Fenomena Pasca-Orde Baru

Yang kini melumpuhkan aktivisme mahasiswa bukan semprotan gas air mata Brimob, tapi semprotan parfum Paris. Daya tahan pejuang hak asasi manusia tak lagi diuji di ruang interogasi markas kodim atau polres. Tapi di plaza, coffee shop, diskotek, dan persaingan karir.

Heryanto, Ariel (1995) “Fenomena Pasca-Orde Baru”, Forum Keadilan, No.17, Th. IV, 4 Desember 1995, hal. 45.

kata kunci: Forum Keadilan, generasi, idola, iklan, jilbab, kapitalisme, Kopkamtib, militer, negara, pasar, pasca-Orde Baru, swasta

Sumpah Plesetan

Belakangan makna nasionalisme menyempit, menjadi penyeragaman, pemurnian, dan penunggalan. Dalam bahasa, budaya, politik, dan etika. Kebhinnekaan dicurigai, disensor, dicekal. Dicap kedaerahan, tidak pribumi, atau Barat. Asal diingat saja, istilah “Republik” maupun “Indonesia” dibuat orang Eropa.

Heryanto, Ariel (1995) “Sumpah Plesetan”, Kompas, 22 Oktober 1995, hal. 2.

kata kunci: Asal Usul, bhinneka, Kompas, Indo, nama, plesetan, Sumpah Pemuda