1993_04_21_SM Kita Kerap Melecehkan Kartini-c
Heryanto, Ariel (1993) “Kita Kerap Melecehkan Kartini”, Suara Merdeka, 21 April 1993, hal. 6.
kata kunci: gender, Kartini, pascakolonial, pelecehan, penindasan, perempuan, salon kecantikan, Suara Merdeka
1993_04_21_SM Kita Kerap Melecehkan Kartini-c
Heryanto, Ariel (1993) “Kita Kerap Melecehkan Kartini”, Suara Merdeka, 21 April 1993, hal. 6.
kata kunci: gender, Kartini, pascakolonial, pelecehan, penindasan, perempuan, salon kecantikan, Suara Merdeka
Dalam cakrawala romantisme, individu-individu (“tokoh”) menjadi pusat perhatian dalam gejolak sejarah sosial. Seakan-akan perubahan sosial ditentukan oleh kemauan dan kemampuan individu-individu.
Heryanto, Ariel (1993) “Romantisme Indonesia”, Jawa Pos, 21 April 1993, hal. 4, 10.
kata kunci: alam, Eropa, Jawa Pos, modern, realisme sosialis, romantisme, sastra, seniman, tokoh
Paham humanisme yang kini telah pudar di negara barat itu, ternyata berkembang di negara berkembang di negara barat itu dibawa oleh kolonial dengan versi kolonial itu sendiri.
Heryanto, Ariel (1993) “Humanisme Kita Cuma Warisan Kolonialisme?”, Jawa Pos, 18 April 1993, hal. 8.
kata kunci: bahasa, Van Ophuijsen, dehumanisasi, humanisme, Jawa Pos, kolonial, sastra
1993_04_14_Bernas Geger Komputerisasi STNK BPKB-c
Heryanto, Ariel (1993) “Geger Komputerisasi STNK/BPKB”, Bernas, 14 April 1993, hal. 4.
kata kunci: Bernas, DPR, hukum, kapitalisme, kritik, KTP, stabilitas, STNK
1993_04_03_SM Budaya_Estetika Kekuasaan-c
Heryanto, Ariel (1993) “Budaya: Estetika Kekuasaan?”, Suara Merdeka, 3 April 1993, hal. 6.
kata kunci: Bambang Suteng Sulasmono, budaya, Cornelis Lay, estetika, haatzaai artikelen, kekuasaan, modernisasi, Suara Merdeka
1993_03_22_BERNAS Kebudayaan di Bawah Teknokrasi-c
Heryanto, Ariel (1993) “Kebudayaan di Bawah Teknokrasi”, Bernas, 22 Maret 1993, hal. 4.
kata kunci: Bernas, budaya, humanisme, individualisme, industri, orientalisme, teknologi, teknokrasi, Timur
Masa sesudah tahun 1980-an ditandai oleh dua hal yang seakan-akan bertolak belakang. Di satu pihak muncul kebangkitan semangat dan solidaritas keagamaan yang meluap. Di pihak lain, gelombang keasyikan berbincang tentang seks. Keduanya menjadi simbol serta topik-topik diskusi, wawancara atau studi i1miah bagi berbagai kalangan, dengan minat dan kepentingan yang beraneka ragam.
Heryanto, Ariel (1993) “Demam Seks di Indonesia”, Bernas, 6 Maret 1993, hal. 4.
kata kunci: Bernas, demokrasi, Foucault, gender, moralitas, seks, swastanisasi, zinah
Kita bertolak dari kerinduan dan komitmen pad a suatu “perubahan sosial” yang “struktural”, di mana “kelas” dianggap sebagai agen/lokasi yang strategis. Kita mencari pemahaman akan peluang dan hambatan yang ada di sekitar kita.
Heryanto, Ariel (1993) “Kelas Menengah Kita yang Majemuk”, Media Indonesia, 20 Februari 1993, hal. 4.
kata kunci: Erosentrisme, kelas menengah, majemuk, Marxian, Media Indonesia, moral, post –strukturalisme, post-modernisme, otonomi
1993_01_14_SM Seks dan Mitos Barat-Timur-c
Heryanto, Ariel (1993) “Seks dan Mitos Barat – Timur”, Suara Merdeka, 14 Januari 1993, hal. 6.
kata kunci: Barat, jatidiri, kodrat wanita, liberal, mitos, Suara Merdeka, seks, sensor, Timur
1992_12_24_SP Pesan Natal 1992-c
Heryanto, Ariel (1992) “Pesan Natal Tahun 1992: ‘Janganlah Takut’”, Suara Pembaruan, 24 Desember 1992, hal. 2.
kata kunci: kekerasan, Natal, Suara Pembaruan, takut, YB Mangunwijaya