Seks, Ras, Politik

Ada orang Indonesia berkunjung ke Amerika Serikat. Dengan bergairah ia mengunjungi pusat perdagangan seks di New York. Setelah masuk-keluar salah satu bangunan di situ dia menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam tentang “rusaknya” moralitas bangsa kulit putih. Tapi lima menit kemudian dia memasuki bangunan lain di wilayah yang sama. Dia keluar dari situ sambil berdecak-decak lagi.

Heryanto, Ariel (1990) “Seks, Ras, Politik”, Tiara, 22 Juli 1990, hal. 65-67.

kata kunci: gender, kulit putih, normalisasi, pelecehan, perempuan, politik, ras, Selamat Tinggal Jeannette, seks, Tiara

Perempuan atau Wanita?

Pertentangan “wanita” dan “perempuan” hanyalah pertentangan dua makna yang terkubur dalam kamus-kamus tua. Pertentangan ini hanya penting bagi segelintir elit yang punya kemewahan dan kenikmatan membuka-buka kamus antik.

Heryanto, Ariel (1990) “Perempuan atau Wanita?”, Gala, 11 Februari 1990, hal. I, XI.

kata kunci: bahasa, Gala, makna, kamus, perempuan, wanita

Memberi Makna Sumpah Pemuda 1928

1989_10_27_SP Memberi Makna Sumpah Pemuda 1928-c

Sumpah Pemuda 1928 terjadi bukan karena Indonesia ada. Sebaliknyalah. Sumpah itu diikrarkan dalam upaya MENGadaKAN Indonesia.

Heryanto, Ariel (1989) “Memberi Makna Sumpah Pemuda 1928”, Suara Pembaruan, 27 Oktober 1989, hal. VI, XI.

kata kunci: bangsa, Benedict Anderson, kekinian, pemaknaan, penjajah, sejarah, Suara Pembaruan, Sumpah Pemuda