1991_01_07 BERNAS_Fantasi Pop Tahun 1990-c
Heryanto, Ariel (1991) “Fantasi Pop Tahun 1990/1991”, Bernas, 7 Januari 1991, hal. IV.
kata kunci: Bernas, Cinderella, fantasi, Hollywood, nasib, Pretty Woman, Saur Sepuh
1991_01_07 BERNAS_Fantasi Pop Tahun 1990-c
Heryanto, Ariel (1991) “Fantasi Pop Tahun 1990/1991”, Bernas, 7 Januari 1991, hal. IV.
kata kunci: Bernas, Cinderella, fantasi, Hollywood, nasib, Pretty Woman, Saur Sepuh
Dalam proses perubahan sosial tampak ada suatu atau beberapa kelompok sosial yang (sengaja atau tidak) menjadi ujung tombak perubahan. Biasanya bukan karena mereka makhluk super. Tetapi karena pergolakan sejarah untuk sementara sedang menguntungkan mereka, menguatkan mereka dan memaksa mereka ber’ada di garis terdepan perubahan itu.
Heryanto, Ariel (1990) “Intelektual”, Editor, Th. IV, No. 14, 15 Desember 1990, hal. 78-79.
kata kunci: borjuis, Editor, intelektual, kelas menengah, kesenjangan, Pierre Bourdieu, perubahan, sejarah
Bagi kaum feminis, perkosaan adalah bentuk biadab dari penindasan wanita, sedang romantika cinta dan pernikahan merupakan bentuk penindasan berwajah canggih dan indah-memukau terhadap kaumnya. Pernikahan pada prinsipnya dianggap sebagai praktek subordinasi kaum wanita itu di bawah kekuasaan kaum pria. Itu sebabnya wanita dewasa yang bebas dari lembaga pernikahan (perawan-tua, janda, pelacur) selalu jadi ancaman bagi stabilitas kekuasaan pria.
Heryanto, Ariel (1990) “Cinta Romantis, Resah Feminis”, Tiara, 25 November 1990, hal. 54-55.
kata kunci: cinta, feminis, Karmila, nikah, perkosaan, romantis, Tiara
1990_11_06_SP Politik Ekonomi Film Kita-c
“Pedagang film, seperti pedagang apa pun, pada prinsipnya bekerja untuk mengejar laba. Pengertian “pada prinsipnya” tidak sama dengan “hanya”. Dia bukan lagi pedagang, jika pada prinsipnya bukan laba yang menjadi tujuan dan sasaran kerjanya.
Pedagang film pada prinsipnya tidak akan berusaha keras menekan kualitas film yang diproduksi agar bernilai serendah mungkin. Dia juga tidak akan berusaha supaya film yang diproduksi bernilai setinggi-tingginya. Pada prinsipnya dia tidak terlalu memperdulikan apakah nilai seni film itu tinggi, sedang, atau rendah. Yang penting baginya pertama-tama dan utama ialah laba maksimal yang dapat dikeruk dari hasil produksi film itu.”
Heryanto, Ariel (1990) “Politik Ekonomi Film Kita”, Suara Pembaruan, 6 November 1990, hal. II.
kata kunci: ekonomi, film, kelas sosial, politik, produser, selera, sensor, Suara Pembaruan
Sementara ini banyak orang kaya yang berusaha mengobati problem psikologis mereka dengan berbondong-bondong giat mengikuti ibadah keagamaan atau aksi bakti-sosiaI. Gejala ini gamblang selama dasawarsa 1980-an. Tempat -tempat ibadah dipenuhi kaum ber parfum wangi dan bermobil mengkilap. Ada juga gejala religiusisasi bidang-bidang kehidupan pasar kapitalisme yang tadinya sangat sekuler.
Heryanto, Ariel (1990) “Kaya, Enak dan Perlu”, Editor, Th. IV, No.7, 27 Oktober 1990, hal. 99.
kata kunci: Bento, Editor, ideologi, kapitalisme, kaya, konglomerat, Megatrends 2000, Revolusi Kapitalisme
1990_09_03_JP Meratapi Kelas Menengah-c
Heryanto, Ariel (1990) “Meratapi Kelas Menengah”, Jawa Pos, 3 September 1990, hal. IV.
kata kunci: burjuis, determinisme, ekonomi, etos, Jawa Pos, kelas menengah
1990_09_02_TIARA Stereotip Ke-Cina-an-c
Heryanto, Ariel (1990) “Stereotip Ke-Cina-an”, Tiara, 2 September 1990, hal. 16-17.
kata kunci: Baba, burjuis, Cina, kelas menengah, peranakan, stereotip, Tiara
Ada orang Indonesia berkunjung ke Amerika Serikat. Dengan bergairah ia mengunjungi pusat perdagangan seks di New York. Setelah masuk-keluar salah satu bangunan di situ dia menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam tentang “rusaknya” moralitas bangsa kulit putih. Tapi lima menit kemudian dia memasuki bangunan lain di wilayah yang sama. Dia keluar dari situ sambil berdecak-decak lagi.
Heryanto, Ariel (1990) “Seks, Ras, Politik”, Tiara, 22 Juli 1990, hal. 65-67.
kata kunci: gender, kulit putih, normalisasi, pelecehan, perempuan, politik, ras, Selamat Tinggal Jeannette, seks, Tiara
1990_06_13_K Dinamika Budaya dalam Kapitalisme Indonesia-c
Heryanto, Ariel (1990) “Dinamika Budaya dalam Kapitalisme Indonesia”, Kompas, 13 Juni 1990, hal. IV, V.
kata kunci: budaya, Iwan Fals, kapitalisme, Kompas, material, mental, Swami
1990_04_21_SP Secara Global Kaum Wanita Masih Tertindas-c
Heryanto, Ariel (1990) “Secara Global Kaum Wanita Masih Tertindas”, Suara Pembaruan, 21 April 1990, hal. II, XI.
kata kunci: diskriminasi, gender, global, seksual, Suara Pembaruan, Sulastri, Susi Susanti, wanita