Kebudayaan Nasional: Ada atau Mengada-ada?

Dalam negara yang lemah legitimasinya, nasion dijadikan senjata untuk mengukuhkan legitimasi negara. Warga bangsa yang mempertanyakan perilaku atau kebijakan negara dituduh tidak setia kepada bangsa.

Heryanto, Ariel (1990) “Kebudayaan Nasional: Ada atau Mengada-ada?”, Jawa Pos, 30 Juli 1990, hal. IV, VI.

kata kunci: Benedict Anderson, Geoffrey Benjamin, jamak, Jawa Pos, kebudayaan majemuk, nasional

Tulisan berkait:
“Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (1/2)
“Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (2/2)

Seleksi Ketat Mengabsahkan Produk Sastra Indonesia

1988_04_28_SM Sastra dan Legitimasi Nasional 3-c

Heryanto, Ariel (1988) “Seleksi Ketat Mengabsahkan Produk Sastra Indonesia”, Suara Merdeka, 28 April 1988, hal. II.

kata kunci: Ajip Rosidi, Darmanto Jatman, Keith Foulcher, legitimasi, Linus Suryadi, nasion, sastra, Suara Merdeka

Lihat juga:
Memahami antara ‘Pusat’ dan ‘Daerah’
Kemenangan bagi ‘Warna Lokal’

Kemenangan bagi ‘Warna Lokal’

1988_04_27_SM Sastra dan Legitimasi Nasional

Heryanto, Ariel (1988) “Kemenangan bagi ‘Warna Lokal’”, Suara Merdeka, 27 April 1988, hal. II.

kata kunci: Ajip Rosidi, Darmanto Jatman, Faruk H T, Ikranegara, Jawanisasi, Linus Suryadi, Suara Merdeka, Veven Sp Wardhana, warna lokal

Lihat juga:
Memahami antara ‘Pusat’ dan ‘Daerah’
Seleksi Ketat Mengabsahkan Produk Sastra Indonesia

Memahami antara ‘Pusat’ dan ‘Daerah’

1988_04_26_SM Sastra dan Legitimasi Nasional 1-c

Heryanto, Ariel (1988) “Memahami antara ‘Pusat’ dan ‘Daerah’, Suara Merdeka, 26 April 1988, hal. II.

kata kunci: daerah, Darmanto Jatman, Jawanisasi, kosmopolitan, legitimasi, Linus Suryadi, pusat, Suara Merdeka, warna lokal, Yogya
Sambungan:
Kemenangan bagi ‘Warna Lokal’”
Seleksi Ketat Mengabsahkan Produk Sastra Indonesia