Ita

Jika menemukan iklim yang tepat, sebuah kejahatan mendorong terjadinya kejahatan-kejahatan baru. Dusta melahirkan dusta-dusta lain.

Heryanto, Ariel (1998) “Ita”, Kompas, 18 Oktober 1998, hal. 2.

kata kunci: Asal Usul, impunitas, Ita, Komnas HAM, Kompas, LBH, Marthadinata, Mei 1998, pembunuhan, Tim Relawan untuk Kemanusiaan, Udin

Budiman Berbanding Soekarno

1997_04_26_DR Budiman Berbanding Soekarno-c

“Sebelum diadili, baik PNI Sukamo maupun PRD Budiman sempat dicaci maki oleh sejumlah organ pemerintah sebagai kekiri-kirian, revolusioner, dan reinkarnasi komunisme “walau dengan gerak-gerik yang tidak persis sama”. Yang tak kalah memukau adalah kemiripan bunyi dakwaan jaksa dalam sidang pengadilan yang terpisah jarak 67 tahun itu.”

Heryanto, Ariel (1997) “Budiman Berbanding Soekarno”, Detektif & Romantika, 26 April 1997, hal. 46.

kata kunci: Budiman, Detektif & Romantika, PNI, PRD, Soekarno, terdakwa, Undang-Undang Anti-Subversi

Hegemoni Kekuasaan versi Gramsci

Hegemoni bukan saja bersifat mengalah terhadap tuntutan musuh, tetapi juga menahan diri untuk tidak semata-mata memperjuangkan kepentingan sendiri secara vulgar. Yang dibutuhkan adalah “kemasan”. Kepentingan sendiri dibungkus dengan aneka kepentingan lain, sehingga tampil seakan mewakili kepentingan umum (misalnya, kepentingan nasional).

Heryanto, Ariel (1997) “Hegemoni Kekuasaan versi Gramsci”, Forum Keadilan, 6 (2), 5 Mei 1997, hal. 85.

kata kunci: civil society, dominasi, Forum Keadilan, Gramsci, hegemoni, ideologi, marxisme