Politik Ekonomi Film Kita

1990_11_06_SP Politik Ekonomi Film Kita-c

“Pedagang film, seperti pedagang apa pun, pada prinsipnya bekerja untuk mengejar laba. Pengertian “pada prinsipnya” tidak sama dengan “hanya”. Dia bukan lagi pedagang, jika pada prinsipnya bukan laba yang menjadi tujuan dan sasaran kerjanya.

Pedagang film pada prinsipnya tidak akan berusaha keras menekan kualitas film yang diproduksi agar bernilai serendah mungkin. Dia juga tidak akan berusaha supaya film yang diproduksi bernilai setinggi-tingginya. Pada prinsipnya dia tidak terlalu memperdulikan apakah nilai seni film itu tinggi, sedang, atau rendah. Yang penting baginya pertama-tama dan utama ialah laba maksimal yang dapat dikeruk dari hasil produksi film itu.”

Heryanto, Ariel (1990) “Politik Ekonomi Film Kita”, Suara Pembaruan, 6 November 1990, hal. II.

kata kunci: ekonomi, film, kelas sosial, politik, produser, selera, sensor, Suara Pembaruan

Kaya, Enak dan Perlu

Sementara ini banyak orang kaya yang berusaha mengobati problem psikologis mereka dengan berbondong-bondong giat mengikuti ibadah keagamaan atau aksi bakti-sosiaI. Gejala ini gamblang selama dasawarsa 1980-an. Tempat -tempat ibadah dipenuhi kaum ber parfum wangi dan bermobil mengkilap. Ada juga gejala religiusisasi bidang-bidang kehidupan pasar kapitalisme yang tadinya sangat sekuler.

Heryanto, Ariel (1990) “Kaya, Enak dan Perlu”, Editor, Th. IV, No.7, 27 Oktober 1990, hal. 99.

kata kunci: Bento, Editor, ideologi, kapitalisme, kaya, konglomerat, Megatrends 2000, Revolusi Kapitalisme

Seks, Ras, Politik

Ada orang Indonesia berkunjung ke Amerika Serikat. Dengan bergairah ia mengunjungi pusat perdagangan seks di New York. Setelah masuk-keluar salah satu bangunan di situ dia menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam tentang “rusaknya” moralitas bangsa kulit putih. Tapi lima menit kemudian dia memasuki bangunan lain di wilayah yang sama. Dia keluar dari situ sambil berdecak-decak lagi.

Heryanto, Ariel (1990) “Seks, Ras, Politik”, Tiara, 22 Juli 1990, hal. 65-67.

kata kunci: gender, kulit putih, normalisasi, pelecehan, perempuan, politik, ras, Selamat Tinggal Jeannette, seks, Tiara

Perempuan atau Wanita?

Pertentangan “wanita” dan “perempuan” hanyalah pertentangan dua makna yang terkubur dalam kamus-kamus tua. Pertentangan ini hanya penting bagi segelintir elit yang punya kemewahan dan kenikmatan membuka-buka kamus antik.

Heryanto, Ariel (1990) “Perempuan atau Wanita?”, Gala, 11 Februari 1990, hal. I, XI.

kata kunci: bahasa, Gala, makna, kamus, perempuan, wanita