Mencari Akar Kebencian Orang Indonesia

Klik BR_2018_07_21 Mencari Akar Kebencian Orang Indonesia-c

Selagi kita masih terjebak pada angan-angan tentang yang murni, asli, atau suci, kita akan bisa terus jatuh pada kebencian.

“Wajar saja, selama ada ketimpangan, orang berhak marah. Saat ada ketimpangan, orang butuh jalur atau wadah untuk mengungkapkannya. Kalau di suatu negara, jalur atau wadah itu tidak ada, orang akan mencari caranya sendiri. Bisa dengan ujaran kebencian, hoax, atau bahkan bom bunuh diri,” katanya.

Kurniawan, Sigit (2018) “Mencari Akar Kebencian Orang Indonesia”, Scriboers, 21/07/2018, https://scriboers.com/2018/07/21/mencari-akar-kebencian-orang-indonesia/

kata kunci: hoax, Islam, kolonialisme, komunis, LGBT, media, modernitas

Kassandra, Siapa Yang Punya?

Klik 1994_12_11_SP Kassandra, Siapa Yang Punya-c

Di zaman ini kita dilatih bertubi-tubi sejak kecil untuk percaya, bekerja keras adalah mulia. Juga berhemat. Manusia jadi homo ekonomikus. Beristirahat, bergembira, berbelanja, dan menikmati hiburan dinyatakan sebagai musuh.

Ajaran itu tak sepenuhnya salah. Tapi bila ajaran itu dijadikan dogma sebagai kebenaran yang mutlak, maka hakikat kehidupan yang penuh nuansa menjadi terbelah dan penuh gelisah. Hiburan dianggap sebagai virus atau candu. Sedang bekerja sebagai kebajikan.

Heryanto, Ariel (1994) “Kassandra, Siapa Yang Punya?”, Surabaya Post, 11/12/1994: 8.

kata kunci: ibu rumah tangga, kenikmatan, kerja, pembantu rumah tangga, telenovela

Yang Terabaikan Dari Rekonsiliasi 2019

Klik 2019_07_17_Tirto Yang Terabaikan Dari Rekonsiliasi 2019-c

Indonesia merupakan proyek untuk masa depan bersama milik seluruh bangsa yang luar biasa majemuknya. Bukan warisan masa lampau yang sudah jadi atau selesai.

Perdebatan tentang ke-Indonesia-an yang dicita-citakan bersama itu belum pernah selesai. Ia menjadi proses yang terus hidup dan menampung kemajemukan Indonesia.

Heryanto, Ariel (2019) “Yang Terabaikan Dari Rekonsiliasi 2019”, Tirto, 17/07/2019, https://tirto.id/eelY

kata kunci: Arabisasi, Islami kemajemukan, Nusantara, Pilpres, toleransi