Benci tapi Rindu: Globalisasi

Yang lebih ironis dan serius, walau sudah bertekad mengglobal, banyak kalangan akademik Indonesia yang menolak keras gagasan hadirnya universitas asing di Indonesia. Apalagi gagasan pengangkatan ilmuwan asing sebagai Rektor untuk universitas di Indonesia.

Heryanto, Ariel (2018) “Benci tapi Rindu: Globalisasi”, Kumparan, 14/03/2018, https://kumparan.com/ariel-heryanto/benci-tapi-rindu-globalisasi

kata kunci: asing, lokal, kapitalisme, modernitas, nasional, universitas

Ahok, Penista Kemasan Politik

2016_11_17_CNN Ahok, Penista Kemasan Politik-c

“Menurut saya, hanya mereka yang buta-politik akan berbantah melulu soal agama dan adu-kutipan ayat suci dalam menanggapi kasus Ahok. Apakah Ahok bersalah atau tidak secara keagamaan, kurang menarik perhatian saya. Juga apakah dia bersalah atau tidak secara hukum.

Sejauh pengamatan saya, kesalahan pertama dan utama Ahok selama ini adalah berpolitik tanpa basa-basi atau kemasan apa pun.”

 

Heryanto, Ariel (2016) “Ahok, Penista Kemasan Politik”, CNN Indonesia, 17/11/206, https://www.cnnindonesia.com/kursipanasdki1/20161116193018-517-173127/ahok-penista-kemasan-politik/

kata-kunci: agama, Bourdieu, Jokowi, kelas sosial, Pilkada DKI,

Dari Kencing Onta sampai PKI

Klik 2018_01_11_M_Dari Kencing Onta sampai PKI-c

“Tidak ada wacana, tuduhan, umpatan, atau pujian yang secara alamiah atau tiba-tiba, punya bobot mengangkat atau membanting martabat seseorang. Bobot itu harus disusun dan dipasarkan dengan modal besar dan kerja keras sebelum diterima atau ditolak masyarakat. Ini berlaku untuk semua kisah: dari kisah mukjizat kencing Onta sampai kisah bahaya PKI.”

Heryanto, Ariel (2018) “Dari Kencing Onta sampai PKI”, Mojok, 11/01/2018, https://mojok.co/arl/esai/dari-kencing-onta-sampai-pki/

kata-kunci: Budi Pego, G-30-S, Gerwani, Hoax, Jokowi, tahayul

Hiruk pikuk ‘bahaya’ komunis: sampai kapan?

Kapan Indonesia bisa reda dari hiruk pikuk hantu komunisme? Jawabnya: bila sudah ada alat lain yang bisa dimanfaatkan para politikus untuk ambisi politiknya. Tidak penting apakah itu komunisme atau Islam. Yang penting sejauh mana atribut itu bisa dimanipulasi untuk kepentingan politik mereka.

Selama alat pengganti itu belum ada, stigma dan hantu komunis akan terus diproduksi, disebarkan untuk mengaduk-aduk emosi dan akal masyarakat yang lembek logika.

Heryanto, Ariel (2017) “Hiruk pikuk ‘bahaya’ komunis: sampai kapan?”, The Conversation, 27/09/2017, https://theconversation.com/hiruk-pikuk-bahaya-komunis-sampai-kapan-84658

kata-kunci: bahaya komunis, Islam, Jokowi, Orde Baru, pengetahuan

Solidaritas Tersisih untuk Indonesia

2016_09_05_CNN Solidaritas Tersisih untuk Indonesia-c

“Di sepanjang sejarah bangsa ini, tidak ada film yang memberikan dampak politik sehebat Indonesia Calling (1946, Joris Ivens) dan The Act of Killing (2012, Joshua Oppenheimer).

Keduanya layak dibahas bersamaan. Sayang, hingga kini kalangan pengamat film, sejarah maupun politik Indonesia, membahas film yang satu tanpa menyinggung yang lain. Seakan-akan keduanya berbicara tentang dua negara yang berbeda.

Membandingkan kedua film tersebut terasa lebih layak, karena sejumlah kemiripan proses produksi mereka.”

Heryanto, Ariel (2016) “Solidaritas Tersisih untuk Indonesia”, CNN Indonesia, 05/09/2016, http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20160905105551-221-156107/solidaritas-tersisih-untuk-indonesia/

kata kunci: Australia, Belanda, Indonesia Calling, Joris Ivens, LEKRA, Marxisme-Komunisme, palu-arit, solidaritas buruh, The Act of Killing.

Rasisme Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan RI

Klik 2016_08_12_CNN Rasisme Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan RI-c

“Rasisme menjadi salah satu dasar kolonialisme di tanah jajahan Hindia Belanda. Rasisme kolonial ini menciptakan sosok mahluk yang kini bernama ‘pribumi’. Setelah penduduk jajahan ini merdeka, rasisme kolonial itu bukannya dibuang, tapi dilestarikan dengan sedikit perubahan, yakni menukar posisi ras yang dimuliakan dan dinistakan.”

 Heryanto, Ariel (2016) “Rasisme Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan RI”, CNN Indonesia, 12/08/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160812104757-21-150900/rasisme-sebelum-dan-sesudah-kemerdekaan-ri/

kata kunci: Hindia Belanda, internasionalisme, kolonial, nasional, rasisme, sejarah

Menghormati Keputusan Pengadilan Rakyat 1965

Klik 2016_07_21_CNN Menghormati Keputusan Pengadilan Rakyat 1965-c

Banjir darah 1965 di Indonesia terjadi berkat restu dan dukungan berbagai pihak asing terhadap para penjagal sebagian warga Indonesia terhadap saudara sebangsa setanah air. Pembantaian itu sebelumnya didorong oleh konflik politik dalam negeri, yang pada gilirannya berinduk pada konflik global bernama Perang Dingin.

Aneh, jika penyelesaian kasus 1965 dianggap sebagai monopoli Indonesia, dikurung dalam sangkar bernama ‘urusan dalam negeri’ yang tidak perlu atau tidak boleh melibatkan pandangan dan tanggung jawab atau kerjasama ‘pihak asing’.

Heryanto, Ariel (2016) “Menghormati Keputusan Pengadilan Rakyat 1965”, CNN Indonesia, 21/07/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160721090759-21-146043/menghormati-keputusan-pengadilan-rakyat-1965/

kata kunci: anti-asing, Hindia Belanda, IPT 1965, kolonial, penyangkalan

Propaganda

Kerukunan kelas atas dan ketenteraman kelas menengah merupakan kunci stabilitas. Tak ada perubahan sosial tanpa keretakan elite. Yang dapat diharapkan dari propaganda adalah agar mereka yang makan gaji dari ketimpangan tata-sosial tidak melihat ketimpangan itu.

Heryanto, Ariel (1996) “Propaganda”, Forum Keadilan, Th. V, No. 14, 21 Oktober 1996, hal. 56.

kata kunci: antikomunisme, slogan, pendidikan, kelas sosial

Kapan Kambuhnya Bahaya PKI?

Klik 2016_05_10_CNN Kapan Kambuhnya Bahaya PKI-c

Peringatan akan bahaya komunis di masa ini dianggap berlebihan oleh banyak pihak. Mereka menertawakannya sebagai ketololan yang sangat konyol. Sebagian dari yang geli tampaknya jadi usil membuat gambar palu-arit, sekedar untuk mengolok-olok ketololan itu.

Apakah masalahnya hanya berhenti di situ? Hanya ketololan yang disambut keusilan? Menurut saya tidak. Kambuhnya beberapa isu politik seperti “bahaya Komunis” penting. Ia ibarat sirine yang menandakan memanasnya gesekan di kalangan elite politik.

Heryanto, Ariel (2016) “Kapan Kambuhnya Bahaya PKI?”, CNN Indonesia, 10/05/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160510094659-21-129620/kapan-kambuhnya-bahaya-pki/

kata kunci: 1988, bahaya Komunis, Cina, konflik elite, PKI

Negara dan Maaf 1965

Kerangka berpikir “1965-sebagai-konflik-horisontal” tidak saja membebaskan Negara dari gugatan politik, moral, kultural, dengan atau tanpa gugatan legal, sebagai penanggung-jawab terbesar banjir darah 1965. Bila kita mereproduksi kerangka berpikir itu, kita ikut meneruskan tradisi Orde Baru mengadu-domba antar golongan dalam masyarakat.

Heryanto, Ariel (2016) “Negara dan Maaf 1965”, Tempo, 8/05/2016: 90-91.

kata kunci: 1965, korban, maaf, negara, konflik horizontal, Simposium