Heryanto, Ariel (1998) “Aceh”, Kompas, 23 Agustus 1998, hal. 2.
kata kunci: Aceh, Asal Usul, kekerasan, Kompas, korban, perkosaan, trauma
Heryanto, Ariel (1998) “Aceh”, Kompas, 23 Agustus 1998, hal. 2.
kata kunci: Aceh, Asal Usul, kekerasan, Kompas, korban, perkosaan, trauma
1998_10_05_FK Ada Apa Nonpribumi-c
Heryanto, Ariel (1998) “Apa Ada Nonpribumi?” Forum Keadilan, 7 (13), 5 Oktober 1998, hal. 37.
kata kunci: bersih lingkungan, etnisitas, Forum Keadilan, Gerakan pengacau keamanan, GPK, keturunan, nonpribumi, Orde Lama, takhayul, WNI keturunan Cina
Militerisme bukan cuma soal penguasaan jabatan birokrasi pada badan-badan non-militer. Militerisme berkembang dalam bentuk kebudayaan, norma, angan-angan, cara berpikir, bergaul, dan berbicara. Semuanya bercirikan kejantanan, kekerasan, dan sikap kaku mempertentangkan realitas hidup menjadi dua belaka: kawan/lawan, atau kalah/menang.
Heryanto, Ariel (1998) “Militerisme”, Kompas, 15 November 1998, hal. 2.
kata kunci: Asal Usul, etika, Kompas, militerisme, negara, organisasi kepemudaan, parlemen, partai politik
Ungkapan Indonesia asli merupakan sebuah contradiction in terms. Sama halnya ungkapan maju ke belakang atau remaja yang tua.
Heryanto, Ariel (1998) “Indonesia Asli: Contradictions in Terms”, Detektif & Romantika, XXIX (31), 21 Maret 1998, hal. 46-47.
kata kunci: asing, Detektif & Romantika, identitas, Indonesia asli, nasion, Polemik Kebudayaan, pribumi, primordialisme, rasialisme, sektarianisme, Sutan Takdir Alisjahbana, vons Magnis-Suseno
Heryanto, Ariel (1996) “Natal”, Kompas, 22 Desember 1996, hal. 2.
kata kunci: Asal Usul, gaya hidup, harta, ironi, Kompas, kontradiksi, kreatif, kuasa, manipulasi, Natal, Timur Tengah
Heryanto, Ariel (1997) “Buruh”, Kompas, 7 Desember 1997, hal. 2.
kata kunci: Asal Usul, buruh, gender, kelas sosial, Kompas, LSM, migran, parlemen, pembantu rumah tangga, profesional, tenaga kerja
2012_10_07_TEMPO Kesaksian Binal-Bugil dari Negeri Preman
Heryanto, Ariel (2012) “Kesaksian Binal-Bugil dari Negeri Preman”, Tempo, 41(31/ 1-7 October 2012), hal. 114-115.
kata kunci: The Act of Killing, Jagal, Joshua Oppenheimer, Pengkhianatan G30S/PKI, Preman, resensi film, Tempo
Dua generasi pasca-1965 menjadi korbannya. Mereka menderita buta-sejarah tentang masyarakat sendiri, walau bersekolah hingga ke perguruan tinggi. Dalam kebutaan, berkali-kali mereka gagap, atau ikut-ikutan kalap, ketika berkorbar militansi kebencian dan kekerasan komunal dalam skala yang sulit dicari duanya sebelum 1965.
Heryanto, Ariel (2012) “Film, Teror Negara, Luka Bangsa”, Tempo, 41(31/ 1-7 October 2012), hal.118-121.
Uraian dalam artikel ini dikembangkan lebih meluas dan mendalam dalam Bab 4 dan 5 buku Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia, yang aslinya berbahasa Inggris Identity and Pleasure: The Politics of Indonesian Screen Culture.
kata kunci: Arifin C. Noer, Film, KOPKAMTIB, Militer, Pengkhianatan G30S/PKI, Propaganda, Orde Baru, Supersemar, Tempo, Teror Negara
Ideologi bukan hasil manipulasi atau kampanye kelompok tertentu. Ia milik umum, mengabdi pada status quo, bukan pihak atau golongan tertentu. Mungkin ini sebabnya mengganti penguasa jauh lebih mudah ketimbang menggugat status quo, entah lewat reformasi, revolusi, atau jihad.
Heryanto, Ariel (2001) “Demokrasi dan Permen Karet”, Tempo, 40/XXX/3-9 Desember 2001, hal. 54-55.
kata kunci: Amerika, Asia, Australia, ideologi, demokrasi, Singapura, Tempo
Dengan mereduksi persoalan menjadi konflik antar-agama, mereka termakan logika atau retorika pelaku kekerasan.
Seandainya perbedaan agama menjadi penyebab utama, seharusnya konflik serupa sudah lama berkobar. Masyarakat ini berabad-abad hidup dengan kemajemukan agama. Walau tidak sepenuhnya damai, kemajemukan agama tidak menimbulkan konflik massal berkepanjangan. Mengapa baru belakangan meledak?
Heryanto, Ariel (2012) “Mengapa Baru Sekarang?” Tempo, 41(11/14-20 Mei), hal. 100-101.
kata kunci: agama, Islam, Islamisasi, kekerasan politik, nonpribumi, Orde Baru, pasca-Orde Baru, preman, sejarah, Tempo