Film, Teror Negara, Luka Bangsa

Dua generasi pasca-1965 menjadi korbannya. Mereka menderita buta-sejarah tentang masyarakat sendiri, walau bersekolah hingga ke perguruan tinggi. Dalam kebutaan, berkali-kali mereka gagap, atau ikut-ikutan kalap, ketika berkorbar militansi kebencian dan kekerasan komunal dalam skala yang sulit dicari duanya sebelum 1965.

Heryanto, Ariel (2012) “Film, Teror Negara, Luka Bangsa”, Tempo, 41(31/ 1-7 October 2012), hal.118-121.

Uraian dalam artikel ini dikembangkan lebih meluas dan mendalam dalam Bab 4 dan 5 buku Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia, yang aslinya berbahasa Inggris Identity and Pleasure: The Politics of Indonesian Screen Culture.

kata kunci: Arifin C. Noer, Film, KOPKAMTIB, Militer, Pengkhianatan G30S/PKI, Propaganda, Orde Baru, Supersemar, Tempo, Teror Negara

Demokrasi dan Permen Karet

Ideologi bukan hasil manipulasi atau kampanye kelompok tertentu. Ia milik umum, mengabdi pada status quo, bukan pihak atau golongan tertentu. Mungkin ini sebabnya mengganti penguasa jauh lebih mudah ketimbang menggugat status quo, entah lewat reformasi, revolusi, atau jihad.

Heryanto, Ariel (2001) “Demokrasi dan Permen Karet”, Tempo, 40/XXX/3-9 Desember 2001, hal. 54-55.

kata kunci: Amerika, Asia, Australia, ideologi, demokrasi, Singapura, Tempo

Mengapa Baru Sekarang?

Dengan mereduksi persoalan menjadi konflik antar-agama, mereka termakan logika atau retorika pelaku kekerasan.

Seandainya perbedaan agama menjadi penyebab utama, seharusnya konflik serupa sudah lama berkobar. Masyarakat ini berabad-abad hidup dengan kemajemukan agama. Walau tidak sepenuhnya damai, kemajemukan agama tidak menimbulkan konflik massal berkepanjangan. Mengapa baru belakangan meledak?

Heryanto, Ariel (2012) “Mengapa Baru Sekarang?” Tempo, 41(11/14-20 Mei), hal. 100-101.

kata kunci: agama, Islam, Islamisasi, kekerasan politik, nonpribumi, Orde Baru, pasca-Orde Baru, preman, sejarah, Tempo

Rasisme Tak Sengaja

Banyak orang “non-Cina” merasa kebudayaan Cina hanya milik orang Cina. Mereka hanya bisa membenci atau menghormatinya “dari luar”.

Padahal sehari-hari mereka sudah terbiasa makan nasi goreng atau bakmi cina. Minum teh Cina. Hidangan siomay, kwetiau, atau capcay menjadi bagian dari darah dan dagingnya. Sehari-hari mereka menggunakan istilah Cina seperti “gua” dan “elu”. Mereka telah ikut “menjadi Cina” tanpa sengaja, meski hanya sementara, persis seperti Cina yang “benaran”.

Heryanto, Ariel (2004) “Rasisme Tak Sengaja”, Kompas, 06/02/2004.

kata kunci: Cina, Cinaisasi, etnisitas, hibriditas, Indo, kecinaan, keturunan, Kompas, Mei 1998, minoritas, multikulturalisme, rasisme

Tiduri Aku, Kau Kuhamilkan

Klik 2009_05_11_TEMPO Tiduri Aku, Kau Kuhamilkan-c

Bukan hanya pria Indonesia yang bisa meniduri, dan perempuan Indonesia hanya bisa ditiduri. Bisa terjadi sebaliknya, kan? Kemungkinan besar sebagian besar dari pasangan heteroseks Indonesia saling “bertidur-tiduran” sebelum masing-masing saling “menidurkan’.

Heryanto, Ariel (2009) “Tiduri Aku, Kau Kuhamilkan”, Tempo, 11 Mei 2009.

kata kunci: bahasa, feminisme, hamil, logika, Tempo

Indonesia dalam Kajian tentang Indonesia

SEJAK awal sejarahnya hingga saat ini, berbagai kajian akademik paling berpengaruh di dunia tentang Indonesia bukan hasil karya orang Indonesia. Tidak berbahasa Indonesia, dan tidak beredar luas di toko buku atau perpustakaan di Indonesia.

Bagi kebanyakan mahasiswa dan sarjana di berbagai universitas terkemuka di Tanah Air, peluang menjadi konsumen pasif dari khazanah dunia pengetahuan itu pun belum tersedia. Jangankan aktif terlibat perdebatan dan membuat karya tandingan.

Heryanto, Ariel (2011) “Indonesia dalam Kajian tentang Indonesia”, Tempo, 20 November 2011, hal. 129-130.

kata kunci: Amerika Serikat, Asia Tenggara, asing, Eropa, Gerke dan Evers, kajian Indonesia, kuasa, modal, pengetahuan, Tempo

Pendidikan Untuk Perubahan

2012_II-Jan_INDOPROGRESS Pendidikan Untuk Perubahan-c

Heryanto, Ariel (2012) “Pendidikan Untuk Perubahan”, IndoProgress, II (Jan 2012), hal. vii-xxx.

kata kunci: advokasi, aktivisme, anti-komunisme, Antonio Gramsci, Anugerah Bakrie, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, ilmu sosial, IndoProgress, kapitalisme, LEKRA, Martin Suryajaya, Marxisme, Orde Baru, Pendidikan, Perry Anderson, teori