1992_04_18_BERNAS Cengkeh_Apa Yang Salah-c
Heryanto, Ariel (1992) “Cengkeh: Apa Yang Salah”, Bernas, 18 April 1992, hal. 4.
kata kunci: Bernas, BPPC, Budi Darmawan, buruh, cengkeh, monopoli, petani, rokok
1992_04_18_BERNAS Cengkeh_Apa Yang Salah-c
Heryanto, Ariel (1992) “Cengkeh: Apa Yang Salah”, Bernas, 18 April 1992, hal. 4.
kata kunci: Bernas, BPPC, Budi Darmawan, buruh, cengkeh, monopoli, petani, rokok
1992_02_21_BERNAS JFK_Canti dan Subversif-c
Heryanto, Ariel (1992) “JFK: Cantik dan Subversif”, Bernas, 21 Februari 1992.
kata kunci: Bernas, film, JFK, John F Kennedy, Lyndon Johnson, Oliver Stone, Perang Dingin
1991_11_19_BERNAS Timtim Dan Intelektual Kita-c
Heryanto, Ariel (1991) “Timtim dan Intelektual Kita”, Bernas, 19 November 1991, hal. 4.
kata kunci: Australia, Bernas, David Jenkins, Herb Feith, intelektual, Lukman Sutrisno, Mubyarto, Santa Cruz, Timtim
1991_11_15_BERNAS Ugly Indonesia-c
Heryanto, Ariel (1991) “’Ugly’ Indonesia?”, Bernas, 15 November 1991, hal. 4.
kata kunci: Australia, Bernas, Dili, Santa Cruz, Timtim
1991_09_24_BERNAS Memahami Sensor-c
Heryanto, Ariel (1991) “Memahami Sensor”, Bernas, 24 September 1991, hal. 4.
kata kunci: aksara, Bernas, Cina, dominasi, ilusi, kesenjangan, normal, sensor, stabilitas, Tapol
1991_08_26_BERNAS Kini Giliran Emha Ainun Nadjib-c
Heryanto, Ariel (1991) “Kini Giliran Emha Ainun Nadjib”, Bernas, 26 Agustus 1991, hal. 4.
kata kunci: Arief Budiman, Bernas, cekal, Emha Ainun Nadjib, sensor
1991_08_24_SM Modal, Media Massa dan Kuasa-c
Heryanto, Ariel (1991) “Media Massa dan Kuasa”, Suara Merdeka, 24 Agustus 1991, hal. VI.
kata kunci: Iskandar Alisjahbana, kuasa, Marshall McLuhan, media massa, modal, Suara Merdeka, Sumpah Palapa, swasta, TVRI, televisi
Tidak ada suatu karya yang menjadi besar karena nilai-nilai yang dikandungnya saja. Suatu karya budaya hanya bisa menjadi besar karena dibesarkan, dimuliakan, dirayakan sebagai karya besar oleh proses sosial.
Heryanto, Ariel (1991) “Sastra Kita Semakin Tergusur”, Jawa Pos, 21 Agustus 1991, hal. X.
kata kunci: Chairil Anwar, H.B. Jassin, Jawa Pos, Keith Foulcher, sastra, sejarah, tergusur
Arief Rachman Hakim adalah seorang mahasiswa yang tewas tertembak di tengah hiruk-pikuk demonstrasi mahasiswa anti-Sukarno. Kemungkinan ia korban sebuah peluru yang nyasar. Ketika ia ditemukan tewas, para tokoh aktivis tak ada yang mengenalnya. Ia bukan tokoh. Menurut yang mengenalnya ia bukan aktivis yang politis. Boleh jadi ia penonton yang sial kena peluru nyasar karena ia terlambat tiarap.
Heryanto, Ariel (1991) “Merayakan Peristiwa Bersejarah”, Suara Merdeka, 15 Agustus 1991, hal. 6.
kata kunci: Arief Rachman Hakim, Chairil Anwar, kemerdekaan, konstruksi, merayakan, proklamasi, sejarah, Suara Merdeka
1991_08_10_Bernas Kapitalisme dan Kebudayaan 2-c
“Penjelasan baku di Indonesia mengenai rendahnya kualitas film Indonesia ialah dominasi nilai komersial dalam proses produksi. Jika komersialisme ini dapat diterjemahkan sebagai kapitalisme, maka saya berpendapat justru sebaliknya: kita tak menikmati film nasional bermutu karena kurangnya persaingan pasar ala kapitalisme yang terbuka. Film-film yang bagus dari AS tidak dibikin dengan niat utama mencapai nilai estetika tinggi, tetapi laba sebesar-besarnya! Laba yang besar tidak bertabrakan dengan nilai estetika tinggi bilamana ada permintaan di pasar untuk itu. Permintaan seperti itu di Indonesia sudah jelas ada, walau besarnya belum jelas.”
Heryanto, Ariel (1991) “Kapitalisme dan Kebudayaan” (2/2), Bernas, 10 Agustus 1991, hal. 4.
kata kunci: Bernas, dialektika, ideal, kapitalisme, kebudayaan, komersial, kontradiksi, material, progresif
Tulisan terkait:
“Kapitalisme dan Kebudayaan (1/2)”
“Harga Seniman dan Kapitalisme”
1991_08_06 Rizal M Tanggapi AH-c
1991_08_15 Arizal Malna-c
1991_08_19 Denny JA-c