Tanda Ketakberdayaan Rasialisme

WWR 1994_06_15_DETIK Tanda Ketakberdayaan Rasialisme-c

“Status quo seperti ini hanya bisa terjadi apabila kaum pri dan kaum non pri itu selalu dipisah. Kalau mereka bersatu, tentu kaum Cina tidak lagi butuh perlindungan penguasa. Ini tidak menguntungkan bagi penguasa karena tidak bisa dimanfaatkan potensi ekonominya. Makanya mereka dipisah terus. Dan, kadang-kadang kerusuhan sengaja dibuat.”

“Kalau usaha besar orang-orang Cina diserang, . . . mereka sama sekali tidak dirugikan. Karena hampir semua mereka mengasuransikan harta bendanya. Yang kena biasanya yang kecil-kecil, yang senasib dengan kaum pri yang menyerangnya. Sebaliknya kaum pri, setelah mengadakan rame-rame, mereka ditangkapi. Jadi, sama-sama orang kecilnya yang kena.”

“Tanda Ketakberdayaan Rasialisme”, wawancara Agung Bawantara, DeTIK , 18(66/15-21 Juni) 1994: 15.

kata kunci: kelas sosial, konglomerat, oposisi, rasisme, selebaran gelap

Sejarah Mesti Diubah

WWR 1993_ThIX-No15_OPINI Sejarah Mesti Diubah-c

“Takut adalah sumber dari banyaknya kegiatan. Bila orang takut, ia akan cenderung berbuat jahat dan ternyata bukan hanya orang, binatang juga demikian. ABRI pun juga. Kalau dia takut dia akan menjadi ganas. . . . takut bukan bersumber dari ketidakberanian. Tetapi bersumber dari ketidaktahuan. Makanya kecerdasan senantiasa membahayakan keamanan. Dan karena itu, kecerdasan selalu ditindas.”

“Sejarah Mesti Diubah”, wawancara Arief, Ahad, Dayal, Rakhmat, Aan, Opini, 9(15), 1993: 36-45.

kata kunci: agama, kapitalisme, modernitas, pasar, primordial, ras, teror, universal

Orang Indonesia Berbahasa Indonesia

Sebuah bangsa yang diminta berbahasa satu berarti meminta agar bangsa itu mempunyai satu kesadaran, satu selera, satu cara memahami dan membangun kenyataan sosial.

“Orang Indonesia Berbahasa Indonesia”, wawancara Alizami Ramli dan Ifdhal Kasim, Solusi, 1(1), 1986: 11-16.

kata kunci: absah, bahasa, kenyataan, kepentingan, kesadaran, Krama, Sansekerta