1993_06_05_EDITOR Salahnya Jadi Orang Kaya-c
Heryanto, Ariel (1993) “Salahnya Jadi Orang Kaya”, Editor, No. 36/Th.VI/5 Juni 1993, hal. 26, 27.
kata kunci: borjuis, Editor, kapitalisme, kaya, konglomerat, pola hidup sederhana, wiraswasta
1993_06_05_EDITOR Salahnya Jadi Orang Kaya-c
Heryanto, Ariel (1993) “Salahnya Jadi Orang Kaya”, Editor, No. 36/Th.VI/5 Juni 1993, hal. 26, 27.
kata kunci: borjuis, Editor, kapitalisme, kaya, konglomerat, pola hidup sederhana, wiraswasta
Klik 1993_04_11_TIARA Kemerdekaan Gairah Sebagai Ancaman-c
Seksualitas memang punya daya perlawanan subversif terhadap lembaga represi terbesar dalam sejarah modern, yakni negara. Karena itu negara senantiasa berkepentingan membayar mata-mata, mendidik dan menggaji ahli hukum serta polisi untuk mengawasi dan menindas perilaku penis dan vagina yang dianggap ‘tidak disiplin’.
Heryanto, Ariel (1993) “Kemerdekaan Gairah Sebagai Ancaman”, Tiara, No. 76, 11-24 April 1993, hal. 80, 81.
kata kunci: agama, haatzaai artikelen, hukum, kumpul kebo, liberal, moral, seks, Tiara, zinah
1993_04_17_JJ Kekerasan Rakyat-c
Heryanto, Ariel (1993) “Kekerasan Rakyat”, Jakarta-Jakarta, No. 354, 17-23 April 1993, hal. 74, 75.
kata kunci: G-30-S/PKI, GPK, Jakarta-Jakarta, kekerasan, Lebak Bulus, Metallica, musik, Orde Lama, rakyat
1993_07_02_JJ HAM Tidaklah Universal-c
Heryanto, Ariel (1993) “HAM Tidaklah Universal”, Jakarta-Jakarta, No. 364/ 26 Juni – 2 Juli 1993, hal. 24, 25.
kata kunci: Barat, esensialisme, haatzaai artikelen, HAM, Jakarta-Jakarta, pasca-kolonial, Polemik Kebudayaan, Tanah Untuk Rakyat, universal
Benarkah masa kini tidak lagi ada kaum muda Indonesia yang idealis, jujur, bersemangat-juang, berani membela kebenaran dan hak-hak asasi manusia seperti di zaman kolonial?
Heryanto, Ariel (1993) “Antara Dulu dan Sekarang”, Jakarta-Jakarta, 371, 14-20 Agustus 1993, hal. 74, 75.
kata kunci: haatzaai artikelen, Jakarta-Jakarta, kolonial, nostalgia, pemuda, propaganda, sejarah, Sumpah Pemuda
Di situ teks dianggap dapat mewakili langsung suatu realita. Atau bahkan bagian dari realita itu sendiri. Konon di banyak negeri komunis ada kewajiban bagi rakyat untuk memasang potret wajah ketua partai di gedung-gedung pertemuan. Ini dianggap sama dengan kesetiaan atau pemujaan kepada sang pemimpin besar.
Heryanto, Ariel (1993) “Sampul Kaset Palu-Arit”, Jakarta-Jakarta, No. 383, 6-12 November 1993, hal. 26, 27.
kata kunci: Atiek CB, hantu, Idrus, Jakarta-Jakarta, kaset, Komaruddin Hidayat, Palu-Arit
Atas nama citra bangsa dan norma-norma ketimuran
demi stabilitas dan keamanan negeri
kami harus angkat bicara
Mencaci kamu: ha-hi-hu-ha-hu
. . .
“Kamu kog bebas
Kok pintar
Kok cantik
Kami tidak terima!
Heryanto, Ariel (1993) “Dewi Syuga: Kok Pintar, Kog Cantik, Kok Bebas”, Jakarta-Jakarta, No. 385, 20-26 November 1993, hal. 26, 27.
kata kunci: Dewi Syuga, erotika, estetika, iklan, Jakarta-Jakarta, KB, perempuan, tubuh
1994_05_30_K Politik Perizinan-c
Heryanto, Ariel (1994) “Politik Perizinan”, Kompas, 30 Mei 1994, hal. 4, 5.
kata kunci: Emha Ainun Nadjib, Kompas, haatzaai artikelen, Rendra, Roekmini Koesoemo Astoeti, Syarwan Hamid, SBSI, terorisme, Yayasan Pijar
Kemerosotan nasionalisme juga perlu dikaitkan dengan pesatnya pertumbuhan beberapa identttas dan solidaritas sosial yang lain. Misalnya yang berbasis keagamaan, etnisitas, kelas sosial, dan gender. Mereka menyaingi, mengungguli, atau merangkul identitas/ solidaritas nasional.
Heryanto, Ariel (1995) “Pasca-nasionalisme”, Kompas, 14 September 1995, hal. 4, 5.
kata kunci: Ben Anderson, identitas, Joel Kahn, kemerdekaan, Kompas, Liga Dunhill, Mike Tyson, nasionalisme, pasca-nasionalisme, To Liong To
1995_11_03_K ABRI Masuk Internet-c
Heryanto, Ariel (1995) “ABRI Masuk Internet”, Kompas, 3 November 1995, hal. 4, 5.
kata kunci: ABRI, desentralistik, dwifungsi, informasi, internet, Kompas, militer, OTB