Kita Dilatih Takut Berbahasa Indonesia

WWR 1997_11_10_TIRAS Kita Dilatih Takut Ber-BI-c

Tadinya memang namanya bukan bahasa Indonesia, tetapi bahasa Melayu. Dan karakternya yang terpenting adalah keterbukaan yang luar biasa. Keterbukaan untuk menerima pengaruh dari bahasa-bahasa yang macam-macam. Ini saya kira pelajaran yang terpenting untuk kita di zaman apa pun, bahwa keterbukaan dan pertemuan antarbudaya merupakan sumber dinamika dan energi yang luar biasa.

Sekarang ini kan di mana-mana banyak orang justru mengejar keaslian, kemurnian sesuatu, dan mencoba membersihkan campur-aduk percampuran berbagai macam kebudayaan. Ini justru menakutkan sekali. Justru kalau kita lihat, bahasa Melayu itu menerima apa saja. Bahasa Arab ditampung. Bahasa Portugis ditampung. Bahasa Inggris, bahasa Cina ditampung. Bahasa Jawa ditampung.

“Kita Dilatih Takut Berbahasa Indonesia”, wawancara Anton Bahtiar Rifa’i, Tiras, 3(41/ 10 Nopember) 1997: 56-58.

kata kunci: asing, bahasa, elitisme, keraton, Melayu, pedagang, terbuka

Catatan: bagian akhir terpotong.

 

Negara Harus Berbagi dengan Pengusaha

WWR 1996_01_04_TIRAS Negara Berbagi Dengan Pengusaha-c

T:Perkembangan politik apa yang paling substantif selama tahun 1995?
J: Perkembangan politik paling penting selama tahun lalu, atau katakanlah selama dua-tiga tahun terakhir, adalah suatu transisi menuju apa yang sebut sebagai pasca-Orde Baru. . . . Pusat kekuasaan, saya katakan lagi, beralih dari birokrasi negara, baik sipil maupun militer. Kalaupun tidak turun atau tidak kehilangan kekuasaan, minimal mereka harus berbagi dengan pengusaha. Di DPR itu bukan cuma jumlah ABRI yang berkurang. Tapi profesional dan pengusaha di sana sekarang ini bertambah. PP 20/94, itu suatu “Supersemar” dari kekuasaan negara ke modal asing dan modal domestik.

“Negara Harus Berbagi dengan Pengusaha”, wawancara H. W. Setiawan, Tiras, 1(4/Januari) 1996: 45.

kata kunci: Asia, kapitalisme, pasca-Orde Baru, pengusaha, transisi

Publikasi yang tidak tersedia disini

Arsipnya Hilang
Urutan dari yang paling mutakhir ke yang lebih tua. Sebagian dapat diakses dalam bentuk teks sederhana (plain text) di situs ini.

  1. Heryanto, Ariel (2008) “Media”, Kompas, 17/02/2008, klik di sini
  2. Heryanto, Ariel (1995) “Yang Asing, Yang Akrab”, Tiara, 141, 8 Oktober 1995, hal. 76-77.
  3. Heryanto, Ariel (1995) “Berbahasa Baik, Bergaul Baik”, Ummat, No.2, Th.I, 24 Juli 1995, hal. 79.
  4. Heryanto, Ariel (1980) “Pentas Teater Di Salatiga Bagaimana Tahun Ini?”, Minggu Ini, 29 Juni 1980, IV.
  5. Heryanto, Ariel (1985) “Masih Soal Sastra Kontekstual: Menjernihkan Masalah Yang Keruh”, Minggu Ini, 9 Juni 1985, VIII.
  6. Heryanto, Ariel (1980) “Sartre:Kehadiran Manusia Lain Adalah Neraka”, Suara Karya, 9 Juni 1980, VI.
  7. Heryanto, Ariel (1980) “Aktor Dan Suaranya”, Minggu Ini, 10 Pebruari 1980, IV.
  8. Heryanto, Ariel (1980) “Kembalinya Si Anak Hilang”, Kompas, 4 Pebruari 1980, IV.
  9. Heryanto, Ariel (1979) “Perihal Berteater di Daerah”, Memorandum, 5 Agustus 1979, XI.
  10. Heryanto, Ariel (1979) “Asahab Ajamer Ngalam: Bahasa Remaja Malang”, Suara Karya, 3 Agustus 1979.
  11. Heryanto, Ariel (1979) “Pesta Pentas ‘79”, Minggu Ini, 10 Juni 1979, IV.
  12. Heryanto, Ariel (1979) “Kyogen: Goro-Goro Jepang”, Minggu Ini, 22 April 1979, IV.
  13. Heryanto, Ariel (1979) “Ayun Bandul Sastra”, Surabaya Post, 4 April 1979, X.
  14. Heryanto, Ariel (1979) “Sas-sus Di seputar Seniman”, Minggu Ini, 25 Maret 1979, IV.
  15. Heryanto, Ariel (1979) “Teater Krisis”, Minggu Ini, 4 Pebruari 1979, IV.
  16. Heryanto, Ariel (1978) “Wajah Budaya Dalam Bahasa”, Surabaya Post, 19 Desember 1978, X.
  17. Heryanto, Ariel (1978) “Malin Kundang Ke Perguruan Egon”, Surabaya Post, 16 Desember 1978, X.
  18. Heryanto, Ariel (1978) “Benarkah Bahasa Indonesia Memerlukan ‘Anda’?”, Surabaya Post, 7 Oktober 1978
  19. Heryanto, Ariel (1978) “Debat ‘Sarjana Sinyo’”, Suara Merdeka, 30 September 1978, p. VIII.
  20. Heryanto, Ariel (1978) “Pesta Pentas ‘78; Teater Kampus Mau Apa?”, Suara Merdeka, 8 Juli 1978, VIII.
  21. Heryanto, Ariel (1978) “Teater Di Kampus”, Surabaya Post, 10 Mei 1978, X.
  22. Heryanto, Ariel (1978) “Kelirukah Orangtua Bila Kecewa Sang Putra Masuk Sosbud”, Sinar Harapan, 8 Pebruari 1978, XV.
  23. Heryanto, Ariel (1978) “Sastrawan Jadi Guru Sastra Atau Guru Sastra Jadi Sastrawan”, Suara Merdeka, 14 Januari 1978, p. VIII.
  24. Heryanto, Ariel (1978) “Teater Kampus & Aduh”, Salemba, 5 Oktober 1977, No.41/Th.II.

=======================

(2) Karya Terjemahan

9-12 Juli 1980 : Yayasan Teater Nasional mementaskan Perangkap Tikus, terjemahan Ariel Heryanto dari The Mouse Trap karya Agatha Christie, di Bali Room Hotel Indonesia, sutradara Galeb Husin, pemain Rahayu Efendi, Deddy Mizwar, Yuanita Pranoto.

10-11 April 1992: “Nirtata Dunia Baru”, Bernas, 10-11 April 1992 terjemahan Ariel Heryanto dari “New World Disorder”, ceramah Ben Anderson yang dipublikasikan 24 Hour, special supplement, February 1992, pp. 41-46.