Jin, Jender, Jenderal

Di dunia nyata, perempuan ditakut-takuti, ditindas, dan dilecehkan, tetapi di dunia fiksi dan fantasi, perempuan menakutkan (pria) setengah mati karena tidak dapat diteror dengan preman, ditembak senapan, ditindas lewat undang-undang, atau dilecehkan atas nama kodrat dan para dewa.

Nasibnya mirip dengan komunis di zaman Orde Baru. Jasadnya diganyang di dunia, tetapi rohnya ditakuti gentayangan sebagai hantu.

Heryanto, Ariel (2003) “Jin, Jender, Jenderal”, Kompas, 30/03/2003.

kata kunci: fiksi, horor, ideologi, jender, komunis, preman, Suzanna

Pop

Inul lain! Ia tidak naik panggung dan menyapa penonton dengan “Assalamu’alaikum” atau “Selamat malam hadirin”. Ia berbicara dalam bahasa Jawa Ngoko yang dianggap kasar oleh kaum priyayi.

Ia tidak bicara tentang “goyang pinggul” seperti para pembahasnya. Ia bertanya pada penonton apakah “bokong” (pantat) miliknya “gede” (besar). Ketika penonton bersorak mengiyakan, Inul menjawab “Alhamdulilah”.

Heryanto, Ariel (2003) “Pop”, Kompas, 2/03/2003.

kata kunci: budaya pop, massa, Inul Daratista, Koes Bersaudara, VCD

Mayoritas?

Klik 2003_10_12_k mayoritas-c

Kelompok “terbanyak” tidak selalu sama dengan yang terbaik dan tidak selalu berhak mendapatkan wewenang istimewa. Misalnya mayoritas orang Indonesia terlibat dalam praktik korupsi-baik sebagai korban maupun penikmat.

Heryanto, Ariel (2003) “Mayoritas?”, Kompas, 12/10/2003.

kata kunci: Cina, Inul Daratista, Jawa, korupsi, perempuan

Kebangsaan & Keagamaan: Dua Kiblat Indonesia di Persimpangan Jalan

Dari mana datangnya ketegangan antara kiblat “kebangsaan” dan “keagamaan” masa kini? Kedua kiblat mempunyai tempat terhormat dalam Pancasila. Bukan baru sekali ini ketegangan di antara mereka mengemuka. Tapi mengapa sekarang ia berkobar (lagi) dan berkepanjangan dalam sosoknya yang mutakhir?

Heryanto, Ariel (2018) “Kebangsaan & Keagamaan: Dua Kiblat Indonesia di Persimpangan Jalan”, Tirto.id, 20/11/2018, <https://tirto.id/kebangsaan-keagamaan-dua-kiblat-indonesia-di-persimpangan-jalan-c9U1&gt;

kata kunci: global, Islamisasi, krisis, nasionalisme, Orde Baru

Mengatasi Kejenuhan Debat 1965

2018_09_27_Kumparan Mengatasi Kejenuhan Debat 1965-c

Berbeda dari sebagian besar bahasan selama ini, peristiwa 1965 tidak hanya memakan korban komunis. Dan kasus Madiun 1948 tidak hanya memakan korban pada pihak lawan komunis. Keduanya kumpulan kisah dan peristiwa yang kompleks dan tidak tunggal.

Heryanto, Ariel (2018) “Mengatasi Kejenuhan Debat 1965”, Kumparan, 27/09/2018, https://kumparan.com/ariel-heryanto/mengatasi-kejenuhan-debat-1965-1538039198260112189

kata kunci: akademik, Madiun 1948, PKI, Orde Baru, publik, wacana

Pendidikan, setelah 20 tahun Reformasi

2018_05_25_Conversation Pendidikan, setelah 20 tahun Reformasi-c

Tulisan ini merujuk dua masalah utama. Pertama, sejak didirikan pemerintah kolonial hingga hari ini, lembaga pendidikan formal sekuler belum pernah menikmati otonomi dan belum dikelola secara profesional sesuai kaidah keilmuan. Kedua, perlu pemerataan kesempatan internasionalisasi bagi PT yang jauh dari Jakarta.

Heryanto, Ariel (2018) “Pendidikan, setelah 20 tahun Reformasi”, Conversation, 25/05/2018, https://theconversation.com/pendidikan-setelah-20-tahun-reformasi-97209

kata kunci: ideologi, kolonial, Orde Baru, sekolah, UKSW

Gaji Dosen Asing: Solusi atau Masalah?

Seandainya professor senior unggulan dari manca-negara itu diundang bekerja dengan gaji Rp 65 juta, dosen lokal berhak iri, sementara yang diundang belum tentu tertarik. Kecuali dosen asing ini sedang mencari kerja, karena kalah bersaing di negara asal mereka. Atau mereka yang merasa tidak nyaman di tempat kerjanya.

Heryanto, Ariel (2018) “Gaji Dosen Asing: Solusi atau Masalah?”, Kumparan, 20/04/2018, https://kumparan.com/ariel-heryanto/gaji-dosen-asing-solusi-atau-masalah

kata kunci: intrernasionalisasi, kebebasan akademik, kelas menengah, professor, universitas

Mengapa Kita Terus Mencurigai Internasionalisasi Perguruan Tinggi?

Tradisi puluhan tahun mengirimkan sarjana Indonesia ke luar negeri untuk kegiatan akademik (studi lanjut, penelitian, konferensi, atau penerbitan) harus diimbangi, bahkan sudah saatnya dibalik, dengan prioritas program internasionalisasi di dalam negeri. Tidak cukup mengundang tenaga ahli asing sebagai dosen atau peneliti.

Heryanto, Ariel (2018) “Mengapa Kita Terus Mencurigai Internasionalisasi Perguruan Tinggi?”, Tirto, 20/04/2018, https://tirto.id/mengapa-kita-terus-mencurigai-internasionalisasi-perguruan-tinggi-cH4f

kata kunci: globalisasi, industrial, kapitalis, LPDP, menristek

Belajar dari Kasus Tsamara Amany (PSI)

Klik 2018_04_07_Kump Belajar dari Kasus Tsamara Amany (PSI)-c

“Publik Indonesia berhak mendengar, terlibat, dan belajar dari perdebatan politik yang mencerdaskan kehidupan berbangsa. Bukan adu caci-maki antara elite politik seperti yang selama ini terjadi dan menjadi sampah beracun dalam kehidupan publik. Dibutuhkan banyak partai politik, dan lebih banyak kaum muda untuk meningkatkan mutu perdebatan publik.”

Heryanto, Ariel (2018) “Belajar dari Kasus Tsamara Amany (PSI)”, Kumparan, 7/04/2018, https://kumparan.com/ariel-heryanto/belajar-dari-kasus-tsamara-amany-psi

kata kunci: Fadli Zon, Jokowi, Orde Baru, partai politik, PKS, PRD

Dunia Digemparkan Proklamasi 1945: Kesaksian Joe Isaac

“Inilah pertama kalinya di dunia ada bangsa terjajah memproklamasikan kemerdekaan secara sepihak tanpa perundingan dengan bangsa lain. Tampaknya tidak ada satu pun pihak yang benar-benar siap menghadapi kenyataan Indonesia merdeka, dan pelbagai implikasinya. Juga pemerintah RI sendiri.”

Heryanto, Ariel (2018) “Dunia Digemparkan Proklamasi 1945: Kesaksian Joe Isaac”, Tirto, 5/04/2018, https://tirto.id/dunia-digemparkan-proklamasi-1945-kesaksian-joe-isaac-cHdH

kata kunci: Australia, Hindia Belanda, kolonial, modernitas, proklamasi, Sukarno