Ujar Kebencian

Media sosial tidak menyebabkan hadirnya ujar kebencian. Ia hanya mempercepat dan memperluas sebaran pesan. Ujar kebencian bersumber dari luka sosial. Sedang luka sosial bersumber dari ketimpangan sosial yang sering diabaikan, disangkal atau dianggap normal, adil dan beradab.

Heryanto, Ariel (2023) “Ujar Kebencian”, Kompas, 19/08/2023, https://www.kompas.id/baca/opini/2023/08/18/ujar-kebencian

kata kunci: adab,caci-maki, hinaan, ketimpangan, sampah

Pascakolonial

Sebagian masyarakat masih berkubang dalam watak kolonial dan antikolonial. Semangat kolonial tampil dalam arogansi pejabat negara kontemporer yang menuntut disanjung dan dilayani rakyatnya, bukan melayani. Sementara yang antikolonial membalas rasisme kolonial masa lalu terhadap pribumi jelata dengan rasisme kontemporer terhadap semua yang dianggap non-pribumi.

Heryanto, Ariel (2023) “Pascakolonial”, Kompas, 15/07/2023, https://www.kompas.id/baca/opini/2023/07/14/pascakolonial

kata kunci: Barat, Bumi Manusia, dikotomi, Marais, pribumi, rasisme, Toer

Kajian Indonesia

Beberapa ahli dari masa kejayaan Kajian Indonesia berminat mewariskan harta pustaka mereka ke lembaga di Indonesia. Topik ini biasanya tidak dibahas terbuka. Dari bisik-bisik dengan beberapa pihak terkait, kesan saya jumlahnya tidak kecil.

Heryanto, Ariel (2023) “Kajian Indonesia”, Kompas, 10/06/2023, https://www.kompas.id/baca/opini/2023/06/08/kajian-indonesia

kata kunci: hibah, kolonial, Perang Dingin, perpustakaan, sarjana

Universitas

Tak mudah dipahami mengapa Indonesia berambisi besar pada ranking global yang kurang menghargainya. Terlebih sulit dipahami jika ambisi itu dikejar dengan berbagai sikap yang bertolak-belakang dengan norma pergaulan akademik internasional. Berikut ini beberapa contohnya.

Heryanto, Ariel (2023) “Universitas”, Kompas, 6/05/2023, https://www.kompas.id/baca/opini/2023/05/05/universitas

kata kunci: birokrasi, dosen, internasionalisasi, ranking, scopus

Pamer Kemewahan

Ketimpangan itu tak terelakkan, berkat berfungsinya sebuah tata masyarakat yang tidak adil. Bukan karena oknum pejabat yang korup. Yang mahakorup tata sosialnya. Semakin taat semua warganya mematuhi aturan dan bekerja keras, semakin melebar kesenjangan itu. Sebab aturan dan hukum itu sendiri berpihak pada kaum elite.

Heryanto, Ariel (2023) “Pamer Kemewahan”, Kompas, 25/03/2023, https://www.kompas.id/baca/opini/2023/03/24/pamer-kemewahan

kata kunci: ASN, kapitalis, kelas, oknum, selera, tata sosial, timpang

One propaganda film has haunted Indonesia

Indonesia remains unable to resolve, ignore or forget the multiple issues related to its violent past. Denials and repression of the issues have been the standard strategy. This has been responsible, at least in part, for the tendency to view the rise of Islamisation in an ahistorical fashion and the failure to recognise and control the legacies of past violence and impunity that has spilled into contemporary politics.

Heryanto, Ariel (2023) “One propaganda film has haunted Indonesia”, 360, 14/03/2023, https://doi.org/10.54377/29ac-2a58.

keywords: 1965, Blitar, Communist, G30S, massacres, New Order

Teater Koma

Sepanjang abad ke-20, diskusi tentang identitas Indonesia terperangkap serangkaian dikotomi: tradisi versus modern, Timur versus Barat, atau asli versus asing. Dikotomi demikian masih berlanjut hingga kini dengan berbagai istilah lain. Teater Koma adalah satu dari sedikit contoh jawaban jitu bagi pertanyaan besar tersebut.

Heryanto, Ariel (2023) “Teater Koma”, Kompas, 11/02/2023, https://www.kompas.id/baca/opini/2023/02/10/teater-koma

kata kunci: Komedie Stamboel, modern, Nano Riantiarno, Srimulat, tradisi

Marxisme

Jika hukum disusun secara sewenang-wenang dan sulit dilawan, ia akan dilahap masyarakat tanpa dikunyah. Lalu dimuntahkan kembali ke realitas sehari-hari secara kreatif, sesuai selera masing-masing. Hasilnya penuh kejutan dan kocak, sulit dijelaskan dengan marxisme, apalagi dengan ilmu hukum. Berikut ini beberapa contohnya.

Heryanto, Ariel (2023) “Marxisme”, Kompas, 7/01/2023, https://www.kompas.id/baca/opini/2023/01/06/marxisme

kata kunci: BIN, G30S/PKI, KUHP, Pancasila, seks, Sukarno

Jatah

Apa yang dapat diharapkan dari pemilu yang terfokus pada individu calon presiden? Puluhan juta pendukung bisa mengantar tokoh populer menuju istana lewat pemilu. Seusai hari pemilu, puluhan juta pendukung itu tidak ikut masuk istana dan meringankan kerja presiden. Jika ia bukan orang terkuat dari partai terkuat, ia akan kikuk di istana yang sudah lama terkepung aneka kekuatan lain. Jika tak ingin digulingkan seperti Gus Dur, ia harus melayani kepentingan berbagai pihak tersebut.

Heryanto, Ariel (2022) “Jatah”, Kompas, 26/11/2022, https://www.kompas.id/baca/opini/2022/11/25/jatah

kata kunci: elit, koalisi, partai politik, politik identitas, pemilu