Kelas Menengah Kita yang Majemuk

Kita bertolak dari kerinduan dan komitmen pad a suatu “perubahan sosial” yang “struktural”, di mana “kelas” dianggap sebagai agen/lokasi yang strategis. Kita mencari pemahaman akan peluang dan hambatan yang ada di sekitar kita.

Heryanto, Ariel (1993) “Kelas Menengah Kita yang Majemuk”, Media Indonesia, 20 Februari 1993, hal. 4.

kata kunci: Erosentrisme, kelas menengah, majemuk, Marxian, Media Indonesia, moral, post –strukturalisme, post-modernisme, otonomi

Budaya Ber-Manifesto Pra-1965

Di Indonesia, hak berkisah tentang sejarah politik budaya 1960-an itu masih menjadi monopoli pihak manifestan. Kritik kecil-kecilan terhadap Manifes Kebudayaan atau pujian kecil-kecilan terhadap Lekra bisa muncul, tapi asal dan hanya bisa absah bila datang dari “kerelaan” suara seorang manifestan.

Heryanto, Ariel (1992) “Budaya Ber-Manifesto Pra-1965”, Jawa Pos, Rabu, 30 September 1992, hal. 10.

kata kunci: Goenawan Mohamad, Jawa Pos, Keith Foulcher, kondisi, LEKRA, Manikebu, militer, PKI

Kuasa dan Pengetahuan

Di Indonesia, banyak pejabat pemerintahan berusaha meyakinkan khalayak bahwa demokrasi di Indonesia jangan disamakan atau dibandingkan dengan demokrasi di negeri Barat, seperti di AS. Terlepas dari niat dan validitas permintaan itu, yang jelas ada asumsi bahwa AS adalah sebuah model ideal negeri demokratis.

Heryanto, Ariel (1992) “Kuasa dan Pengetahuan”, Bernas, 14 September 1992, hal. 4.

kata kunci: Barat, Bernas, kuasa, pengetahuan, sensor, Timur