WWR 1999_10_10 K_Pertarungan Belum Selesai-c
“Pertarungan Belum Selesai”, wawancara Bre Redana, Kompas, 10/10/1999.
kata kunci: Bulan Bahasa, Marxisme, Sukarno, Supersemar, wacana
WWR 1999_10_10 K_Pertarungan Belum Selesai-c
“Pertarungan Belum Selesai”, wawancara Bre Redana, Kompas, 10/10/1999.
kata kunci: Bulan Bahasa, Marxisme, Sukarno, Supersemar, wacana
WWR 1999_02_10_ADIL Wiranto Pasti Bermain Di Belakang
“Wiranto Pasti Main Di Belakang”, wawancara, Adil, 10/02/1999.
kata kunci: Amien Rais, elit, pasca-Orde Baru, rakyat, Wiranto
Gaya hidup tidak tergantung pada berapa uang Anda. Gaya hidup bukan monopoli orang kaya. Sebaliknya tidak semua orang kaya punya gaya hidup yang hebat. Gaya hidup lebih merupakan ekspresi kreativitas estetika. Cuma saja pada orang kaya, ekspresi itu diterjemahkan dalam bentuk teknologi dan sejumlah acara padat-modal. Supaya tampak eksklusif.
“Hidup Tanpa Gaya Hidup”, wawancara Dedeh, Tiara, 210 (Oktober) 1998.
kata kunci: budaya, estetika, gaya hidup, kaya, kemasan, konsumsi, miskin, selera
WWR 1998_06_26_B Ada Kelompok Yang Sengaja Dikirim-c
“Ada Kelompok yang Sengaja Dikirim”, wawancara, Bernas, 26/06/1998, hal.1, 7.
kata kunci: Cina, Mei 1998, militer, perkosaan, rasisme
WWR 1997_11_10_TIRAS Kita Dilatih Takut Ber-BI-c
Tadinya memang namanya bukan bahasa Indonesia, tetapi bahasa Melayu. Dan karakternya yang terpenting adalah keterbukaan yang luar biasa. Keterbukaan untuk menerima pengaruh dari bahasa-bahasa yang macam-macam. Ini saya kira pelajaran yang terpenting untuk kita di zaman apa pun, bahwa keterbukaan dan pertemuan antarbudaya merupakan sumber dinamika dan energi yang luar biasa.
Sekarang ini kan di mana-mana banyak orang justru mengejar keaslian, kemurnian sesuatu, dan mencoba membersihkan campur-aduk percampuran berbagai macam kebudayaan. Ini justru menakutkan sekali. Justru kalau kita lihat, bahasa Melayu itu menerima apa saja. Bahasa Arab ditampung. Bahasa Portugis ditampung. Bahasa Inggris, bahasa Cina ditampung. Bahasa Jawa ditampung.
“Kita Dilatih Takut Berbahasa Indonesia”, wawancara Anton Bahtiar Rifa’i, Tiras, 3(41/ 10 Nopember) 1997: 56-58.
kata kunci: asing, bahasa, elitisme, keraton, Melayu, pedagang, terbuka
Catatan: bagian akhir terpotong.
WWR 1996_XXV-234_BUSOS Semua Mahluk di Bumi Itu Nonpri-c
“Semua Mahluk di Bumi Ini ‘Non-Pribumi’”, wawancara, Busos, XXV (234), 1996: 6-23.
kata kunci: borjuasi, Cina, etnisitas, kolonial, konstruksi sosial, material, non-pribumi, stereotipe, To Liang To
WWR 1996_08_20 TARGET Orang Akan Berpikir Ulang Untuk Turun Ke Jalan-c
“Orang Akan Berpikir Ulang Untuk Turun Ke Jalan”, wawancara, Target, 1 (15), 20-26 Agustus 1996: 11.
kata kunci: demonstrasi, komunis, PDI, PRD, Sandyawan
WWR 1996_02_24_SM Sebuah Era untuk Pengusaha-c
“Sebuah Era Untuk Pengusaha”, wawancara, Suara Merdeka, 24/02/1996: 7.
kata kunci: hukum, izin, kritik, pengusaha, protes, sensor
WWR 1996_01_04_TIRAS Negara Berbagi Dengan Pengusaha-c
T:Perkembangan politik apa yang paling substantif selama tahun 1995?
J: Perkembangan politik paling penting selama tahun lalu, atau katakanlah selama dua-tiga tahun terakhir, adalah suatu transisi menuju apa yang sebut sebagai pasca-Orde Baru. . . . Pusat kekuasaan, saya katakan lagi, beralih dari birokrasi negara, baik sipil maupun militer. Kalaupun tidak turun atau tidak kehilangan kekuasaan, minimal mereka harus berbagi dengan pengusaha. Di DPR itu bukan cuma jumlah ABRI yang berkurang. Tapi profesional dan pengusaha di sana sekarang ini bertambah. PP 20/94, itu suatu “Supersemar” dari kekuasaan negara ke modal asing dan modal domestik.
“Negara Harus Berbagi dengan Pengusaha”, wawancara H. W. Setiawan, Tiras, 1(4/Januari) 1996: 45.
kata kunci: Asia, kapitalisme, pasca-Orde Baru, pengusaha, transisi
WWR 1995an_Karena slogan Luberdan Jurdil-c
“Karena slogan Luber dan Jurdil”, Swadesi, 1995-an, tanggal dan tahun tidak jelas.
kata kunci: ABRI, Golkar, ormas, OTB, slogan