WWR 1995_10_12_TIRAS Menjaga Pahlawan-c
“Menjaga Pahlawan agar Tetap Suci”, wawancara, Tiras, 1(37/12 Oktober) 1995: 78-79.
kata kunci: bahasa, nama, pahlawan, sejarah
WWR 1995_10_12_TIRAS Menjaga Pahlawan-c
“Menjaga Pahlawan agar Tetap Suci”, wawancara, Tiras, 1(37/12 Oktober) 1995: 78-79.
kata kunci: bahasa, nama, pahlawan, sejarah
WWR 1995_08_27_REPUBLIKA Sastra Indonesia Bingung-c
“KaIau kita bayangkan sastra itu universaI, saya anggap itu tidak ada. Jadi, yang namanya drama, novel, puisi, cerber, cerbung, itu tidak ada. lni merupakan produk peradaban masyarakat modern. Yang bisa dianggap agak universal adalah kenyataan bahwa manusia itu tidak pernah lepas dari kebutuhan kenikmatan untuk mendongeng dan mendengar dongeng.”
“Sastra Indonesia sedang Dilanda Kebingungan”, wawancara Edy Setiyoko, Republika, 27/08/1995: 12.
kata kunci: digital, dongeng, industri, kenikmatan, media, sastra, video
WWR 1995_03_23_TIRAS Menebak Isi Kotak Misterius-c
“Menebak lsi Kotak Misterius”, wawancara, Tiras 1(8/ 23 Maret) 1995: 74-75.
kata kunci: desas-desus, gosip, komunikasi, media massa, politik
WWR 1995_02_08_JP Sisa-sia Laskar Pajang-c
“Sisa-Sisa Laskar Pajang”, wawancara, Jawa Pos, 8/02/1995: 7.
kata kunci: demokrasi, industri, majemuk, media, modal, pers, sensor
Klik WWR 1994_12_18_TIARA Pemerkosa Di-TV-kan-c
“Ada dua hal yang kelihatannya bertentangan tapi saling menguatkan: represi seksual dan komersialisasi seks. Represi seksual tidak saja membuat seks menjadi luhur dan keramat. Dalam gelombang kapitalisme, represi itu membuat seks menjadi barang langka. Kelangkaan merupakan prasyarat terbentuknya nilai komoditas dan berlakunya hukum penawaran/ permintaan.”
“Pemerkosa Di-TV-kan?”, wawancara JJ Waskito, Tiara 120 (18/12) 1994: 10-11.
kata kunci: hukum, kelas sosial, komersialisasi, pemerkosa, represi, seksualitas, televisi
WWR 1994_06_HUMOR Kebinatangan Manusia-c
“Kebinatangan Manusia Juga Masih Banyak”, wawancara M Nur Hidayat, HumOr, Juni 1994: 14-15.
kata kunci: demokrasi, kapitalisme, konglomerat, pasar, peradaban, sejarah
WWR 1994_06_15_DETIK Tanda Ketakberdayaan Rasialisme-c
“Status quo seperti ini hanya bisa terjadi apabila kaum pri dan kaum non pri itu selalu dipisah. Kalau mereka bersatu, tentu kaum Cina tidak lagi butuh perlindungan penguasa. Ini tidak menguntungkan bagi penguasa karena tidak bisa dimanfaatkan potensi ekonominya. Makanya mereka dipisah terus. Dan, kadang-kadang kerusuhan sengaja dibuat.”
“Kalau usaha besar orang-orang Cina diserang, . . . mereka sama sekali tidak dirugikan. Karena hampir semua mereka mengasuransikan harta bendanya. Yang kena biasanya yang kecil-kecil, yang senasib dengan kaum pri yang menyerangnya. Sebaliknya kaum pri, setelah mengadakan rame-rame, mereka ditangkapi. Jadi, sama-sama orang kecilnya yang kena.”
“Tanda Ketakberdayaan Rasialisme”, wawancara Agung Bawantara, DeTIK , 18(66/15-21 Juni) 1994: 15.
kata kunci: kelas sosial, konglomerat, oposisi, rasisme, selebaran gelap
WWR 1993_ThIX-No15_OPINI Sejarah Mesti Diubah-c
“Takut adalah sumber dari banyaknya kegiatan. Bila orang takut, ia akan cenderung berbuat jahat dan ternyata bukan hanya orang, binatang juga demikian. ABRI pun juga. Kalau dia takut dia akan menjadi ganas. . . . takut bukan bersumber dari ketidakberanian. Tetapi bersumber dari ketidaktahuan. Makanya kecerdasan senantiasa membahayakan keamanan. Dan karena itu, kecerdasan selalu ditindas.”
“Sejarah Mesti Diubah”, wawancara Arief, Ahad, Dayal, Rakhmat, Aan, Opini, 9(15), 1993: 36-45.
kata kunci: agama, kapitalisme, modernitas, pasar, primordial, ras, teror, universal
WWR 1992_MIMBAR Soal Kemiskinan-c
“Bicara Soal Kemiskinan Tak Lepas Dari Aksi Tipu-Menipu”, wawancara Suharianto, Mimbar (UniBraw), 21(235), 1992: 2.
kata kunci: kemiskinan, pemiskinan, pendidikan, struktur
WWR 1992_11_23_SURABAYA POST Tidak Ada Seniman Mandiri-c
“Tidak Ada Seniman yang Mandiri”, wawancara, Surabaya Post, 23/11/1992: 12.
kata kunci: industri, kapitalisme, mandiri, mitos, modernitas, otonomi, seniman