Sejarah Bukan Propaganda

Berbeda dari indoktrinasi, pendidikan sejarah terbuka pada berbagai versi narasi tentang masa lampau. Sejarah bukan propaganda tentang dunia yang hitam-putih. Bukan sekadar kumpulan fakta, nama orang, tanggal dan peristiwa di masa lampau untuk dihafalkan anak didik. Wajar ada banyak versi sejarah. Di tangan para sarjana yang profesional, ilmu sejarah tidak dimaksudkan menyajikan kebenaran tunggal tentang masa lampau.

Heryanto, Ariel (2025) “Sejarah Bukan Propaganda”, Kompas, 17/05/2025, https://www.kompas.id/artikel/sejarah-bukan-propaganda

kata kunci: indoktrinasi, narasi, Orde Baru, revisi, sarjana

Dwifungsi Tidak Kembali

Bagaimana mau menuntut mereka kembali ke barak, jika tak cukup barak yang memadai untuk profesi terhormat itu? Tapi buat apa pendidikan militer dan barak yang bagus, jika karier para senior mereka bermuara pada jabatan manajer perusahaan, direktur lembaga sipil, atau birokrasi negara? Bukan prestasi militer.

Heryanto, Ariel (2025) “Dwifungsi Tidak Kembali”, Kompas, 5/04/2025, https://www.kompas.id/artikel/dwifungsi-tidak-kembali

kata kunci: militer, militerisme, polisi, profesional, sipil, teritorial

#KaburAjaDulu

Berpindah kerja ke negara lain tidak mudah dalam hal finansial, birokratis ataupun kultural. Apalagi sejak berjayanya populisme politik kanan yang rasis dan anti-migran di banyak negara besar. Jika mayoritas kelas menengah tidak kabur, mungkin karena kondisi mereka tidak sejelek yang dialami kaum jelata.

Heryanto, Ariel (2025) “#KaburAjaDulu”, Kompas, 22/05/2025, https://www.kompas.id/artikel/kaburajadulu-2

kata kunci: Eksil, Indonesia Gelap, kelas menengah, proletarisasi, TKI

Pram yang Saya Kenal

Saya berharap berbagai perayaan tidak sekadar memuja seorang tokoh dan kehebatannya dalam kemasan yang serba manis sesuai selera politik dan moral yang dominan di masa kini. Saya berharap nasib Pram tidak seperti Soekarno atau Kartini yang dirayakan secara nasional setelah dilucuti dari aspek-aspek yang radikal.

Heryanto, Ariel (2025) “Pram yang Saya Kenal”, Kompas.ID, 13/02/2025, https://www.kompas.id/artikel/pram-yang-saya-kenal

kata kunci: Jejak Langkah, pasca-kolonial, LEKRA, Pramoedya Toer, Sang Pemula

Racial Discrimination as a Paradox

More than any other ethnic minority group, Chinese Indonesians have been the easiest and most frequent target of mass violence. The May 1998 incident was but one of the worst cases in many decades. It is the most recent and most documented case of large-scale anti-Chinese violence. Curiously, it also marks the beginning of a significant change in a long history of such violence.

Heryanto, Ariel (2024), “Racial Discrimination as a Paradox”, Tintin Wulia: Things-in-Common, exhibition catalogue, Hiroshima, 21/09/2024-05/01/2025, Hiroshima City Museum of Contemporary Art

keywords: Chinese, ethnicity, Indonesian, May 1998, middle class, New Order

Surat dari Pram

Saya mulai bersurat dengan Pram kira-kira setahun sebelum pertama kali bertamu ke rumahnya. Saya memperkenalkan diri dan mengirimkan sebuah naskah esai saya untuk dikomentari. Tidak terduga, beliau sudah membalas empat hari kemudian. Surat jawabannya setebal delapan halaman, ditik satu spasi di atas kertas berukuran A5.

Heryanto, Ariel (2025) “Surat dari Pram”, Kompas, 18/01/2025, https://www.kompas.id/artikel/surat-dari-pram

kata kunci: Bung Karno, Hoakiau di Indonesia, Orde Baru, Pramoedya A Toer, Sang Pemula, sastra

Pajak Bukan Palak

Kebijakan pajak tidak melenyapkan kesenjangan sosial. Yang diusahakan pemerintah hanya menjaga agar ketimpangan itu tidak berlebihan sehingga menyulut revolusi dari bawah yang menuntut perombakan sosial secara radikal.

Heryanto, Ariel (2024) “Pajak Bukan Palak”, Kompas, 14/12/2024, https://www.kompas.id/artikel/pajak-bukan-palak

kata kunci: agama, kesejahteraan, ketimpangan, nasional, pemilu

Mendadak Doktor

Gelar doktor dibutuhkan mereka yang ingin menjadi dosen di universitas. Namun, kini gelar doktor diminati banyak sarjana yang bukan dosen dan tidak berminat menjadi dosen. Gelar itu bahkan diminati tidak sedikit politikus Indonesia.

Heryanto, Ariel (2024) “Mendadak Doktor”, Kompas, 9/11/2024, https://www.kompas.id/baca/opini/2024/11/08/mendadak-doktor

kata kunci: akademikus, dosen, gelar, joki, politikus, universitas

Mengakhiri Masa Jabatan

Seperti Sukarno mau pun Suharto, Jokowi berkuasa tanpa saingan politikus yang menandingi popularitasnya. Maka posisinya sangat aman dan nyaman. Tapi posisi begitu membuat ego mereka membengkak besar berbisul. Popularitas berlimpah yang tersedia bukannya dihargai, dijaga, dipelihara dan diolah jadi modal untuk mengakhiri jabatan secara elok. Modal itu disepelekan dan disia-siakan. Akibatnya sungguh tragis.

Heryanto, Ariel (2024) “Mengakhiri Masa Jabatan”, Omong-omong, 4/10/2024, https://omong-omong.com/mengakhiri-masa-jabatan/

kata kunci: Jokowi, karir , Lee Kuan Yew , Marcos, pension, Prabowo, Suharto

Naturalisasi

Naturalisasi pemain sepak bola di Indonesia hanya mengikuti tren global. Jika besar manfaatnya, mengapa obral naturalisasi tidak dilakukan Indonesia dari dulu-dulu? Mengapa banjir naturalisasi tidak terjadi di bidang pendidikan, kesehatan atau politik di negeri ini? Mengapa wajah-wajah oriental atau negroid atau kaukasian tidak beramai-ramai tampil dalam pimpinan partai politik, parlemen atau kabinet negara?

Heryanto, Ariel (2024) “Naturalisasi”, Kompas, 5/10/2024, https://www.kompas.id/baca/opini/2024/10/04/naturalisasi

kata kunci: bangsa, jatidiri, Kanjuruhan, nasion, pribumi, sepak bola