Dua Tahun Kemudian

2000_08_20_TEMPO Dua Tahun Kemudian-c

Heryanto, Ariel (2000) “Dua Tahun Kemudian”, Tempo, 20 Agustus 2000, hal. 72-73.

kata kunci: Akbar Tandjung, Ferdinand Marcos, Golkar, Gus Dus, KKN, Megawati, pasca-Orde Baru, people’s power, pers, Tempo, TNI

Geger Senyum Lamongan

2002_11_25_TEMPO Geger Senyum Lamongan-c

Heryanto, Ariel (2002) “Geger Senyum Lamongan”, Tempo, No. 39/XXXI/25 Nopember – 1 Desember 2002.

kata kunci: Amrozi, Australia, bom Bali, Da’i Bachtiar, Michel Camdessus, senyum, Soeharto, Tempo

Globalisasi: dari Buruh sampai Mahaguru

Klik 2003_06_29_TEMPO Globalisasi dari Buruh sampai Mahaguru-c

walau terbukti ada yang mau dan mampu membayar puluhan juta per tahun untuk biaya hidup dan pendidikan, orang Indonesia memilih pendidikan tinggi di negeri lain. Ini sebuah bukti ketidakpercayaan mereka kepada kualitas jasa pendidikan di tanah air sendiri, terlepas dari benar atau tidaknya penilaian itu.

Akibatnya, dana besar yang khusus disiapkan untuk pendidikan oleh dan bagi orang Indonesia itu masuk ke kas lembaga pendidikan di luar negeri. Seandainya dana ini berputar di Indonesia sendiri, bukan hanya gaji dosen dan pegawai administrasi universitas yang dapat ditingkatkan. Dinamika intelektual mereka juga mungkin meluber ke perdebatan publik di luar kampus.

Heryanto, Ariel (2003) “Globalisasi: dari Buruh sampai Mahaguru”, Tempo, No. 18/XXXII/29 Juni – 06 Juli 2003.

kata kunci: buruh, globalisasi, pasar, pendidikan, penelitian, prestasi, publikasi,Tempo

Teroris, Katanya

2003_09_14_K-AU Teroris, Katanya-c

“Menyalahkan Islam, hanya karena “katanya” aneka bom diledakkan terorisme Jemaah Islamiyah, sama parahnya dengan melarang marxisme dan komunisme hanya “katanya” Orde Baru ada pemberontakan bernama G30S/PKI.”

Heryanto, Ariel (2003), “Teroris, Katanya”, Kompas, 14/09/2003.

kata kunci: Amrozi, Asal Usul, fobia, Islam, Jemaah Islamiyah, Kompas, komunisme, marxisme, propaganda, terorisme

Metropolis

2004_01_04_K-AU Metropolis-c

“Orang Asia tidak perlu terbang jauh-jauh ke belahan Bumi lain untuk meraba-raba puncak modernitas Barat. Singapura, menyediakan sebagian contohnya pada jarak sangat dekat, cara lebih mudah, dan ongkos lebih murah. Modernitas dalam soal-soal sepele begitu-bukan “Demokrasi” dengan huruf besar D-yang didambakan kelas menengah Jakarta, dan mungkin kelas-kelas lain di seluruh Asia.”

Heryanto, Ariel (2004) “Metropolis”, Kompas, 4/01/2004.

kata kunci: Asal Usul, Asia, Australia, Bangkok, kelas menengah, Kompas, modernitas, santun, Singapura, Ulil Abshar-Abdalla