Peranakan: Yang Punah, Yang Mengglobal

Sejauh pengamatan saya, warga Tionghoa di Jawa jauh lebih majemuk ketimbang pembedaan dua kelompok yang selama ini terlanjur lazim: totok dan peranakan. Kita bisa membedakan lima kelompok yang berlainan di antara minoritas ini.

Heryanto, Ariel (2018) “Peranakan: Yang Punah, Yang Mengglobal”, dalam L. Wibisono dkk (eds) Peranakan Tionghoa Indonesia; Sebuah Perjalanan Budaya, Jakarta: Komunitas Lintas-Budaya Indonesia dan PT Intisari Mediatama, hal. 342-349.

kata kunci: budaya, Eropa, fiksi, Melayu, Orde Baru, Tiongkok

Indonesian Culture, the Police and the Bali Bombing Suspect

2002_11_27 RN-ABC Indonesian Culture, the Police and the Bali Bombing Suspect-c

As French sociologist Pierre Bourdieu said, “cultures are those what goes without saying”. To ask why Amrozy and the police should smile is almost like asking why English speaking people always open an official letter with the greeting ‘Dear ….’, even if this is a letter of very serious complaint or protest.

Heryanto, Ariel (2002) “Indonesian Culture, the Police and the Bali Bombing Suspect”, Radio National ABC, 27//11/2002, http://www.abc.net.au/radionational/programs/archived/perspective/ariel-heryanto/3524010

keywords: Amrozy, Bali bombing, Pierre Bourdieu, smile

Pendidikan, setelah 20 tahun Reformasi

2018_05_25_Conversation Pendidikan, setelah 20 tahun Reformasi-c

Tulisan ini merujuk dua masalah utama. Pertama, sejak didirikan pemerintah kolonial hingga hari ini, lembaga pendidikan formal sekuler belum pernah menikmati otonomi dan belum dikelola secara profesional sesuai kaidah keilmuan. Kedua, perlu pemerataan kesempatan internasionalisasi bagi PT yang jauh dari Jakarta.

Heryanto, Ariel (2018) “Pendidikan, setelah 20 tahun Reformasi”, Conversation, 25/05/2018, https://theconversation.com/pendidikan-setelah-20-tahun-reformasi-97209

kata kunci: ideologi, kolonial, Orde Baru, sekolah, UKSW

Di Asia, Indonesia Kalah Berpengaruh Dibanding Singapura dan Malaysia

WWR_2018 Di Asia, Indonesia Kalah Berpengaruh Dibanding Singapura dan Malaysia-c

Kesan saya, secara umum para politikus Indonesia dan masyarakat pada umumnya sejak tahun 1970-an sibuk dengan masalah-masalah dalam negeri . . . Jadi mereka kurang berminat menjadi pemain besar dunia. Tidak seperti zaman Bung Karno yang mengguncang-guncang dunia sejak proklamasi 1945

Wijaya, Sastra (2018) “Di Asia, Indonesia Kalah Berpengaruh Dibanding Singapura dan Malaysia”, ABC News, 10/05/2018, http://www.abc.net.au/indonesian/2018-05-10/pengaruh-indonesia-di-asia-dibawah-singapura-dan-malaysia/9747332

kata kunci: Asia Power Index, Lowy Institute

Gaji Dosen Asing: Solusi atau Masalah?

Seandainya professor senior unggulan dari manca-negara itu diundang bekerja dengan gaji Rp 65 juta, dosen lokal berhak iri, sementara yang diundang belum tentu tertarik. Kecuali dosen asing ini sedang mencari kerja, karena kalah bersaing di negara asal mereka. Atau mereka yang merasa tidak nyaman di tempat kerjanya.

Heryanto, Ariel (2018) “Gaji Dosen Asing: Solusi atau Masalah?”, Kumparan, 20/04/2018, https://kumparan.com/ariel-heryanto/gaji-dosen-asing-solusi-atau-masalah

kata kunci: intrernasionalisasi, kebebasan akademik, kelas menengah, professor, universitas

Mengapa Kita Terus Mencurigai Internasionalisasi Perguruan Tinggi?

Tradisi puluhan tahun mengirimkan sarjana Indonesia ke luar negeri untuk kegiatan akademik (studi lanjut, penelitian, konferensi, atau penerbitan) harus diimbangi, bahkan sudah saatnya dibalik, dengan prioritas program internasionalisasi di dalam negeri. Tidak cukup mengundang tenaga ahli asing sebagai dosen atau peneliti.

Heryanto, Ariel (2018) “Mengapa Kita Terus Mencurigai Internasionalisasi Perguruan Tinggi?”, Tirto, 20/04/2018, https://tirto.id/mengapa-kita-terus-mencurigai-internasionalisasi-perguruan-tinggi-cH4f

kata kunci: globalisasi, industrial, kapitalis, LPDP, menristek

Belajar dari Kasus Tsamara Amany (PSI)

Klik 2018_04_07_Kump Belajar dari Kasus Tsamara Amany (PSI)-c

“Publik Indonesia berhak mendengar, terlibat, dan belajar dari perdebatan politik yang mencerdaskan kehidupan berbangsa. Bukan adu caci-maki antara elite politik seperti yang selama ini terjadi dan menjadi sampah beracun dalam kehidupan publik. Dibutuhkan banyak partai politik, dan lebih banyak kaum muda untuk meningkatkan mutu perdebatan publik.”

Heryanto, Ariel (2018) “Belajar dari Kasus Tsamara Amany (PSI)”, Kumparan, 7/04/2018, https://kumparan.com/ariel-heryanto/belajar-dari-kasus-tsamara-amany-psi

kata kunci: Fadli Zon, Jokowi, Orde Baru, partai politik, PKS, PRD

Dunia Digemparkan Proklamasi 1945: Kesaksian Joe Isaac

“Inilah pertama kalinya di dunia ada bangsa terjajah memproklamasikan kemerdekaan secara sepihak tanpa perundingan dengan bangsa lain. Tampaknya tidak ada satu pun pihak yang benar-benar siap menghadapi kenyataan Indonesia merdeka, dan pelbagai implikasinya. Juga pemerintah RI sendiri.”

Heryanto, Ariel (2018) “Dunia Digemparkan Proklamasi 1945: Kesaksian Joe Isaac”, Tirto, 5/04/2018, https://tirto.id/dunia-digemparkan-proklamasi-1945-kesaksian-joe-isaac-cHdH

kata kunci: Australia, Hindia Belanda, kolonial, modernitas, proklamasi, Sukarno

Benci tapi Rindu: Globalisasi

Yang lebih ironis dan serius, walau sudah bertekad mengglobal, banyak kalangan akademik Indonesia yang menolak keras gagasan hadirnya universitas asing di Indonesia. Apalagi gagasan pengangkatan ilmuwan asing sebagai Rektor untuk universitas di Indonesia.

Heryanto, Ariel (2018) “Benci tapi Rindu: Globalisasi”, Kumparan, 14/03/2018, https://kumparan.com/ariel-heryanto/benci-tapi-rindu-globalisasi

kata kunci: asing, lokal, kapitalisme, modernitas, nasional, universitas