Media Massa dan Publik Terpelajar

Jauh lebih banyak karya jurnalis yang dikutip mahasiswa dan dosen dalam makalah mereka, ketimbang sebaliknya. Hasil penelitian para sarjana yang dikutip jurnalis biasanya karya dari luar Indonesia.

Heryanto, Ariel (2016) “Media Massa dan Publik Terpelajar”, Tempo, 6-13/03/2016: 124-125.

kata kunci: akademik, Historia, IndoProgress, jurnalisme, Pantau, Prisma, publik, The Act of Killing, Time, Suharto

Ben Anderson: Tidak Ada Duanya

Klik 2015_12_13_CNN Indonesia Ben Anderson_ Tidak Ada Duanya-c

Heryanto, Ariel (2015) “Ben Anderson: Tidak Ada Duanya”, CNN Indonesia, 13/12/2015, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20151213180149-21-97899/ben-anderson-tidak-ada-duanya/

kata kunci: bahasa, Ben Anderson, CNN Indonesia, imagined communities , intelektual, George Kahin, kreativitas, Majalah Loka, Rex Mortimer, Universitas Cornell

Hoakiao-isasi Intelektual

Klik 2000_05_17_K Hoakiao-isasi Intelektual-c

Seperti di berbagai negara lain, makin hari makin banyak anak muda Indonesia belajar di luar tanah airnya. Ini satu mata rantai dari proses lebih besar yang dinamakan globalisasi. Semakin banyak orang lahir di sebuah daerah, katakanlah (A), bersekolah di kota (B), melanjutkan studi atau mulai bekerja di negara (C), berpacaran dan menikah dengan orang dari lain suku (D) atau agama (E) atau kebangsaan (F), mencapai puncak karir di negara yang sama sekali baru (G), dan menghabiskan masa tua di tempat berbeda (F), lalu mati dan dikuburkan di wilayah (H).

Heryanto, Ariel (2000) “Hoakiao-isasi Intelektual”, Kompas, 17 Mei 2000, hal. 30.

kata kunci: beasiswa, global, hoakiao, intelektual, Kompas, nonpribumi, pasca-sarjana, pendidikan tinggi, universitas

Geger Senyum Lamongan

Orang Indonesia dididik sejak kecil oleh orang tuanya agar banyak tersenyum bila berjumpa dan berinteraksi dengan orang lain. Tidak peduli apa konteks dan perasaan yang bersangkutan.

Heryanto, Ariel (2002) “Geger Senyum Lamongan”, Tempo, No. 39/XXXI/25 Nopember – 1 Desember 2002.

kata kunci: Amrozi, Australia, bom Bali, Da’i Bachtiar, Michel Camdessus, senyum, Soeharto, Tempo