#akademik #komunis #ordebaru #politikidentitas #pemilu2024
One propaganda film has haunted Indonesia
Indonesia remains unable to resolve, ignore or forget the multiple issues related to its violent past. Denials and repression of the issues have been the standard strategy. This has been responsible, at least in part, for the tendency to view the rise of Islamisation in an ahistorical fashion and the failure to recognise and control the legacies of past violence and impunity that has spilled into contemporary politics.
Heryanto, Ariel (2023) “One propaganda film has haunted Indonesia”, 360, 14/03/2023, https://doi.org/10.54377/29ac-2a58.
keywords: 1965, Blitar, Communist, G30S, massacres, New Order
Teater Koma
Sepanjang abad ke-20, diskusi tentang identitas Indonesia terperangkap serangkaian dikotomi: tradisi versus modern, Timur versus Barat, atau asli versus asing. Dikotomi demikian masih berlanjut hingga kini dengan berbagai istilah lain. Teater Koma adalah satu dari sedikit contoh jawaban jitu bagi pertanyaan besar tersebut.
Heryanto, Ariel (2023) “Teater Koma”, Kompas, 11/02/2023, https://www.kompas.id/baca/opini/2023/02/10/teater-koma
kata kunci: Komedie Stamboel, modern, Nano Riantiarno, Srimulat, tradisi
Marxisme
Jika hukum disusun secara sewenang-wenang dan sulit dilawan, ia akan dilahap masyarakat tanpa dikunyah. Lalu dimuntahkan kembali ke realitas sehari-hari secara kreatif, sesuai selera masing-masing. Hasilnya penuh kejutan dan kocak, sulit dijelaskan dengan marxisme, apalagi dengan ilmu hukum. Berikut ini beberapa contohnya.
Heryanto, Ariel (2023) “Marxisme”, Kompas, 7/01/2023, https://www.kompas.id/baca/opini/2023/01/06/marxisme
kata kunci: BIN, G30S/PKI, KUHP, Pancasila, seks, Sukarno
Jatah
Apa yang dapat diharapkan dari pemilu yang terfokus pada individu calon presiden? Puluhan juta pendukung bisa mengantar tokoh populer menuju istana lewat pemilu. Seusai hari pemilu, puluhan juta pendukung itu tidak ikut masuk istana dan meringankan kerja presiden. Jika ia bukan orang terkuat dari partai terkuat, ia akan kikuk di istana yang sudah lama terkepung aneka kekuatan lain. Jika tak ingin digulingkan seperti Gus Dur, ia harus melayani kepentingan berbagai pihak tersebut.
Heryanto, Ariel (2022) “Jatah”, Kompas, 26/11/2022, https://www.kompas.id/baca/opini/2022/11/25/jatah
kata kunci: elit, koalisi, partai politik, politik identitas, pemilu
1 Oktober
Apakah tanggal 1 Oktober layak diperingati dengan kibaran bendera nasional di puncak tiang sebagai warisan Orde Baru? Atau diturunkan setengah tiang untuk mengenang para korban tragedi nasional?
Heryanto, Ariel (2022) “1 Oktober”, Kompas, 22/10/2022, https://www.kompas.id/baca/opini/2022/10/21/1-oktober
kata kunci: hukum, impunitas, Kanjuruhan, kekerasan, pendidikan
Normal
Di awal abad ke-20 tidak terbayangkan warga pribumi kelak bisa menjadi kepala negara di wilayah ini. Yakni wilayah yang dipersatukan dengan harga mati oleh operasi militer kolonial.
Di awal abad ke-21 dianggap normal jika pemilu RI selalu menghasilkan presiden pria. Agamanya selalu sama. Juga etnisitasnya. Semua ini mungkin tampak absurd di awal abad ke-22.
Heryanto, Ariel (2022) “Normal”, Kompas, 10/09/2022, https://www.kompas.id/baca/opini/2022/09/09/normal
kata kunci: #gayahidup #kapitalisme #kolonial #ordebaru #penindasan #tren
Orasi Budaya
Budaya Pop
Pembajakan karya warga bawahan oleh elite merupakan kisah abadi yang berulang dalam sejarah. Begitulah sejarah musik jazz, rap dan tarian break-dance. Juga tato dan celana robek sebagai gaya hidup urban di kalangan elite gedongan.
Heryanto, Ariel (2022) “Budaya Pop”, Kompas, 6/08/2022, https://www.kompas.id/baca/opini/2022/08/02/budaya-pop
kata kunci: SCBD, Citayam, Dangdut, Inul
Demam 2024
terhitung sejak merdeka hingga 1998, di Indonesia belum pernah ada alih kuasa negara tanpa kekerasan besar-besaran. Korban utamanya jutaan rakyat jelata.
Heryanto, Ariel (2022) “Demam 2024”, Kompas, 25/06/2022, https://www.kompas.id/baca/opini/2022/06/24/demam-2024
kata kunci: alih kuasa, kenikmatan, maskulin, pemilu, revolusi
