Terpaksa ‘Keluar’ dari Indonesia

WWR 1995_12_31_SM Terpaksa Keluar dari Indonesia-c

“Terpaksa ‘Keluar’ dari Indonesia”, dan “Fakta dan Fiksi Itu Fakta”, wawancara Wilis dan Fanani, Suara Merdeka, 31/12/1995: 4.

kata kunci: fakta, fiksi, kelompok diskusi, latar belakang, masa kecil, pribadi, UKSW

Identitas ‘Asli’ Adalah Fiksi

WWR 2015_08_02_K Identitas Asli Adalah Fiksi-c

“Identitas ‘Asli’ Adalah Fiksi”, wawancara Maria Hartiningsih, Kompas, 2/08/2015: 13.

kata kunci: 1965, asli, identitas, fiksi, kemajemukan, maskulin, patriarkhi, toleransi

Indonesia, Seni, Ketidak-acuhan

WWR 2001_10_07_K Indonesia, Seni, Ketidak-acuhan-c

“Ini bukan soal kelas menengah melulu. Acuh, tidak peka, atau tidak peduli merupakan salah satu mekanisme kejiwaan banyak kalangan yang hidup tertekan dan menderita, tetapi harus terus hidup dan berjuang untuk hidup. Persis kemampuan untuk lupa. Orang yang tidak bisa lupa, atau tidak bisa acuh akan susah tidur, makan, bahkan bekerja dengan tenang. Bahkan bisa gila.”

“Indonesia, Seni, Ketidak-acuhan”, wawancara Bre Redana, Kompas, 7/10/2001.

kata kunci: gerakan mahasiswa, kesenian, pasca-Orde Baru, perubahan

Hidup Tanpa Gaya Hidup

WWR 1998_09_10_TIARA Hidup Tanpa Gaya Hidup-c

“Kalau dipahami secara longgar. maka gaya hidup tidak tergantung pada berapa
uang Anda. Gaya hidup bukan monopoli orang kava. Sebaliknya tidak semua
orang kaya punya gaya hidup yang hebat. Gaya hidup lebih merupakan ekspresi
kreativitas estetika. Cuma saja pada orang kava, ekspresi itu diterjemahkan dalam
bentuk teknologi dan sejumlah acara padat-modal. Supaya tampak eksklusif.”

“Hidup Tanpa Gaya Hidup”, wawancara Dedeh, Tiara, 210 (Oktober) 1998.

kata kunci: budaya, estetika, gaya hidup, kaya, kemasan, konsumsi, miskin, selera

Kita Dilatih Takut Berbahasa Indonesia

WWR 1997_11_10_TIRAS Kita Dilatih Takut Ber-BI-c

Tadinya memang namanya bukan bahasa Indonesia, tetapi bahasa Melayu. Dan karakternya yang terpenting adalah keterbukaan yang luar biasa. Keterbukaan untuk menerima pengaruh dari bahasa-bahasa yang macam-macam. Ini saya kira pelajaran yang terpenting untuk kita di zaman apa pun, bahwa keterbukaan dan pertemuan antarbudaya merupakan sumber dinamika dan energi yang luar biasa.

Sekarang ini kan di mana-mana banyak orang justru mengejar keaslian, kemurnian sesuatu, dan mencoba membersihkan campur-aduk percampuran berbagai macam kebudayaan. Ini justru menakutkan sekali. Justru kalau kita lihat, bahasa Melayu itu menerima apa saja. Bahasa Arab ditampung. Bahasa Portugis ditampung. Bahasa Inggris, bahasa Cina ditampung. Bahasa Jawa ditampung.

“Kita Dilatih Takut Berbahasa Indonesia”, wawancara Anton Bahtiar Rifa’i, Tiras, 3(41/ 10 Nopember) 1997: 56-58.

kata kunci: asing, bahasa, elitisme, keraton, Melayu, pedagang, terbuka

Catatan: bagian akhir terpotong.