Kapitalisme dan Kebudayaan (1/2)

Dalam satu hal yang sangat mendasar, kerja seniman tak berbeda dari kerja tukang kayu, koki di warung, hakim di pengadilan atau editor di kantor redaksi. Semuanya tidak bekerja di luar sejarah, walau bekerja individual. Tak di luar planet atau ruang hampa. Semuanya boleh mempersetankan uang, tapi kondisi kesejarahan tidak bakalan mempersetankan mereka

Heryanto, Ariel (1991) “Kapitalisme dan Kebudayaan” (1/2), Bernas, 9 Agustus 1991, hal. 4.

kata kunci: historis, modernisasi, Orde Baru, pembangunan

Tulisan berkait:
“Kapitalisme dan Kebudayaan (2/2)”
Harga Seniman dan Kapitalisme
1991_08_06 Rizal M Tanggapi AH-c
1991_08_15 Arizal Malna-c
1991_08_19 Denny JA-c

Harga Seniman dan Kapitalisme

1991_07_30_BERNAS Harga Seniman dan Kapitalisme-c

“Setiap masyarakat dapat dibedakan dari masyarakat lainnya, antara lain, dari perbedaan (a) gaya dan corak mereka menyembunyikan atau menyangkal pertukaran demikian, (b) luas atau sempitnya bidang kehidupan sosial yang diperbolehkan mengadakan tawaf-menawar secara blak-blakan, serta (c) bidang kehidupan mana yang diberi keabsahan mengadakan tawar-menawar blak-blakan itu.”

Heryanto, Ariel (1991) “Harga Seniman dan Kapitalisme”, Bernas, 30 Juli 1991, hal. 4.

kata kunci: Bernas, kapitalisme, moral, nilai, pasar,

Tulisan berkait:
1991_08_06 Rizal M Tanggapi AH-c
1991_08_15 Arizal Malna-c
1991_08_19 Denny JA-c
Kapitalisme dan Kebudayaan (1/2)
“Kapitalisme dan Kebudayaan (2/2)”

Giliran Yahya Muhaimin

Kebenaran selalu (dan sekaligus hanya) dicapai dalam sifatnya yang “sementara” dan “terbatas”. Jadi harus senantiasa diuji-ulang berkali-kali dan terus-menerus dilengkapi.

Heryanto, Ariel (1991) “Giliran Yahya Muhaimin”, Bernas, 6 Mei 1991, hal. 4.

kata kunci: Bernas, gugat, ilmuwan, LP3ES, Probosutedjo, pencemaran, publik, skripsi, Yahya Muhaimin