Romantisme Indonesia

Dalam cakrawala romantisme, individu-individu (“tokoh”) menjadi pusat perhatian dalam gejolak sejarah sosial. Seakan-akan perubahan sosial ditentukan oleh kemauan dan kemampuan individu-individu.

Heryanto, Ariel (1993) “Romantisme Indonesia”, Jawa Pos, 21 April 1993, hal. 4, 10.

kata kunci: alam, Eropa, Jawa Pos, modern, realisme sosialis, romantisme, sastra, seniman, tokoh

Humanisme Kita Cuma Warisan Kolonialisme?

Paham humanisme yang kini telah pudar di negara barat itu, ternyata berkembang di negara berkembang di negara barat itu dibawa oleh kolonial dengan versi kolonial itu sendiri.

Heryanto, Ariel (1993) “Humanisme Kita Cuma Warisan Kolonialisme?”, Jawa Pos, 18 April 1993, hal. 8.

kata kunci: bahasa, Van Ophuijsen, dehumanisasi, humanisme, Jawa Pos, kolonial, sastra

Demam Seks di Indonesia

Masa sesudah tahun 1980-an ditandai oleh dua hal yang seakan-akan bertolak belakang. Di satu pihak muncul kebangkitan semangat dan solidaritas keagamaan yang meluap. Di pihak lain, gelombang keasyikan berbincang tentang seks. Keduanya menjadi simbol serta topik-topik diskusi, wawancara atau studi i1miah bagi berbagai kalangan, dengan minat dan kepentingan yang beraneka ragam.

Heryanto, Ariel (1993) “Demam Seks di Indonesia”, Bernas, 6 Maret 1993, hal. 4.

kata kunci: Bernas, demokrasi, Foucault, gender, moralitas, seks, swastanisasi, zinah

Kelas Menengah Kita yang Majemuk

Kita bertolak dari kerinduan dan komitmen pad a suatu “perubahan sosial” yang “struktural”, di mana “kelas” dianggap sebagai agen/lokasi yang strategis. Kita mencari pemahaman akan peluang dan hambatan yang ada di sekitar kita.

Heryanto, Ariel (1993) “Kelas Menengah Kita yang Majemuk”, Media Indonesia, 20 Februari 1993, hal. 4.

kata kunci: Erosentrisme, kelas menengah, majemuk, Marxian, Media Indonesia, moral, post –strukturalisme, post-modernisme, otonomi