Timpang

Kebencian yang mewabah adalah reaksi wajar terhadap dampak ketimpangan sosial. Ibarat batuk, bersin, atau mual yang berkisah tentang tubuh sakit. Sensor media sosial dan hukuman terhadap pelaku ujar kebencian ibarat membungkam mulut yang batuk. Bukan mengobati penyakit yang menimbulkan batuk.

Heryanto, Ariel (2021) “Timpang”, Kompas, 6/03/2021, https://www.kompas.id/baca/opini/2021/03/06/timpang-4/

kata kunci: hoaks, media, Microsoft, negara, perundungan, UU ITE

Diterbitkan oleh

arielheryanto

Born in Indonesia. Worked in Indonesia (1980-1995), Singapore (1996-1999), and Australia (2000-2020).

3 tanggapan untuk “Timpang”

  1. Ya memang susah Prof, berlaku SANTUN dianggap penerima kritik sbg kelemahan n cenderung dianggap bukan ancaman! Berlaku anarkis spy kesannya kuat lsg dibabat habis krn dianggap ancaman.Kita msh hrs bnyk hidup dgn pendidikan politik yg baik- tugas pemerintah n dunia pendidkan!

    Suka

  2. aku suka bagian “negara yang paling layak dan wajib menukik ke dasar masalah” pada penutup tulisan ini, Prof. namun, bagaimana bila sejumlah formasi wacana yang dominan mengenai apa yang disebut sebagai hoaks, katakanlah demikian, justru datang dan didefinisikan oleh negara berikut aparatusnya? sehingga lahirlah salah satunya hoaks sebagai stigma yang kerap disamakan dengan ujar kebencian, fitnah, berita palsu, disinformasi, malinformasi, dan lain sebagainya. kok agaknya wacana hoaks di Indonesia ini mengalami pergeseran ya, Prof. aku malah tertarik sejauh mana pergeseran itu terjadi, sehingga melahirkan istilah dan/atau pemaknaan yang menyertainya. sejauh mana penyempitan dan perluasannya. hoax dalam bahasa Inggris saja memuat makna yang berlainan dengan pemahaman akan hoaks di Indonesia. dia bagian dari genre komedi. kok malah sekarang semakin dibicarakan dalam ranah hukum. kasus di Indonesia ini sangat partikular dan historis saya kira, Prof. dan, tentu saja, sukar kalau dipadankan, misalnya, dalam istilah bahasa Inggris “fake news”–walau istilah ini akhirnya belakangan juga ditolak oleh wacana jurnalisme. berita kok “fake”. hehehe. nuwun atas paparannya, Prof. jadi tergerak untuk belajar lagi saya.

    Suka

    1. Anda benar, Mas. Memang tidak semua debat yang ribut di ruang publik membantu mencerdaskan bangsa. Semoga Anda membantu membagikan pencerahan lewat publikasi sebanyak-banyaknya.

      Suka

Tinggalkan Balasan ke arielheryanto Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s