Menghormati Keputusan Pengadilan Rakyat 1965

Klik 2016_07_21_CNN Menghormati Keputusan Pengadilan Rakyat 1965-c

Banjir darah 1965 di Indonesia terjadi berkat restu dan dukungan berbagai pihak asing terhadap para penjagal sebagian warga Indonesia terhadap saudara sebangsa setanah air. Pembantaian itu sebelumnya didorong oleh konflik politik dalam negeri, yang pada gilirannya berinduk pada konflik global bernama Perang Dingin.

Aneh, jika penyelesaian kasus 1965 dianggap sebagai monopoli Indonesia, dikurung dalam sangkar bernama ‘urusan dalam negeri’ yang tidak perlu atau tidak boleh melibatkan pandangan dan tanggung jawab atau kerjasama ‘pihak asing’.

Heryanto, Ariel (2016) “Menghormati Keputusan Pengadilan Rakyat 1965”, CNN Indonesia, 21/07/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160721090759-21-146043/menghormati-keputusan-pengadilan-rakyat-1965/

kata kunci: anti-asing, Hindia Belanda, IPT 1965, kolonial, penyangkalan

Propaganda

Kerukunan kelas atas dan ketenteraman kelas menengah merupakan kunci stabilitas. Tak ada perubahan sosial tanpa keretakan elite. Yang dapat diharapkan dari propaganda adalah agar mereka yang makan gaji dari ketimpangan tata-sosial tidak melihat ketimpangan itu.

Heryanto, Ariel (1996) “Propaganda”, Forum Keadilan, Th. V, No. 14, 21 Oktober 1996, hal. 56.

kata kunci: antikomunisme, slogan, pendidikan, kelas sosial

Kapan Kambuhnya Bahaya PKI?

Klik 2016_05_10_CNN Kapan Kambuhnya Bahaya PKI-c

Peringatan akan bahaya komunis di masa ini dianggap berlebihan oleh banyak pihak. Mereka menertawakannya sebagai ketololan yang sangat konyol. Sebagian dari yang geli tampaknya jadi usil membuat gambar palu-arit, sekedar untuk mengolok-olok ketololan itu.

Apakah masalahnya hanya berhenti di situ? Hanya ketololan yang disambut keusilan? Menurut saya tidak. Kambuhnya beberapa isu politik seperti “bahaya Komunis” penting. Ia ibarat sirine yang menandakan memanasnya gesekan di kalangan elite politik.

Heryanto, Ariel (2016) “Kapan Kambuhnya Bahaya PKI?”, CNN Indonesia, 10/05/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160510094659-21-129620/kapan-kambuhnya-bahaya-pki/

kata kunci: 1988, bahaya Komunis, Cina, konflik elite, PKI

Negara dan Maaf 1965

Kerangka berpikir “1965-sebagai-konflik-horisontal” tidak saja membebaskan Negara dari gugatan politik, moral, kultural, dengan atau tanpa gugatan legal, sebagai penanggung-jawab terbesar banjir darah 1965. Bila kita mereproduksi kerangka berpikir itu, kita ikut meneruskan tradisi Orde Baru mengadu-domba antar golongan dalam masyarakat.

Heryanto, Ariel (2016) “Negara dan Maaf 1965”, Tempo, 8/05/2016: 90-91.

kata kunci: 1965, korban, maaf, negara, konflik horizontal, Simposium

Negara Jangan Cuci Tangan

2016_04_26 CNN Negara Jangan Cuci Tangan-c

“Sudah saatnya khalayak Indonesia membedakan dan memahami kaitan antara bangsa, negara, dan sebuah pemerintahan. Pemahaman minim dan mendasar demikian bisa membantu mengurangi banyak dan parahnya salah kaprah dalam perbincangan tentang kekejaman sejak Oktober 1965 maupun berbagai kekerasan massal lain.”

Heryanto, Ariel (2016) “Negara Jangan Cuci Tangan”, CNN Indonesia, 26/04/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160426085258-21-126499/negara-jangan-cuci-tangan/

kata kunci: bangsa, konflik horizontal, kejahatan vertikal, negara, pemerintah, Jokowi simposium 1965

Mengapa Saya Ikut Simposium Tragedi 1965

Klik 2016_04_19_GeoTimes_Mengapa Saya Ikut Simposium Tragedi 1965-c

Pertama kali sebuah forum mempertemukan sebagian dari dua kubu tentang geger 1965 secara terbuka dan blak-blakan. Sebuah acara yang memang dirancang untuk bentrok gagasan dan emosi tanpa sensor atau ancaman fisik, dan direkam puluhan kamera, baik yang resmi dari panitia maupun dari peserta untuk disebarkan langsung ke seluruh penjuru dunia. Mereka bukan sekadar berdebat, tetapi mau saling mendengar lawan debat.

Heryanto, Ariel (2016) “Mengapa Saya Ikut Simposium Tragedi 1965”, Geo Times, 19/04/2016, http://geotimes.co.id/mengapa-saya-ikut-simposium-tragedi-1965/

kata kunci: boikot, dialog, Front Pancasila, rekonsiliasi, simposium 1965,

Media Massa dan Publik Terpelajar

Jauh lebih banyak karya jurnalis yang dikutip mahasiswa dan dosen dalam makalah mereka, ketimbang sebaliknya. Hasil penelitian para sarjana yang dikutip jurnalis biasanya karya dari luar Indonesia.

Heryanto, Ariel (2016) “Media Massa dan Publik Terpelajar”, Tempo, 6-13/03/2016: 124-125.

kata kunci: akademik, Historia, IndoProgress, jurnalisme, Pantau, Prisma, publik, The Act of Killing, Time, Suharto

Ben Anderson: Tidak Ada Duanya

Klik 2015_12_13_CNN Indonesia Ben Anderson_ Tidak Ada Duanya-c

Heryanto, Ariel (2015) “Ben Anderson: Tidak Ada Duanya”, CNN Indonesia, 13/12/2015, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20151213180149-21-97899/ben-anderson-tidak-ada-duanya/

kata kunci: bahasa, Ben Anderson, CNN Indonesia, imagined communities , intelektual, George Kahin, kreativitas, Majalah Loka, Rex Mortimer, Universitas Cornell

Hoakiao-isasi Intelektual

Klik 2000_05_17_K Hoakiao-isasi Intelektual-c

Seperti di berbagai negara lain, makin hari makin banyak anak muda Indonesia belajar di luar tanah airnya. Ini satu mata rantai dari proses lebih besar yang dinamakan globalisasi. Semakin banyak orang lahir di sebuah daerah, katakanlah (A), bersekolah di kota (B), melanjutkan studi atau mulai bekerja di negara (C), berpacaran dan menikah dengan orang dari lain suku (D) atau agama (E) atau kebangsaan (F), mencapai puncak karir di negara yang sama sekali baru (G), dan menghabiskan masa tua di tempat berbeda (F), lalu mati dan dikuburkan di wilayah (H).

Heryanto, Ariel (2000) “Hoakiao-isasi Intelektual”, Kompas, 17 Mei 2000, hal. 30.

kata kunci: beasiswa, global, hoakiao, intelektual, Kompas, nonpribumi, pasca-sarjana, pendidikan tinggi, universitas