Mungkinkah Yang Salah Demokrasi

Di negara-negara demokratis-liberal Eropa Barat, Amerika Utara, dan Australia, demokrasi sudah memiliki status nyaris sud religius. Di masyarakat seperti ini, tersedia toleransi besar bagi penghujatan dan caci-maki kepala negara, atau bahkan kepada agama dan Tuhan. Tetapi nyaris tidak terdengar gugatan terhadap demokrasi. Karena sudah diterima sebagai barang yang keramat dan suci, demokrasi sebagai gagasan dasar tidak lagi dipertanyakan.

Heryanto, Ariel (2011) “Mungkinkah Yang Salah Demokrasi”, Maarif, Vol 6, No.1, April 2011: 11-20.

kata kunci: demokrasi, liberalisme, Maarif

Budaya Pop Indonesia: Kehangatan Seusai Perang Dingin

Untuk pertama kalinya sejak masa kolonialisme Eropa, dunia hiburan kelas menengah di Indonesia – dan banyak negara Asia lainnya – kini dikuasai budaya pop dari negara Asia lain, jauh mengungguli dominasi budaya pop Barat, khususnya Amerika Serikat.

Heryanto, Ariel (2009) “Budaya Pop Indonesia: Kehangatan Seusai Perang Dingin”, Prisma, 28 (2, Oktober): 15-30.

kata kunci: Ayat-ayat Cinta, budaya pop, industri, Inul Daratista, K-drama, kapitalisme, Perang Dingin, Prisma, sehari-hari

Marjinalitas sebagai Fiksi

Kehidupan sosial di Indonesia kaya akan realitas seolah-olah. Maka layaklah jika dipertanyakan apakah kehidupan sosial di Indonesia merupakan lahan yang sangat subur bagi kehidupan sastra. Bahkan mungkin kehidupan sosial Indonesia itu sendiri adalah limpahan khasanah teks sastra, sastra yang hidup.

Heryanto, Ariel (1997) “Marjinalitas sebagai Fiksi”, Kolong Budaya, 2(1): 6-13.

kata kunci: Benedict Anderson, Clifford Geertz, fiksi, Kolong Budaya, marjinalitas, Putu Wijaya, sastra, seakan-akan, Telor

Perlawanan dalam Kepatuhan?

Ketika pendukung Sukarno marah terhadap beberapa pejabat Orde Baru yang menuduh Sukarno bersimpati pada Marxisme-Komunisme, kaum Sukarnois ini secara tak sengaja mendukung propaganda Orde Baru bahwa Marxisme-Komunisme itu nista dan haram.

Heryanto, Ariel (1994) “Perlawanan dalam Kepatuhan?”, Kalam, 1 (3): 10-23.

kata kunci: Barat, dekonstruksi, esensialis, hak asasi manusia, identitas, Kalam, kepatuhan, konstruksi, orientalis, perlawanan, Timur

Postmodernisme: Yang Mana?

Postmodernisme tidak sama dengan non-modern atau anti-modernisme. Sebuah isme layak disebut pemberontak revolusioner, karena mampu menampilkan ke puncak permukaan apa-apa yang semula laten dan tertindas. Bukan karena isme ini menjungkir-balikkan semua yang pernah ada dan memusnahkannya lalu menciptakan suatu tata-dunia yang secara murni serba-baru.

Heryanto, Ariel (1994) “Postmodernisme: Yang Mana?”, Kalam, 1 (1): 80-93.

kata kunci: bahasa, discourse, humanisme, Kalam, modernisme, penerjemahan, postmodernisme, wacana

Kritik, Budaya dan Hegemoni: Benarkah Budaya Jawa Menghambat Kritik di Indonesia?

1993_Th2-No41_BD Kritik, Budaya dan Hegemoni-c

Heryanto, Ariel (1993) “Kritik, Budaya dan Hegemoni: Benarkah Budaya Jawa Menghambat Kritik di Indonesia?”, Bina Darma, 11 (41): 28-36.

kata kunci: Bina Darma, budaya, doxa, Gramsci, Jawa, keabsahan, kritik, hegemoni

Pembakuan Bahasa dan Totalitarianisme

Ilmuwan tak pernah bebas dari kuasa dan politik, juga linguis yang kelihatannya hanya sibuk menjungkir-balik ejaan kata, awalan, atau bunyi kata. Ia dan kerjanya dibentuk dari-oleh-untuk kuasa, walau tidak langsung bersifat kekuasaan politik kenegaraan

Heryanto, Ariel (1992) “Pembakuan Bahasa dan Totalitarianisme”, Kritis, 7 (2): 18-28.

kata kunci: bahasa, elitisme, fasisme, ideologi, instrumentalis, komodifikasi, Kritis, negara, pembakuan, totalitarianisme