Dunia Digemparkan Proklamasi 1945: Kesaksian Joe Isaac

“Inilah pertama kalinya di dunia ada bangsa terjajah memproklamasikan kemerdekaan secara sepihak tanpa perundingan dengan bangsa lain. Tampaknya tidak ada satu pun pihak yang benar-benar siap menghadapi kenyataan Indonesia merdeka, dan pelbagai implikasinya. Juga pemerintah RI sendiri.”

Heryanto, Ariel (2018) “Dunia Digemparkan Proklamasi 1945: Kesaksian Joe Isaac”, Tirto, 5/04/2018, https://tirto.id/dunia-digemparkan-proklamasi-1945-kesaksian-joe-isaac-cHdH

kata kunci: Australia, Hindia Belanda, kolonial, modernitas, proklamasi, Sukarno

Benci tapi Rindu: Globalisasi

Yang lebih ironis dan serius, walau sudah bertekad mengglobal, banyak kalangan akademik Indonesia yang menolak keras gagasan hadirnya universitas asing di Indonesia. Apalagi gagasan pengangkatan ilmuwan asing sebagai Rektor untuk universitas di Indonesia.

Heryanto, Ariel (2018) “Benci tapi Rindu: Globalisasi”, Kumparan, 14/03/2018, https://kumparan.com/ariel-heryanto/benci-tapi-rindu-globalisasi

kata kunci: asing, lokal, kapitalisme, modernitas, nasional, universitas

FILM INDONESIA: Tak Sekadar Urusan Pasar

WWR 2018_02_03_KB-13 Tak Sekadar Urusan Pasar-c

“Yang perlu kita bicarakan bukan sekadar mutu satu atau dua film. Yang perlu kita bicarakan adalah sebuah ekosistem perfilman yang sehat, kreatif dan etis. Film dan penonton hanya merupakan sebagian unsur-unsurnya”

Sudarwan, Ilman A. (2018) “FILM INDONESIA: Tak Sekadar Urusan Pasar”, Bisnis Indonesia, 3/02/2018: 14.

kata kunci: Aprofi, ekosistem, layar, penonton, produksi

The biggest hoax of all: the 30 September Movement

Click 2018_01_16_IaM_The biggest hoax of all-c

There are two common misconceptions about hoaxes. First, although the word “hoax” is a relatively new term in the Indonesian lexicon, it would be wrong to assume that hoaxes have only become a problem over the past few years, with the rise of social media. Second, hoax news cannot be resolved or debunked simply by providing accurate information as an alternative, especially when nothing is done about the primary hoax.

Heryanto, Ariel (2018) “The biggest hoax of all: the 30 September Movement”, Indonesia at Melbourne, 16/01/2018, http://indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au/the-biggest-hoax-of-all-the-30-september-movement/

keywords: Budi Pego, Communism, Gerwani, Jokowi, Marxism, PKI

Popular Culture and Identity Politics

Click 2018_Popular Culture and Identity Politics-c

This chapter contends that an in-depth investigation into identity politics in popular culture is a critical component to studying the social life of this world’s fourth most populated nation. It shows how elite national politics and everyday cultural practices and contestations are mutually constitutive in complex and indirect ways, with a focus on identity politics in contemporary Indonesia as manifest in popular cultures.

Heryanto, Ariel (2018) “Popular Culture and Identity Politics”, in R. Hefner (ed.) Routledge Handbook of Contemporary Indonesia, London: Routledge, pp. 357-368.

keywords: gender, Islam, Javanese, Jokowi, media, nationalism, SBY

Ahok, Penista Kemasan Politik

2016_11_17_CNN Ahok, Penista Kemasan Politik-c

“Menurut saya, hanya mereka yang buta-politik akan berbantah melulu soal agama dan adu-kutipan ayat suci dalam menanggapi kasus Ahok. Apakah Ahok bersalah atau tidak secara keagamaan, kurang menarik perhatian saya. Juga apakah dia bersalah atau tidak secara hukum.

Sejauh pengamatan saya, kesalahan pertama dan utama Ahok selama ini adalah berpolitik tanpa basa-basi atau kemasan apa pun.”

 

Heryanto, Ariel (2016) “Ahok, Penista Kemasan Politik”, CNN Indonesia, 17/11/206, https://www.cnnindonesia.com/kursipanasdki1/20161116193018-517-173127/ahok-penista-kemasan-politik/

kata-kunci: agama, Bourdieu, Jokowi, kelas sosial, Pilkada DKI,

Dari Kencing Onta sampai PKI

Klik 2018_01_11_M_Dari Kencing Onta sampai PKI-c

“Tidak ada wacana, tuduhan, umpatan, atau pujian yang secara alamiah atau tiba-tiba, punya bobot mengangkat atau membanting martabat seseorang. Bobot itu harus disusun dan dipasarkan dengan modal besar dan kerja keras sebelum diterima atau ditolak masyarakat. Ini berlaku untuk semua kisah: dari kisah mukjizat kencing Onta sampai kisah bahaya PKI.”

Heryanto, Ariel (2018) “Dari Kencing Onta sampai PKI”, Mojok, 11/01/2018, https://mojok.co/arl/esai/dari-kencing-onta-sampai-pki/

kata-kunci: Budi Pego, G-30-S, Gerwani, Hoax, Jokowi, tahayul

Sejarah Tidak Cuma Hitam-Putih

WWR_Mtv_2017_12_19 Sejarah Tidak Cuma Hitam-Putih-c

“Kita bisa memilih untuk tidak punya agama. Tetapi, kita tidak bisa memilih untuk tidak punya kebangsaan. Mengapa dan siapa yang memaksa? Sebuah proses dan kesepakatan yang sifatnya mendunia dan mutakhir.

Sayang, wawasan internasional dalam kebangsaan atau nasionalisme itu lemah atau lenyap di banyak kalangan di Indonesia.”

Adnan, Sobih AW (2017) “Sejarah Tidak Cuma Hitam-Putih”, metrotv, 19/12/2017, http://m.metrotvnews.com/oped/wawancara/ybDMYjpk-sejarah-tidak-cuma-hitam-putih

kata kunci: global, media, nasion, sejarah

Ideological Baggage and Orientations of the Social Sciences in Indonesia

Many -isms that at first appear to be radical, breakthrough forces, become inflexible and frozen as they grow in popularity and dominance. There are good and bad expressions and followers of every -ism. In polemics, there is always the temptation to highlight the opposition’s worst or weakest examples of theories, ideas and rationale, whilst emphasizing and using only the best among one’s own armory.

Heryanto, Ariel (2005) “Ideological Baggage and Orientations of the Social Sciences in Indonesia” in Social Science and Power in Indonesia, Vedi R. Hadiz and Daniel Dhakidae (eds), Jakarta and Singapore: Equinox, pp. 69-101.

keywords: culturalism, developmentalism, ideology, knowledge, liberalism, orientation, populism, structuralism

Click here for an Indonesian version

Hiruk pikuk ‘bahaya’ komunis: sampai kapan?

Kapan Indonesia bisa reda dari hiruk pikuk hantu komunisme? Jawabnya: bila sudah ada alat lain yang bisa dimanfaatkan para politikus untuk ambisi politiknya. Tidak penting apakah itu komunisme atau Islam. Yang penting sejauh mana atribut itu bisa dimanipulasi untuk kepentingan politik mereka.

Selama alat pengganti itu belum ada, stigma dan hantu komunis akan terus diproduksi, disebarkan untuk mengaduk-aduk emosi dan akal masyarakat yang lembek logika.

Heryanto, Ariel (2017) “Hiruk pikuk ‘bahaya’ komunis: sampai kapan?”, The Conversation, 27/09/2017, https://theconversation.com/hiruk-pikuk-bahaya-komunis-sampai-kapan-84658

kata-kunci: bahaya komunis, Islam, Jokowi, Orde Baru, pengetahuan