Bulan Bahasa di Tahun Postmodernisme

1993_10_27_REPUBLIKA Bulan Bahasa di Tahun Postmoderenisme 2-c

Heryanto, Ariel (1993) “Bulan Bahasa di Tahun Postmodernisme” (2/2), Republika, 27 Oktober 1993, hal. 6.

kata kunci: dikotomi, Ferdinand de Saussure, LEKRA, logika, modernisme, plesetan, postmodernisme, Republika, saminisme, strukturalisme

Tulisan terkait “Bulan Bahasa di Tahun Postmodernisme” (1/2)

Bulan Bahasa di Tahun Postmodernisme

1993_10_26_REPUBLIKA Bulan Bahasa di Tahun Postmoderenisme 1-c

Heryanto, Ariel (1993) “Bulan Bahasa di Tahun Postmodernisme” (1/2), Republika, 26 Oktober 1993, hal. 6.

kata kunci: bahasa, Balai Pustaka, Hindia Belanda, kolonial, modernisme, Pembangunan, postmodernisme, Republika

Tulisan terkait “Bulan Bahasa di Tahun Postmodernisme” (2/2)

Pascamodernisme: Mengapa Sulit tapi Perlu?

Tragedi pascamodemisme punya kemiripan dengan nasib modernisme yang diberontaki. Pada awalnya modernisme juga merupakan pemberontak radikal.

Heryanto, Ariel (1993) “Pascamodernisme: Mengapa Sulit tapi Perlu?” Kompas, 28 September 1993, hal. 4.

kata kunci: anti-hero, Kompas, modernisme, pascamodernisme, Pencerahan, relativisme

Menguliti Jatidiri Pers

1993_08_12_SURABAYA POST Menguliti Jatidiri Pers Indonesia-c

Heryanto, Ariel (1993) “Menguliti Jatidiri Pers”, Surabaya Post, 12 Agustus 1993, hal. 6.

kata kunci: Daniel Dhakidae, humanisme, Jakob Oetama, Paul Tickell, romantik, pers, Surabaya Post, Tajuk-tajuk Dalam Terik Matahari

Sensor Pemikiran Besar

Jangankan menciptakan ‘pemikiran besar’. Sekedar mempelajari pemikiran besar orang-orang lain dari bangsa sendiri dan bangsa lain dari zaman ini dan zaman lalu pun kita sering tidak diperbolehkan dengan berbagai ancaman hukum.

Heryanto, Ariel (1993) “Sensor Pemikiran Besar”, Jawa Pos, 4 Juli 1993, hal. 8.

kata kunci: intelektual, Jawa Pos, kebudayaan, krisis, sastra, sensor, struktur, subyek