Pram yang Saya Kenal

Saya berharap berbagai perayaan tidak sekadar memuja seorang tokoh dan kehebatannya dalam kemasan yang serba manis sesuai selera politik dan moral yang dominan di masa kini. Saya berharap nasib Pram tidak seperti Soekarno atau Kartini yang dirayakan secara nasional setelah dilucuti dari aspek-aspek yang radikal.

Heryanto, Ariel (2025) “Pram yang Saya Kenal”, Kompas.ID, 13/02/2025, https://www.kompas.id/artikel/pram-yang-saya-kenal

kata kunci: Jejak Langkah, pasca-kolonial, LEKRA, Pramoedya Toer, Sang Pemula

Surat dari Pram

Saya mulai bersurat dengan Pram kira-kira setahun sebelum pertama kali bertamu ke rumahnya. Saya memperkenalkan diri dan mengirimkan sebuah naskah esai saya untuk dikomentari. Tidak terduga, beliau sudah membalas empat hari kemudian. Surat jawabannya setebal delapan halaman, ditik satu spasi di atas kertas berukuran A5.

Heryanto, Ariel (2025) “Surat dari Pram”, Kompas, 18/01/2025, https://www.kompas.id/artikel/surat-dari-pram

kata kunci: Bung Karno, Hoakiau di Indonesia, Orde Baru, Pramoedya A Toer, Sang Pemula, sastra

Pajak Bukan Palak

Kebijakan pajak tidak melenyapkan kesenjangan sosial. Yang diusahakan pemerintah hanya menjaga agar ketimpangan itu tidak berlebihan sehingga menyulut revolusi dari bawah yang menuntut perombakan sosial secara radikal.

Heryanto, Ariel (2024) “Pajak Bukan Palak”, Kompas, 14/12/2024, https://www.kompas.id/artikel/pajak-bukan-palak

kata kunci: agama, kesejahteraan, ketimpangan, nasional, pemilu

Mengakhiri Masa Jabatan

Seperti Sukarno mau pun Suharto, Jokowi berkuasa tanpa saingan politikus yang menandingi popularitasnya. Maka posisinya sangat aman dan nyaman. Tapi posisi begitu membuat ego mereka membengkak besar berbisul. Popularitas berlimpah yang tersedia bukannya dihargai, dijaga, dipelihara dan diolah jadi modal untuk mengakhiri jabatan secara elok. Modal itu disepelekan dan disia-siakan. Akibatnya sungguh tragis.

Heryanto, Ariel (2024) “Mengakhiri Masa Jabatan”, Omong-omong, 4/10/2024, https://omong-omong.com/mengakhiri-masa-jabatan/

kata kunci: Jokowi, karir , Lee Kuan Yew , Marcos, pension, Prabowo, Suharto

Naturalisasi

Naturalisasi pemain sepak bola di Indonesia hanya mengikuti tren global. Jika besar manfaatnya, mengapa obral naturalisasi tidak dilakukan Indonesia dari dulu-dulu? Mengapa banjir naturalisasi tidak terjadi di bidang pendidikan, kesehatan atau politik di negeri ini? Mengapa wajah-wajah oriental atau negroid atau kaukasian tidak beramai-ramai tampil dalam pimpinan partai politik, parlemen atau kabinet negara?

Heryanto, Ariel (2024) “Naturalisasi”, Kompas, 5/10/2024, https://www.kompas.id/baca/opini/2024/10/04/naturalisasi

kata kunci: bangsa, jatidiri, Kanjuruhan, nasion, pribumi, sepak bola

Tempo Doeloe

Gairah pada Tempo Doeloe kini marak di kota-kota di Jawa. Tidak sekadar mewarisi peninggalan kolonial, tetapi menciptakan yang sebelumnya tidak ada. Misalnya dalam proyek ”kota lama”, ”kota tua” atau heritage.

Heryanto, Ariel (2024) “Tempo Doeloe”, Kompas, 31/08/2024, https://www.kompas.id/baca/opini/2024/08/29/tempo-doeloe

kata kunci: Belanda, dekolonisasi, Malang, pribumi, Tong-tong

Patjar Merah

Tokoh utama dalam novel ini hanya disebut dengan nama samaran Patjar Merah Indonesia. Tapi, jelas yang dimaksudkan adalah Tan Malaka (1897-1949), salah satu tokoh paling awal, radikal, dan kontroversial dalam sejarah perjuangan antikolonial Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya ”Bapak Republik Indonesia”.

Heryanto, Ariel (2024) “Patjar Merah”, Kompas, 13/07/2024, https://www.kompas.id/baca/opini/2024/07/12/patjar-merah

kata kunci: fiksi, islam, komunis, Scarlet Pimpernel, Tan Malaka

Nasib Dosen

Sejak masa kolonial, negara menjadi patron. Para dosen diperlakukan sebagai abdi negara. Ketika membahas solusi dalam krisis, harapan tertinggi banyak dosen hanya perbaikan kebijakan negara. Terbiasa sebagai bawahan, yang mereka tuntut bukan kemerdekaan universitas dari campur tangan negara.

Heryanto, Ariel (2024) “Nasib Dosen”, Kompas, 08/06/2024, https://www.kompas.id/baca/opini/2024/06/06/nasib-dosen

kata kunci: abal-abal, industrialisasi, kapitalisme, neoliberalisme, universitas

Pria Idaman

Kondisi seperti apa dalam sebuah masyarakat yang memungkinkan sosok berani/tegas diidamkan. Mengapa dan dalam situasi apa sikap ”maju tak gentar” lebih didambakan ketimbang ”membela yang benar”?

Heryanto, Ariel (2024) “Pria Idaman”, Kompas, 27/04/2024, https://www.kompas.id/baca/opini/2024/04/26/pria-idaman

kata kunci: berani, kekerasan, maskulin, militerisme, pilpres, tegas

Menandingi Singapura?

Berpuluh tahun Singapura agak otoriter. Begitu juga negara-negara lain di sekitarnya. Mengapa yang lain-lain tidak semakmur dan seunggul Singapura?

Heryanto, Ariel (2024) “Menandingi Singapura?”, Kompas, 23/03/2024, https://www.kompas.id/baca/opini/2024/03/21/menandingi-singapura

kata kunci: global, kesehatan, otoriter, pendidikan, PRT, sumber daya, Taylor Swift