Dalam mobil super mewah yang berlalu-lalang di ibukota, duduk warga kota berkulit mulus. Busana tersetrika rapi. Rambut dikeramas rutin dengan shampo kelas wahid. Aroma parfum merebak ruang mobil ber-AC. Sesekali jendela mobil terbuka, dan terlontar sampah ke luar jendela.
Mereka suka kebersihan, tapi tak kenal ruang publik. Kebersihan hanya sebatas ruang milik pribadi: dalam mobil atau rumah sendiri. Yang di luar mobil dianggap “ruang hampa” atau belantara tak bertuan.
Heryanto, Ariel (2009) “Sebuah Republik Tanpa Publik?, Koran Tempo, Senin 28 Desember 2009, hal. C15.
kata kunci: lalu-lintas, mobil, Publik, Republik, sehari-hari, solidaritas, umum
