1989_06_10_SP Kebrutalan di Beijing-c
Heryanto, Ariel (1989) “Kebrutalan di Beijing”, Suara Pembaruan, 10 Juni 1989, hal. VI.
kata kunci: Beijing, internasional, solidaritas, Suara Pembaruan, Tianan Mien
1989_06_10_SP Kebrutalan di Beijing-c
Heryanto, Ariel (1989) “Kebrutalan di Beijing”, Suara Pembaruan, 10 Juni 1989, hal. VI.
kata kunci: Beijing, internasional, solidaritas, Suara Pembaruan, Tianan Mien
1990_08_24_JP Globalisasi_Pudarnya Bangsa Negara 01-c
Heryanto, Ariel (1990) “Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (1/2), Jawa Pos, 24 Agustus 1990, hal. IV.
kata kunci: budaya, bangsa, globalisasi, Jawa Pos, nasional, negara
Tulisan berkait:
“Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (2/2)
“Kebudayaan Nasional: Ada atau Mengada-ada?”
1990_08_25_JP Globalisasi_Pudarnya Bangsa Negara 02-c
Heryanto, Ariel (1990) “Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (2/2), Jawa Pos, 25 Agustus 1990, hal. IV.
kata kunci: bangsa, globalisasi, Jawa Pos, Mangunwijaya, modernitas, pasca-Indonesia, negara
Tulisan berkait:
“Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (1/2)
“Kebudayaan Nasional: Ada atau Mengada-ada?”
Dalam negara yang lemah legitimasinya, nasion dijadikan senjata untuk mengukuhkan legitimasi negara. Warga bangsa yang mempertanyakan perilaku atau kebijakan negara dituduh tidak setia kepada bangsa.
Heryanto, Ariel (1990) “Kebudayaan Nasional: Ada atau Mengada-ada?”, Jawa Pos, 30 Juli 1990, hal. IV, VI.
kata kunci: Benedict Anderson, Geoffrey Benjamin, jamak, Jawa Pos, kebudayaan majemuk, nasional
Tulisan berkait:
“Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (1/2)
“Globalisasi: Pudarnya Bangsa-Negara?” (2/2)
1989_01_08_K ‘Aib’ Putu Wijaya-c
Heryanto, Ariel (1989) “‘Aib’ Putu Wijaya”, Kompas, 8 Januari 1989, hal. X.
kata kunci: Aib, Harry Roesli, ideologi, Kompas, Putu Wijaya, realisme, stabilitas dan keamanan, teater Indonesia
1988_04_21_K Wanita Korban Pembangunan-c
Heryanto, Ariel (1988) “Wanita Korban Pembangunan”, Kompas, 21 April 1988, hal. IV, V.
kata kunci: Ivan Illich, feminin, gender, Kompas, maskulin, pembangunan, wanita
Heryanto, Ariel (1988) “Omong Kosong”, Suara Pembaruan, 9 April 1988, hal. VI, VII.
kata kunci: bahasa, budaya pop, desas-desus, George Quinn, gossip, Ignas Kleden, omong kosong, Suara Pembaruan
1988_04_28_SM Sastra dan Legitimasi Nasional 3-c
Heryanto, Ariel (1988) “Seleksi Ketat Mengabsahkan Produk Sastra Indonesia”, Suara Merdeka, 28 April 1988, hal. II.
kata kunci: Ajip Rosidi, Darmanto Jatman, Keith Foulcher, legitimasi, Linus Suryadi, nasion, sastra, Suara Merdeka
Lihat juga:
“Memahami antara ‘Pusat’ dan ‘Daerah’”
“Kemenangan bagi ‘Warna Lokal’”
1988_04_27_SM Sastra dan Legitimasi Nasional
Heryanto, Ariel (1988) “Kemenangan bagi ‘Warna Lokal’”, Suara Merdeka, 27 April 1988, hal. II.
kata kunci: Ajip Rosidi, Darmanto Jatman, Faruk H T, Ikranegara, Jawanisasi, Linus Suryadi, Suara Merdeka, Veven Sp Wardhana, warna lokal
Lihat juga:
“Memahami antara ‘Pusat’ dan ‘Daerah’”
“Seleksi Ketat Mengabsahkan Produk Sastra Indonesia”
1988_04_26_SM Sastra dan Legitimasi Nasional 1-c
Heryanto, Ariel (1988) “Memahami antara ‘Pusat’ dan ‘Daerah’, Suara Merdeka, 26 April 1988, hal. II.
kata kunci: daerah, Darmanto Jatman, Jawanisasi, kosmopolitan, legitimasi, Linus Suryadi, pusat, Suara Merdeka, warna lokal, Yogya
Sambungan:
“Kemenangan bagi ‘Warna Lokal’”
“Seleksi Ketat Mengabsahkan Produk Sastra Indonesia”