1995_11_19_JP Terlanjur Sayang Rendra-c
Heryanto, Ariel (1995) “Terlanjur Sayang Rendra”, Jawa Pos, 19 Nopember 1995, hal. 6.
kata kunci: bredel, cinta, Gatra, Jawa Pos, Nano Riantiarno, Rendra, Suksesi, Teater Koma
1995_11_19_JP Terlanjur Sayang Rendra-c
Heryanto, Ariel (1995) “Terlanjur Sayang Rendra”, Jawa Pos, 19 Nopember 1995, hal. 6.
kata kunci: bredel, cinta, Gatra, Jawa Pos, Nano Riantiarno, Rendra, Suksesi, Teater Koma
1995_11_06_FK Waspada Agitrop-OTB-c
Heryanto, Ariel (1995) “Waspada Agitprop-OTB”, Forum Keadilan, 15/IV, 6 November 1995, hal. 21.
kata kunci: Agitprop, agitasi, Bakin, fakta, fiksi, Forum Keadilan, intel, komunis, OTB, propaganda, Sutopo Yuwono
1995_11_05_SURABAYA POST Festival Ormas-c
Heryanto, Ariel (1995) “Festival Ormas”, Surabaya Post, 5 November 1995, hal. 3.
kata kunci: ABG, Forum Demokrasi, kaum muda, organisasi, massa, ormas, politik, sejarah, Surabaya Post
Belakangan makna nasionalisme menyempit, menjadi penyeragaman, pemurnian, dan penunggalan. Dalam bahasa, budaya, politik, dan etika. Kebhinnekaan dicurigai, disensor, dicekal. Dicap kedaerahan, tidak pribumi, atau Barat. Asal diingat saja, istilah “Republik” maupun “Indonesia” dibuat orang Eropa.
Heryanto, Ariel (1995) “Sumpah Plesetan”, Kompas, 22 Oktober 1995, hal. 2.
kata kunci: Asal Usul, bhinneka, Kompas, Indo, nama, plesetan, Sumpah Pemuda
1995_10_18_Bernas Mengakhiri Kemelut UKSW-c
Heryanto, Ariel (1995) “Mengakhiri Kemelut UKSW”, Bernas, 18 Oktober 1995, hal. 4.
kata kunci: Bernas, kritik, media massa, Moratorium, PHK, PTUN, UKSW
1995_10_14_JP Menyalahpahami Kekerasan-c
Heryanto, Ariel (1995) “Menyalahpahami Kekerasan”, Jawa Pos, 14 Oktober 1995, hal. 4.
kata kunci: 1965, Babad Tanah Jawa, Bertrand Russell, binatang, Ernest Renan, Hindia Belanda, intim, Jawa Pos, keamanan, kekerasan, ketertiban, masyarakat, stabilitas, Timor Timur
1995_10_12_Wawasan Kekerasan di UKSW-c
Heryanto, Ariel (1995) “Kekerasan di UKSW Salatiga”, Wawasan, 12 Oktober 1995, hal. 2.
kata kunci: kekerasan, KPD, PHK, PTUN, UKSW, Wawasan, Yusuf Kertanegara
1995_09_25_FK Permadi dan Saksi Ahli-c
Heryanto, Ariel (1995) “Permadi dan Saksi Ahli”, Forum Keadilan, No. 12, Th. IV, 25 September 1995, hal. 69.
kata kunci: Ashadi Siregar, diktator, Forum Keadilan, Haatzaai Artikelen, ITB, Lukman Hakim, otoriter, penghinaan, Permadi, Roger Scruton, saksi ahli-bahasa, Tanah Untuk Rakyat
1995_09_04_JP Sejarah dan Kaum Tersisih-c
Sejarah tidak mungkin menampilkan suara “otentik” dari bawah. Ia menceritakan gairah dan kuasa penulisnya. Tetapi, si penulis bukan oknum-oknum kreatif yang bisa bekerja semaunya memanipulasi data dan nara sumber. Mereka telah dikemas oleh sebuah disiplin akademik bernama ilmu sejarah.
Heryanto, Ariel (1995) “Sejarah dan Kaum Tersisih”, Jawa Pos, 4 September 1995, hal. 4.
kata kunci: Clifford Geertz, Edward Said, etnografi, ilmiah, Jawa Pos, Kuntowijoyo, lisan, netral, orientalisme, otentik, sejarah, tersisih
Selama 30 tahun ini, sengketa Lekra versus Manifes Kebudayaan menjadi topik favorit para tokoh Manifes Kebudayaan dan para pendukungnya. Lekra, sebagai pihak musuh mereka, hampir-hampir tidak pemah bernasib lebih baik daripada sebagai objek perbincangan dan kecaman. Seperti sansak bagi petinju.
Heryanto, Ariel (1995) “Tahu Diri (Etika Politik Geger Magsaysay 1995)”, Jawa Pos, Minggu, 27 Agustus 1995, hal. 11.
kata kunci: 1965, Humanisme Universal, Jawa Pos, LEKRA, Magsaysay, Manifes Kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer, Realisme Sosialis