Misteri Sosok Minke dalam Bumi Manusia

WWR_2018_05_27_detik Misteri Sosok Minke dalam Bumi Manusia-c

Dariyanto, Erwin (2018) “Misteri Sosok Minke dalam Bumi Manusia”, detikNews, 27/05/2018, https://news.detik.com/berita/d-4040498/misteri-sosok-minke-dalam-bumi-manusia

kata kunci: Hanung Bramantyo, Orde Baru, Pramoedya Ananta Toer, Pulau Buru

Di Asia, Indonesia Kalah Berpengaruh Dibanding Singapura dan Malaysia

WWR_2018 Di Asia, Indonesia Kalah Berpengaruh Dibanding Singapura dan Malaysia-c

Kesan saya, secara umum para politikus Indonesia dan masyarakat pada umumnya sejak tahun 1970-an sibuk dengan masalah-masalah dalam negeri . . . Jadi mereka kurang berminat menjadi pemain besar dunia. Tidak seperti zaman Bung Karno yang mengguncang-guncang dunia sejak proklamasi 1945

Wijaya, Sastra (2018) “Di Asia, Indonesia Kalah Berpengaruh Dibanding Singapura dan Malaysia”, ABC News, 10/05/2018, http://www.abc.net.au/indonesian/2018-05-10/pengaruh-indonesia-di-asia-dibawah-singapura-dan-malaysia/9747332

kata kunci: Asia Power Index, Lowy Institute

FILM INDONESIA: Tak Sekadar Urusan Pasar

WWR 2018_02_03_KB-13 Tak Sekadar Urusan Pasar-c

“Yang perlu kita bicarakan bukan sekadar mutu satu atau dua film. Yang perlu kita bicarakan adalah sebuah ekosistem perfilman yang sehat, kreatif dan etis. Film dan penonton hanya merupakan sebagian unsur-unsurnya”

Sudarwan, Ilman A. (2018) “FILM INDONESIA: Tak Sekadar Urusan Pasar”, Bisnis Indonesia, 3/02/2018: 14.

kata kunci: Aprofi, ekosistem, layar, penonton, produksi

Sejarah Tidak Cuma Hitam-Putih

WWR_Mtv_2017_12_19 Sejarah Tidak Cuma Hitam-Putih-c

“Kita bisa memilih untuk tidak punya agama. Tetapi, kita tidak bisa memilih untuk tidak punya kebangsaan. Mengapa dan siapa yang memaksa? Sebuah proses dan kesepakatan yang sifatnya mendunia dan mutakhir.

Sayang, wawasan internasional dalam kebangsaan atau nasionalisme itu lemah atau lenyap di banyak kalangan di Indonesia.”

Adnan, Sobih AW (2017) “Sejarah Tidak Cuma Hitam-Putih”, metrotv, 19/12/2017, http://m.metrotvnews.com/oped/wawancara/ybDMYjpk-sejarah-tidak-cuma-hitam-putih

kata kunci: global, media, nasion, sejarah

“Ariel Heryanto: Seakan-Akan Sudah Ada ‘Rekonsiliasi’”

WWR_2016_11-22 Scientiarum-c

“Konflik yang kemudian terjadi di UKSW tidak lagi bersifat kecil, lokal, atau personal. Ada berbagai dimensi politik, ekonomi dan budaya yang secara struktural merupakan bagian atau kepanjangan dari berbagai kontradiksi industri kapitalisme, yang sangat besar di tingkat nasional (otoriterisme militer Orde Baru) dan transnasional.”

“Ariel Heryanto: Seakan-Akan Sudah Ada ‘Rekonsiliasi’”, wawancara oleh Arya Adikristya, Scientiarum (Desember 2016): 18-20.

kata kunci: kemelut, konflik, manajemen, Orde Baru, rekonsiliasi, UKSW

Mereka Terlalu Sopan

WWR_1994_10_4-10_SIMPoNI-ThXVII-N1 Mereka Terlalu Sopan-c

“Betul, Sastra Pedalaman menunjukkan kebangkitan semangat penggugatan terhadap pusat. Dan jangan lupa, ini tidak hanya terjadi di Indonesia. . . .  seniman-seniman Chicago benci pada anak-anak di New York, yang di luar Beijing benci dengan yang ada di Beijing, temen-temen yang ada di Melbourne benci sama anak Sidney. Sama. Mereka memandang ibukota menjadi simbol korupsi, kesewenang-wenangan, kelimpahan, ketidaktahuan diri. Tapi mereka juga iri, mereka ingin seperti itu juga.”

 Ini terjadi di banyak tempat dan banyak tahun. Misalnya, tahu nggak, pada tahun 65-an, Lekra Yogya bisa bersaing dengan Lekra Jakarta.”

“Mereka Terlalu Sopan”, wawancara, SIMPoNI, Th. XVII, No 1, 4-10 Oktober 1994.

kata kunci: dominasi, ideologi, Nirwan Dewanto, pedalaman, pusat, sastra daerah

Tak Ada larangan Orang Ikut-ikutan Posmo

WWR_1994_01_04_DeTIK Tak Ada larangan Posmo-c

“Dan kalau kita bilang post modernism itu dari Barat, memang betul dari Barat. Tapi, yang kita baca sekarang itu bukan hanya dari Barat. Kita baca dari India, kita baca dari Malaysia, kita baca dari Amerika Latin, Afrika: semua membicarakan post modernism sekarang dengan wama lokal yang berbeda-beda.”

“Tak Ada larangan Orang Ikut-ikutan Posmo”, wawancara, DeTIK, No043, ThXVII, 4 Januari 1994

kata kunci: demokratisasi, kebudayaan, kekerasan, modernisasi, modernitas, postmodernisme, santet

 

 

Perubahan Ini Belum Kita Pahami dengan Baik

WWR 2015_09_10 REMOTIVI Perubahan Ini Belum Kita Pahami dengan Baik-c

“Banyak gerakan sosial lain yang Anda tanyakan bergerak dalam medan yang berbeda. Mereka sosok sosial dari abad ke-20. Mereka berorganisasi dengan musuh yang terlembaga seperti negara atau perusahaan.

 Arus politik dan budaya yang bergelombang di samudra digital pada masa ini berbeda. Salah satu cirinya yang paling kuat adalah jaringannya berlingkup trans-nasional. Selain itu, perjuangan yang muncul bukan semata-mata untuk merebut kepentingan ekonomi atau kekuasaan negara, tetapi pembentukan identitas diri.

 Selama ini kita baru memahami sedikit gejolak yang masih baru pada tahap awal pertumbuhannya. Gejalanya macam-macam. Mulai dari lautan jilbab di tahun 1980an, demam Hallyu atau Korean Wave di awal abad ke-21, sampai anak-anak muda di negara mayoritas kulit putih sekuler yang bergabung dengan ISIS atau kelompok anti-ISIS.”

“Ariel Heryanto: Perubahan Ini Belum Kita Pahami dengan Baik”, wawancara, Remotivi, 10/09/2015, http://www.remotivi.or.id/wawancara/214/Ariel-Heryanto:-Perubahan-Ini-Belum-Kita-Pahami-dengan-Baik.

kata kunci: gerakan sosial, identitas, maskulin, Orde Baru, teknologi

Ariel Heryanto

WWR 1996_12_29_K Ariel Heryanto-c

“Intelektual di Indonesia sekarang mengalami masa sulit. Yang pertama, seperti sudah sering dibilang orang, bila orang lulus PhD lalu menjadi bintang, diwawancarai di mana-mana, tampil di seminar-seminar, dan dia tak perlu baca banyak. Yang penting dia mau memaki-maki penguasa dan kekuasaan. Dia lalu jadi bintang. Karena situasi yang seperti itu intelektual di Indonesia terbelah menjadi dua. Satu yang mengabdi kepada kekuasaan, dan mereka yang sangat kritis.”

“orang Indonesia tidak kurang pintarnya. Cuma seperti teman-teman di dunia film itu Iho, kondisi tidak memungkinkan mereka berkarya dengan bagus. Bukan karena mereka tidak kreatif. Aku yakin, banyak orang Indonesia mampu. Einstein itu bila dilahirkan di pegunungan di Irian, Kalimantan, atau di pelosok Jawa, Gunung Kidul, susah dia mengembangkan diri. Seorang Einstein sekali pun. Jadi teman-teman itu dalam kondisi sulit.”

“Ariel Heryanto”, wawancara Bre Redana, Kompas, 29/12/1996: 2.

kata kunci: diaspora, identitas, intelektual, kapitalisme, maskulinitas, rantau, TKI