1993_08_11_K Karya Seni, Bukan Santet-c
Heryanto, Ariel (1993) “Karya Seni, Bukan Santet”, Kompas, 11 Agustus 1993, hal. 4.
kata kunci: hukum, kesenian, Kompas, KUHP, modern, rasionalitas, santet, Tanah untuk Rakyat
1993_08_11_K Karya Seni, Bukan Santet-c
Heryanto, Ariel (1993) “Karya Seni, Bukan Santet”, Kompas, 11 Agustus 1993, hal. 4.
kata kunci: hukum, kesenian, Kompas, KUHP, modern, rasionalitas, santet, Tanah untuk Rakyat
1993_07_24_SM Siapa Berhak Keluarkan Izin Mencekal-c
Heryanto, Ariel (1993) “Siapa Berhak Keluarkan Izin Mencekal?”, Suara Merdeka, 24 Juli 1993, hal. VI.
kata kunci: Adnan Buyung Nasution, Arief Budiman, cekal, George Yunus Aditjondro, HAM, lAIN, ISA, sensor, Suara Merdeka, YB Mangunwijaya
Jangankan menciptakan ‘pemikiran besar’. Sekedar mempelajari pemikiran besar orang-orang lain dari bangsa sendiri dan bangsa lain dari zaman ini dan zaman lalu pun kita sering tidak diperbolehkan dengan berbagai ancaman hukum.
Heryanto, Ariel (1993) “Sensor Pemikiran Besar”, Jawa Pos, 4 Juli 1993, hal. 8.
kata kunci: intelektual, Jawa Pos, kebudayaan, krisis, sastra, sensor, struktur, subyek
1993_06_10_SM UKSW yang tengah jadi sorotan-c
Heryanto, Ariel (1993) “UKSW yang Tengah Jadi Sorotan”, Suara Merdeka, 10 Juni 1993, hal. 6.
kata kunci: informasi, industri, kejutan, oposisi, politik, Suara Merdeka, UKSW
1993_06_07_BERNAS Masyarakat Akademik Indonesia-c
Heryanto, Ariel (1993) “Masyarakat Akademik Indonesia”, Bernas, 7 Juni 1993, hal. 4.
kata kunci: Arena, Bernas, hak, IAIN Sunan Kalijaga, penindasan, pers, sensor, tanggungjawab
1993_04_21_SM Kita Kerap Melecehkan Kartini-c
Heryanto, Ariel (1993) “Kita Kerap Melecehkan Kartini”, Suara Merdeka, 21 April 1993, hal. 6.
kata kunci: gender, Kartini, pascakolonial, pelecehan, penindasan, perempuan, salon kecantikan, Suara Merdeka
Dalam cakrawala romantisme, individu-individu (“tokoh”) menjadi pusat perhatian dalam gejolak sejarah sosial. Seakan-akan perubahan sosial ditentukan oleh kemauan dan kemampuan individu-individu.
Heryanto, Ariel (1993) “Romantisme Indonesia”, Jawa Pos, 21 April 1993, hal. 4, 10.
kata kunci: alam, Eropa, Jawa Pos, modern, realisme sosialis, romantisme, sastra, seniman, tokoh
Paham humanisme yang kini telah pudar di negara barat itu, ternyata berkembang di negara berkembang di negara barat itu dibawa oleh kolonial dengan versi kolonial itu sendiri.
Heryanto, Ariel (1993) “Humanisme Kita Cuma Warisan Kolonialisme?”, Jawa Pos, 18 April 1993, hal. 8.
kata kunci: bahasa, Van Ophuijsen, dehumanisasi, humanisme, Jawa Pos, kolonial, sastra
1993_04_14_Bernas Geger Komputerisasi STNK BPKB-c
Heryanto, Ariel (1993) “Geger Komputerisasi STNK/BPKB”, Bernas, 14 April 1993, hal. 4.
kata kunci: Bernas, DPR, hukum, kapitalisme, kritik, KTP, stabilitas, STNK
1993_04_03_SM Budaya_Estetika Kekuasaan-c
Heryanto, Ariel (1993) “Budaya: Estetika Kekuasaan?”, Suara Merdeka, 3 April 1993, hal. 6.
kata kunci: Bambang Suteng Sulasmono, budaya, Cornelis Lay, estetika, haatzaai artikelen, kekuasaan, modernisasi, Suara Merdeka