Demam Seks di Indonesia

Masa sesudah tahun 1980-an ditandai oleh dua hal yang seakan-akan bertolak belakang. Di satu pihak muncul kebangkitan semangat dan solidaritas keagamaan yang meluap. Di pihak lain, gelombang keasyikan berbincang tentang seks. Keduanya menjadi simbol serta topik-topik diskusi, wawancara atau studi i1miah bagi berbagai kalangan, dengan minat dan kepentingan yang beraneka ragam.

Heryanto, Ariel (1993) “Demam Seks di Indonesia”, Bernas, 6 Maret 1993, hal. 4.

kata kunci: Bernas, demokrasi, Foucault, gender, moralitas, seks, swastanisasi, zinah

Kelas Menengah Kita yang Majemuk

Kita bertolak dari kerinduan dan komitmen pad a suatu “perubahan sosial” yang “struktural”, di mana “kelas” dianggap sebagai agen/lokasi yang strategis. Kita mencari pemahaman akan peluang dan hambatan yang ada di sekitar kita.

Heryanto, Ariel (1993) “Kelas Menengah Kita yang Majemuk”, Media Indonesia, 20 Februari 1993, hal. 4.

kata kunci: Erosentrisme, kelas menengah, majemuk, Marxian, Media Indonesia, moral, post –strukturalisme, post-modernisme, otonomi

Budaya Ber-Manifesto Pra-1965

Di Indonesia, hak berkisah tentang sejarah politik budaya 1960-an itu masih menjadi monopoli pihak manifestan. Kritik kecil-kecilan terhadap Manifes Kebudayaan atau pujian kecil-kecilan terhadap Lekra bisa muncul, tapi asal dan hanya bisa absah bila datang dari “kerelaan” suara seorang manifestan.

Heryanto, Ariel (1992) “Budaya Ber-Manifesto Pra-1965”, Jawa Pos, Rabu, 30 September 1992, hal. 10.

kata kunci: Goenawan Mohamad, Jawa Pos, Keith Foulcher, kondisi, LEKRA, Manikebu, militer, PKI