Postmodernisme: Yang Mana?

Postmodernisme tidak sama dengan non-modern atau anti-modernisme. Sebuah isme layak disebut pemberontak revolusioner, karena mampu menampilkan ke puncak permukaan apa-apa yang semula laten dan tertindas. Bukan karena isme ini menjungkir-balikkan semua yang pernah ada dan memusnahkannya lalu menciptakan suatu tata-dunia yang secara murni serba-baru.

Heryanto, Ariel (1994) “Postmodernisme: Yang Mana?”, Kalam, 1 (1): 80-93.

kata kunci: bahasa, discourse, humanisme, Kalam, modernisme, penerjemahan, postmodernisme, wacana

Kritik, Budaya dan Hegemoni: Benarkah Budaya Jawa Menghambat Kritik di Indonesia?

1993_Th2-No41_BD Kritik, Budaya dan Hegemoni-c

Heryanto, Ariel (1993) “Kritik, Budaya dan Hegemoni: Benarkah Budaya Jawa Menghambat Kritik di Indonesia?”, Bina Darma, 11 (41): 28-36.

kata kunci: Bina Darma, budaya, doxa, Gramsci, Jawa, keabsahan, kritik, hegemoni

Pembakuan Bahasa dan Totalitarianisme

Ilmuwan tak pernah bebas dari kuasa dan politik, juga linguis yang kelihatannya hanya sibuk menjungkir-balik ejaan kata, awalan, atau bunyi kata. Ia dan kerjanya dibentuk dari-oleh-untuk kuasa, walau tidak langsung bersifat kekuasaan politik kenegaraan

Heryanto, Ariel (1992) “Pembakuan Bahasa dan Totalitarianisme”, Kritis, 7 (2): 18-28.

kata kunci: bahasa, elitisme, fasisme, ideologi, instrumentalis, komodifikasi, Kritis, negara, pembakuan, totalitarianisme

Kelas Menengah Indonesia; Tinjauan Kepustakaan

Tidak hanya ada satu konsep atau teori untuk kajian kelas menengah Indonesia yang dapat dianggap sah, tepat, atau baik. Pernyataan ini tidak mengatakan semua/ sembarang konsep atau model teoritik sama saja nilainya.

Heryanto, Ariel (1990) “Kelas Menengah Indonesia; Tinjauan Kepustakaan”, Prisma, 19 (4): 52-71.

kata kunci: batasan, definisi, diskursif, empirik, epistemologis, kelas menengah, konsep, Prisma, teoritik, tinjauan

Berjangkitnya Bahasa-bangsa di Indonesia

Bahasa Indonesia “yang baik dan benar” merupakan komoditi yang langka. ‘Pengembangan serta pembinaan bahasa ini, menurut ketua pertama Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, membutuhkan “tenaga kerja, bahan baku, pengelolaan, dan dana”.

Heryanto, Ariel (1989) “Berjangkitnya Bahasa-bangsa di Indonesia”, Prisma, 18 (1): 3-16.

kata kunci: alat, bahasa, bangsa, global, instrumental, Jawa, konstruksi, Melayu, Pembangunan, Prisma, universal

Masihkah Politik Jadi Panglima?

Secara ringkas, kasaran , dan garis besar dapat dikenali ada empat ragam kesusasteraan yang hidup dalam masyarakat Indonesia mutakhir. Masing-masing mempunyai variasi dan dan saling keterkaitan, sehingga kategori yang diusulkan di sini dapat dikatakan tak lebih dari tipe ideal belaka: (i) yang diresmikan atau diabsahkan; (ii) yang terlarang; (iii) yang diremehkan; (iv) yang dipisahkan.

Heryanto, Ariel (1988) “Masihkah Politik Jadi Panglima?”, Prisma, 17(8): 3-16.

kata kunci: absah, Jawa, LEKRA, panglima, politik, Pramoedya Ananta Toer, Prisma, resmi, terlarang

LEKRA, Menurut Pihak Ketiga

Klik 1987_Th1-No4-Apr_KRITIS Lekra Menurut Pihak Ketiga-c

Lekra bukannya bertumbuh dari atau pun menjadi milik PKI, tetapi tradisi budaya dan intelektual Marxisme di Indonesia secara umum. Kegiatan politik PKI adalah salah satu penjelmaan dari tradisi itu, dan kegiatan Lekra merupakan penjelmaan berbeda dari tradisi yang sama

Heryanto, Ariel (1987) “LEKRA, Menurut Pihak Ketiga”, Kritis, 1(4): 84-89.

kata kunci: Keith Foulcher, Kritis, LEKRA, Manifes Kebudayaan, resensi buku

Kekuasaan, Kebahasaan dan Perubahan Sosial

Benarkah masyarakat membutuhkan pembinaan dan pengembangan bahasa? Benarkah ada yang tidak baik atau tldak benar pada bahasa masyarakat yang tidak dibina?

Heryanto, Ariel (1987) “Kekuasaan, Kebahasaan dan Perubahan Sosial”, Kritis, 1(3): 4-53.

kata kunci: bahasa, berpihak, gender, kolonial, Kritis, kuasa, perubahan sosial, Pembangunan, pembinaan, pengembangan, universal