Mereka Terlalu Sopan

WWR_1994_10_4-10_SIMPoNI-ThXVII-N1 Mereka Terlalu Sopan-c

“Betul, Sastra Pedalaman menunjukkan kebangkitan semangat penggugatan terhadap pusat. Dan jangan lupa, ini tidak hanya terjadi di Indonesia. . . .  seniman-seniman Chicago benci pada anak-anak di New York, yang di luar Beijing benci dengan yang ada di Beijing, temen-temen yang ada di Melbourne benci sama anak Sidney. Sama. Mereka memandang ibukota menjadi simbol korupsi, kesewenang-wenangan, kelimpahan, ketidaktahuan diri. Tapi mereka juga iri, mereka ingin seperti itu juga.”

 Ini terjadi di banyak tempat dan banyak tahun. Misalnya, tahu nggak, pada tahun 65-an, Lekra Yogya bisa bersaing dengan Lekra Jakarta.”

“Mereka Terlalu Sopan”, wawancara, SIMPoNI, Th. XVII, No 1, 4-10 Oktober 1994.

kata kunci: dominasi, ideologi, Nirwan Dewanto, pedalaman, pusat, sastra daerah

Tak Ada larangan Orang Ikut-ikutan Posmo

WWR_1994_01_04_DeTIK Tak Ada larangan Posmo-c

“Dan kalau kita bilang post modernism itu dari Barat, memang betul dari Barat. Tapi, yang kita baca sekarang itu bukan hanya dari Barat. Kita baca dari India, kita baca dari Malaysia, kita baca dari Amerika Latin, Afrika: semua membicarakan post modernism sekarang dengan wama lokal yang berbeda-beda.”

“Tak Ada larangan Orang Ikut-ikutan Posmo”, wawancara, DeTIK, No043, ThXVII, 4 Januari 1994

kata kunci: demokratisasi, kebudayaan, kekerasan, modernisasi, modernitas, postmodernisme, santet

 

 

Perubahan Ini Belum Kita Pahami dengan Baik

WWR 2015_09_10 REMOTIVI Perubahan Ini Belum Kita Pahami dengan Baik-c

“Banyak gerakan sosial lain yang Anda tanyakan bergerak dalam medan yang berbeda. Mereka sosok sosial dari abad ke-20. Mereka berorganisasi dengan musuh yang terlembaga seperti negara atau perusahaan.

 Arus politik dan budaya yang bergelombang di samudra digital pada masa ini berbeda. Salah satu cirinya yang paling kuat adalah jaringannya berlingkup trans-nasional. Selain itu, perjuangan yang muncul bukan semata-mata untuk merebut kepentingan ekonomi atau kekuasaan negara, tetapi pembentukan identitas diri.

 Selama ini kita baru memahami sedikit gejolak yang masih baru pada tahap awal pertumbuhannya. Gejalanya macam-macam. Mulai dari lautan jilbab di tahun 1980an, demam Hallyu atau Korean Wave di awal abad ke-21, sampai anak-anak muda di negara mayoritas kulit putih sekuler yang bergabung dengan ISIS atau kelompok anti-ISIS.”

“Ariel Heryanto: Perubahan Ini Belum Kita Pahami dengan Baik”, wawancara, Remotivi, 10/09/2015, http://www.remotivi.or.id/wawancara/214/Ariel-Heryanto:-Perubahan-Ini-Belum-Kita-Pahami-dengan-Baik.

kata kunci: gerakan sosial, identitas, maskulin, Orde Baru, teknologi

Ariel Heryanto

WWR 1996_12_29_K Ariel Heryanto-c

“Intelektual di Indonesia sekarang mengalami masa sulit. Yang pertama, seperti sudah sering dibilang orang, bila orang lulus PhD lalu menjadi bintang, diwawancarai di mana-mana, tampil di seminar-seminar, dan dia tak perlu baca banyak. Yang penting dia mau memaki-maki penguasa dan kekuasaan. Dia lalu jadi bintang. Karena situasi yang seperti itu intelektual di Indonesia terbelah menjadi dua. Satu yang mengabdi kepada kekuasaan, dan mereka yang sangat kritis.”

“orang Indonesia tidak kurang pintarnya. Cuma seperti teman-teman di dunia film itu Iho, kondisi tidak memungkinkan mereka berkarya dengan bagus. Bukan karena mereka tidak kreatif. Aku yakin, banyak orang Indonesia mampu. Einstein itu bila dilahirkan di pegunungan di Irian, Kalimantan, atau di pelosok Jawa, Gunung Kidul, susah dia mengembangkan diri. Seorang Einstein sekali pun. Jadi teman-teman itu dalam kondisi sulit.”

“Ariel Heryanto”, wawancara Bre Redana, Kompas, 29/12/1996: 2.

kata kunci: diaspora, identitas, intelektual, kapitalisme, maskulinitas, rantau, TKI

Identitas ‘Asli’ Adalah Fiksi

Dalam berbagai masyarakat, yang digunakan sebagai pembenar ketimpangan sosial dan penindasan adalah kemurnian dan keabsahan beragama, beda jenis kelamin dan orientasi seksual, bahasa, warna kulit, kebangsawanan, pendidikan, modal material, …

“Identitas ‘Asli’ Adalah Fiksi”, wawancara Maria Hartiningsih, Kompas, 2/08/2015: 13.

kata kunci: 1965, asli, identitas, fiksi, kemajemukan, maskulin, patriarkhi, toleransi

Indonesia, Seni, Ketidak-acuhan

WWR 2001_10_07_K Indonesia, Seni, Ketidak-acuhan-c

“Ini bukan soal kelas menengah melulu. Acuh, tidak peka, atau tidak peduli merupakan salah satu mekanisme kejiwaan banyak kalangan yang hidup tertekan dan menderita, tetapi harus terus hidup dan berjuang untuk hidup. Persis kemampuan untuk lupa. Orang yang tidak bisa lupa, atau tidak bisa acuh akan susah tidur, makan, bahkan bekerja dengan tenang. Bahkan bisa gila.”

“Indonesia, Seni, Ketidak-acuhan”, wawancara Bre Redana, Kompas, 7/10/2001.

kata kunci: gerakan mahasiswa, kesenian, pasca-Orde Baru, perubahan