Publikasi yang tidak tersedia disini

Arsipnya Hilang
Urutan dari yang paling mutakhir ke yang lebih tua. Sebagian dapat diakses dalam bentuk teks sederhana (plain text) di situs ini.

  1. Heryanto, Ariel (2008) “Media”, Kompas, 17/02/2008, klik di sini
  2. Heryanto, Ariel (1995) “Yang Asing, Yang Akrab”, Tiara, 141, 8 Oktober 1995, hal. 76-77.
  3. Heryanto, Ariel (1995) “Berbahasa Baik, Bergaul Baik”, Ummat, No.2, Th.I, 24 Juli 1995, hal. 79.
  4. Heryanto, Ariel (1980) “Pentas Teater Di Salatiga Bagaimana Tahun Ini?”, Minggu Ini, 29 Juni 1980, IV.
  5. Heryanto, Ariel (1985) “Masih Soal Sastra Kontekstual: Menjernihkan Masalah Yang Keruh”, Minggu Ini, 9 Juni 1985, VIII.
  6. Heryanto, Ariel (1980) “Sartre:Kehadiran Manusia Lain Adalah Neraka”, Suara Karya, 9 Juni 1980, VI.
  7. Heryanto, Ariel (1980) “Aktor Dan Suaranya”, Minggu Ini, 10 Pebruari 1980, IV.
  8. Heryanto, Ariel (1980) “Kembalinya Si Anak Hilang”, Kompas, 4 Pebruari 1980, IV.
  9. Heryanto, Ariel (1979) “Perihal Berteater di Daerah”, Memorandum, 5 Agustus 1979, XI.
  10. Heryanto, Ariel (1979) “Asahab Ajamer Ngalam: Bahasa Remaja Malang”, Suara Karya, 3 Agustus 1979.
  11. Heryanto, Ariel (1979) “Pesta Pentas ‘79”, Minggu Ini, 10 Juni 1979, IV.
  12. Heryanto, Ariel (1979) “Kyogen: Goro-Goro Jepang”, Minggu Ini, 22 April 1979, IV.
  13. Heryanto, Ariel (1979) “Ayun Bandul Sastra”, Surabaya Post, 4 April 1979, X.
  14. Heryanto, Ariel (1979) “Sas-sus Di seputar Seniman”, Minggu Ini, 25 Maret 1979, IV.
  15. Heryanto, Ariel (1979) “Teater Krisis”, Minggu Ini, 4 Pebruari 1979, IV.
  16. Heryanto, Ariel (1978) “Wajah Budaya Dalam Bahasa”, Surabaya Post, 19 Desember 1978, X.
  17. Heryanto, Ariel (1978) “Malin Kundang Ke Perguruan Egon”, Surabaya Post, 16 Desember 1978, X.
  18. Heryanto, Ariel (1978) “Benarkah Bahasa Indonesia Memerlukan ‘Anda’?”, Surabaya Post, 7 Oktober 1978
  19. Heryanto, Ariel (1978) “Debat ‘Sarjana Sinyo’”, Suara Merdeka, 30 September 1978, p. VIII.
  20. Heryanto, Ariel (1978) “Pesta Pentas ‘78; Teater Kampus Mau Apa?”, Suara Merdeka, 8 Juli 1978, VIII.
  21. Heryanto, Ariel (1978) “Teater Di Kampus”, Surabaya Post, 10 Mei 1978, X.
  22. Heryanto, Ariel (1978) “Kelirukah Orangtua Bila Kecewa Sang Putra Masuk Sosbud”, Sinar Harapan, 8 Pebruari 1978, XV.
  23. Heryanto, Ariel (1978) “Sastrawan Jadi Guru Sastra Atau Guru Sastra Jadi Sastrawan”, Suara Merdeka, 14 Januari 1978, p. VIII.
  24. Heryanto, Ariel (1978) “Teater Kampus & Aduh”, Salemba, 5 Oktober 1977, No.41/Th.II.

=======================

(2) Karya Terjemahan

9-12 Juli 1980 : Yayasan Teater Nasional mementaskan Perangkap Tikus, terjemahan Ariel Heryanto dari The Mouse Trap karya Agatha Christie, di Bali Room Hotel Indonesia, sutradara Galeb Husin, pemain Rahayu Efendi, Deddy Mizwar, Yuanita Pranoto.

10-11 April 1992: “Nirtata Dunia Baru”, Bernas, 10-11 April 1992 terjemahan Ariel Heryanto dari “New World Disorder”, ceramah Ben Anderson yang dipublikasikan 24 Hour, special supplement, February 1992, pp. 41-46.

Jangan Menganggap Masyarakat Tong Kosong

WWR 1995_11_12_MEDIA INDONESIA Jangan Menganggap Masyarakat Tong Kosong-c

“Kondisi masyarakat di tahun 1995 ini jauh berbeda dengan tahun 1970 atau 1980-an. Pertama, dapat kita lihat reaksi orang. Kebanyakan orang tak percaya lagi akan bahaya komunisme. Kedua, orang justru marah dan menantang. ‘Tunjukkan! Kalau tidak benar, saya gugat kamu.’ Coba Anda lihat di tahun 1970-an. Mana ada orang yang berani berkata begitu. Yang ketiga, orang menjadi tak peduli. Ini yang menurut saya menarik.”

“Jangan Menganggap Masyarakat Tong Kosong”, wawancara, Media Indonesia, 12/11/1995: 8.

kata kunci: hak berserikat, PKI, OTB, UKSW, ormas

Sastra Indonesia sedang Dilanda Kebingungan

WWR 1995_08_27_REPUBLIKA Sastra Indonesia Bingung-c

“KaIau kita bayangkan sastra itu universaI, saya anggap itu tidak ada. Jadi, yang namanya drama, novel, puisi, cerber, cerbung, itu tidak ada. lni merupakan produk peradaban masyarakat modern. Yang bisa dianggap agak universal adalah kenyataan bahwa manusia itu tidak pernah lepas dari kebutuhan kenikmatan untuk mendongeng dan mendengar dongeng.”

“Sastra Indonesia sedang Dilanda Kebingungan”, wawancara Edy Setiyoko, Republika, 27/08/1995: 12.

kata kunci: digital, dongeng, industri, kenikmatan, media, sastra, video

Pemerkosa Di-TV-kan?

Klik WWR 1994_12_18_TIARA Pemerkosa Di-TV-kan-c

“Ada dua hal yang kelihatannya bertentangan tapi saling menguatkan: represi seksual dan komersialisasi seks. Represi seksual tidak saja membuat seks menjadi luhur dan keramat. Dalam gelombang kapitalisme, represi itu membuat seks menjadi barang langka. Kelangkaan merupakan prasyarat terbentuknya nilai komoditas dan berlakunya hukum penawaran/ permintaan.”

“Pemerkosa Di-TV-kan?”, wawancara JJ Waskito, Tiara 120 (18/12) 1994: 10-11.

kata kunci: hukum, kelas sosial, komersialisasi, pemerkosa, represi, seksualitas, televisi