dan menampung kemajemukan Indonesia.

Heryanto, Ariel (2019) “Yang Terabaikan Dari Rekonsiliasi 2019”, Tirto, 17/07/2019, https://tirto.id/eelY

kata kunci: Arabisasi, Islami kemajemukan, Nusantara, Pilpres, toleransi

Kiblat dan Beban Ideologis Ilmu Sosial

Klik 2006_Kiblat dan Beban Ideologis Ilmu Sosial Indonesia-c

Masalahnya di sini, bukan saja strukturaIis versi marxisme di Indonesia 1980-an tidak pernah dipaksa atau diberi kesempatan untuk berkembang lebih matang lewat serangkaian perdebatan yang intens. Persoalannya, baik strukturalisme dalam lingkup yang lebih luas – di luar marxisme – mau pun kulturalisme tidak cukup dipahami dan dibahas cukup mendalam di masa itu.

Heryanto, Ariel (2006) “Kiblat dan Beban Ideologis Ilmu Sosial”, dalam V Hadiz dan D Dhakidae (eds), Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia, Jakarta: Equinox, hal.63-97.

kata kunci: ideologi, liberalisme, Orde Baru, Pembangunan, pendekatan budaya, pengetahuan, strukturalisme

klik di sini untuk versi bahas Inggrisnya

Menjadi Jawa & Muslim dalam Novel Mataram Karya Anthony Reid

Klik 2019_02_07 Menjadi Jawa &amp; Muslim dalam Novel Mataram Karya Anthony Reid-c

Bagi saya, banyak yang menarik dari kisah tentang Jawa 400 tahun lalu yang dituturkan dalam Mataram. Dalam kesempatan di sini, ada dua yang ingin saya bahas.

Yang pertama, apa yang disebut “globalisasi”. Walau ramai dibahas di awal abad 21, globalisasi adalah kenyataan sehari-hari di Jawa 400 tahun lalu. Kedua, ketegangan antara sinkretisme Islam-Jawa versus Islam fundamentalis yang melanda perpecahan elite kerajaan maupun kehidupan rakyat sehari-hari, bahkan dalam satu keluarga.

Heryanto, Ariel (2019) “Menjadi Jawa & Muslim dalam Novel Mataram Karya Anthony Reid”, Tirto, 7/02/2019, https://tirto.id/menjadi-jawa-amp-muslim-dalam-novel-mataram-karya-anthony-reid-dfTj

kata kunci: fundamentalis, globalisasi, Pramoedya Ananta Toer, sejarah, sinkretisme

Setengah Abad Golput

Klik 2019_02_10_T Setengah Abad Golput-c

Maka pertanyaan kunci kita hari ini: apakah atau sejauh mana elite politik Indonesia pasca-Orde Baru sudah berubah? Apakah dan sejauh mana kepentingan masyarakat Indonesia yang majemuk ini terwakili dalam pemilu? Masyarakat bebas menentukan kepada siapa mandat kekuasaan negara dipinjamkan selama lima tahun ke depan? Apakah golput sudah tak lagi punya alasan untuk hadir?

Heryanto, Ariel (2019) “Setengah Abad Golput”, Tempo, 10/02/2019: 38-19.

kata kunci: digital, elit, Golkar, kepercayaan, krisis, Orde Baru, Reformasi