Kiblat dan Beban Ideologis Ilmu Sosial

Klik 2006_Kiblat dan Beban Ideologis Ilmu Sosial Indonesia-c

Masalahnya di sini, bukan saja strukturaIis versi marxisme di Indonesia 1980-an tidak pernah dipaksa atau diberi kesempatan untuk berkembang lebih matang lewat serangkaian perdebatan yang intens. Persoalannya, baik strukturalisme dalam lingkup yang lebih luas – di luar marxisme – mau pun kulturalisme tidak cukup dipahami dan dibahas cukup mendalam di masa itu.

Heryanto, Ariel (2006) “Kiblat dan Beban Ideologis Ilmu Sosial”, dalam V Hadiz dan D Dhakidae (eds), Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia, Jakarta: Equinox, hal.63-97.

kata kunci: ideologi, liberalisme, Orde Baru, Pembangunan, pendekatan budaya, pengetahuan, strukturalisme

klik di sini untuk versi bahas Inggrisnya

Huruf demi Huruf

Klik 2004_Huruf demi Huruf-c

Menghayati budaya baca-tulis bukan sekadar persoalan kecintaan, semangat, atau sikap mental. Kebudayaan baca-tulis juga berpijak pada hal-hal yang bersifat material, jasmaniah, dan historis di luar kendali dan pilihan hidup orang.

Konon banyak mahasiswa dari kelas bawah yang mengalami hambatan dalam proses belajar dalam masyarakat dan sekolah bermayoritas kulit putih dan kaya. Salah satu kesimpulan sementara di kalangan sarjana yang meneliti kasus ini ialah para pemuda dari kalangan yang kurang beruntung ini kuat secara fisik dan ungguI dalam berbagai kegiatan di sekolah, tetapi tidak terlatih duduk berjam-jam di depan buku di atas meja tulis, dan bergulat secara mental dengan gagasan abstrak. Tubuhnya memberontak bila dipasang berjam-jam di kursi.

Heryanto, Ariel (2004) “Huruf demi Huruf” dalam Bukuku Kakiku, St. Sularto, W.S. Brata, and P. Benedanto (eds), Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, hal. 21-40.

kata kunci: akademik, dosen, Dunia Ketiga, generasi, industri, intelektual, kelas sosial, modal, PRT

Peranakan: Yang Punah, Yang Mengglobal

2018_Peranakan-c

Sejauh pengamatan saya, warga Tionghoa di Jawa jauh lebih majemuk ketimbang pembedaan dua kelompok yang selama ini terlanjur lazim: totok dan peranakan. Kita bisa membedakan lima kelompok yang berlainan di antara minoritas ini.

Heryanto, Ariel (2018) “Peranakan: Yang Punah, Yang Mengglobal”, dalam L. Wibisono dkk (eds) Peranakan Tionghoa Indonesia; Sebuah Perjalanan Budaya, Jakarta: Komunitas Lintas-Budaya Indonesia dan PT Intisari Mediatama, hal. 342-349.

kata kunci: budaya, Eropa, fiksi, Melayu, Orde Baru, Tiongkok

Perkosaan Mei 1998: Beberapa Pertanyaan Konseptual

2000_Perkosaan Mei 1998_Beberapa Pertanyaan Konseptual-c

Atas dasar itu, penggunaan istilah ‘kerusuhan’ yang sudah menjadi umum untuk menggambarkan peristiwa Mei tersebut menjadi layak untuk digugat. Mungkin akan lebih tepat jika peristiwa itu digambarkan sebagai pogrom atau pembantaian. Istilah ‘kerusuhan’ (riot) merujuk pada kekerasan massal dari lapisan bawah terhadap elit di kelas atasnya. Sementara itu, pembantaian dalam pengertian pogrom menunjukkan operasi kekerasan terorganisir dari lapisan atas masyarakat lerhadap massa rakyat.
(Heryanto, 2000: 59)

Heryanto, Ariel (2000) “Perkosaan Mei 1998: Beberapa Pertanyaan Konseptual” dalam Negara dan Kekerasan Terhadap Perempuan, Nur Iman Subono (ed.), Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, hal. 57-97.

kata kunci: bahasa, kekerasan politik, perkosaan, maskulin, Mei 1998, negara, rasisme

Pramoedya Ananta Toer: Sebuah Album Abad XX

Klik 2000_Pramoedya Ananta Toer_ Sebuah Album Abad XX-c

Belum pernah ada novel Indonesia yang dikagumi sehebat dan sekaligus dikutuk sehina seperti empat novel bersambung (tetralogi) karya Pramoedya Toer yang ditulisnya dalam pengasingan di Pulau Buru.

Heryanto, Ariel (2000) “Pramoedya Ananta Toer: Sebuah Album Abad XX” dalam Seribu Tahun Nusantara, J.B. Kristanto (ed.), Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, hal. 541-549.

kata kunci: Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer, Pulau Buru, sastra, sejarah, Sukarno

Gugatan terhadap Otoriterisme di Indonesia dan Malaysia

2004_Gugatan terhadap Otoriterisme

Heryanto, A dan Mandal, S.K. (2004) “Gugatan terhadap Otoriterisme di Indonesia dan Malaysia”, dalam A. Heryanto, A dan S.K.Mandal (eds), Menggugat Otoriterisme di Asia Tenggara, terjemahan Budiawan, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, hal. 1-46.

kata kunci: Cina, demokrasi, Indonesia, ISA, Malaysia, PKI, otoriterisme, reformasi, UMNO

Intelektual Publik, Media, dan Demokratisasi

Klik 2004_Intelektual Publik, Media, dan Demokratisasi-c

“kaum intelektual harus menjaga jarak—sekurang-kurangnya dalam penampilan publik—dari kelompok-kelompok sosial yang paling berkuasa dan berharta dalam masyarakat mereka. Nama baik dan kewibawaan mereka tergantung pada sejauh mana mereka menjaga jarak dari kegiatan-kegiatan yang tampak terutama mendatangkan imbalan baik material maupun nonmaterial. Citra publik inilah yang membedakan mereka dari birokrat negara atau kelas bisnis yang sedang bertumbuh, walau kekayaan atau pendapatan mereka mungkin tidak terlalu berbeda.

Tetapi, jarak dari kelompok yang secara politis atau ekonomi paling berkuasa tidak pernah total atau ekstrem. Kaum intelektual sering menikmati kehidupan dan perlindungan yang menyenangkan, entah secara langsung dari kelompok yang paling berkuasa atau berharta di dalam masyarakat, atau secara tidak langsung dari ketimpangan tata sosial yang ikut menguntungkan mereka.”

Heryanto, Ariel (2004) “Intelektual Publik, Media, dan Demokratisasi” dalam A. Heryanto dan S.K.Mandal (eds), Menggugat Otoriterisme di Asia Tenggara, terjemahan Budiawan, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, hal. 49-118.

kata kunci: demokratisasi, industrialisasi, intelektual publik, kelas menengah, KKN, media, pasca-kolonial, Tempo, UKSW