Dominasi dan Resistansi

Para ilmuwan sosial di berbagai negara belakangan ini menghadapi persimpangan jalan bila membicarakan makna dan daya jangkau perlawanan kaum bawah. Persimpangan jalan itu bukan sekadar bersifat akademis, atau teoretis dan metodologis; tapi juga politis dan praktis.

Heryanto, Ariel (1992) “Dominasi dan Resistansi”, Bernas, 24 Agustus 1992, hal. 4.

kata kunci: budaya tanding, James Scott, metodologi, teori, tertindas, UULLAJ, Weapons of the Weak

Tulisan berkait:
1992_08_03 BERNAS Kritik Masyarakat dan Perubahan
1992_08_21 BERNAS Penundaan UULLAJ
1992_08_28 BERNAS Negara-Masyarakat
1992_09_01 BERNAS Negara dan Rakyat
1992_09_03 BERNAS Respon Masyarakat dan Gerakan

Sastra Kita Semakin Tergusur

Tidak ada suatu karya yang menjadi besar karena nilai-nilai yang dikandungnya saja. Suatu karya budaya hanya bisa menjadi besar karena dibesarkan, dimuliakan, dirayakan sebagai karya besar oleh proses sosial.

Heryanto, Ariel (1991) “Sastra Kita Semakin Tergusur”, Jawa Pos, 21 Agustus 1991, hal. X.

kata kunci: Chairil Anwar, H.B. Jassin, Jawa Pos, Keith Foulcher, sastra, sejarah, tergusur

Merayakan Peristiwa Bersejarah

Arief Rachman Hakim adalah seorang mahasiswa yang tewas tertembak di tengah hiruk-pikuk demonstrasi mahasiswa anti-Sukarno. Kemungkinan ia korban sebuah peluru yang nyasar. Ketika ia ditemukan tewas, para tokoh aktivis tak ada yang mengenalnya. Ia bukan tokoh. Menurut yang mengenalnya ia bukan aktivis yang politis. Boleh jadi ia penonton yang sial kena peluru nyasar karena ia terlambat tiarap.

Heryanto, Ariel (1991) “Merayakan Peristiwa Bersejarah”, Suara Merdeka, 15 Agustus 1991, hal. 6.

kata kunci: Arief Rachman Hakim, Chairil Anwar, kemerdekaan, konstruksi, merayakan, proklamasi, sejarah, Suara Merdeka