Mayoritas?

Klik 2003_10_12_k mayoritas-c

Kelompok “terbanyak” tidak selalu sama dengan yang terbaik dan tidak selalu berhak mendapatkan wewenang istimewa. Misalnya mayoritas orang Indonesia terlibat dalam praktik korupsi-baik sebagai korban maupun penikmat.

Heryanto, Ariel (2003) “Mayoritas?”, Kompas, 12/10/2003.

kata kunci: Cina, Inul Daratista, Jawa, korupsi, perempuan

Kebangsaan & Keagamaan: Dua Kiblat Indonesia di Persimpangan Jalan

Dari mana datangnya ketegangan antara kiblat “kebangsaan” dan “keagamaan” masa kini? Kedua kiblat mempunyai tempat terhormat dalam Pancasila. Bukan baru sekali ini ketegangan di antara mereka mengemuka. Tapi mengapa sekarang ia berkobar (lagi) dan berkepanjangan dalam sosoknya yang mutakhir?

Heryanto, Ariel (2018) “Kebangsaan & Keagamaan: Dua Kiblat Indonesia di Persimpangan Jalan”, Tirto.id, 20/11/2018, <https://tirto.id/kebangsaan-keagamaan-dua-kiblat-indonesia-di-persimpangan-jalan-c9U1&gt;

kata kunci: global, Islamisasi, krisis, nasionalisme, Orde Baru

Mengatasi Kejenuhan Debat 1965

2018_09_27_Kumparan Mengatasi Kejenuhan Debat 1965-c

Berbeda dari sebagian besar bahasan selama ini, peristiwa 1965 tidak hanya memakan korban komunis. Dan kasus Madiun 1948 tidak hanya memakan korban pada pihak lawan komunis. Keduanya kumpulan kisah dan peristiwa yang kompleks dan tidak tunggal.

Heryanto, Ariel (2018) “Mengatasi Kejenuhan Debat 1965”, Kumparan, 27/09/2018, https://kumparan.com/ariel-heryanto/mengatasi-kejenuhan-debat-1965-1538039198260112189

kata kunci: akademik, Madiun 1948, PKI, Orde Baru, publik, wacana

Huruf demi Huruf

Menghayati budaya baca-tulis bukan sekadar persoalan kecintaan, semangat, atau sikap mental. Kebudayaan baca-tulis juga berpijak pada hal-hal yang bersifat material, jasmaniah, dan historis di luar kendali dan pilihan hidup orang.

Konon banyak mahasiswa dari kelas bawah yang mengalami hambatan dalam proses belajar dalam masyarakat dan sekolah bermayoritas kulit putih dan kaya. Salah satu kesimpulan sementara di kalangan sarjana yang meneliti kasus ini ialah para pemuda dari kalangan yang kurang beruntung ini kuat secara fisik dan ungguI dalam berbagai kegiatan di sekolah, tetapi tidak terlatih duduk berjam-jam di depan buku di atas meja tulis, dan bergulat secara mental dengan gagasan abstrak. Tubuhnya memberontak bila dipasang berjam-jam di kursi.

Heryanto, Ariel (2004) “Huruf demi Huruf” dalam Bukuku Kakiku, St. Sularto, W.S. Brata, and P. Benedanto (eds), Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, hal. 21-40.

kata kunci: akademik, dosen, Dunia Ketiga, generasi, industri, intelektual, kelas sosial, modal, PRT

Peranakan: Yang Punah, Yang Mengglobal

Sejauh pengamatan saya, warga Tionghoa di Jawa jauh lebih majemuk ketimbang pembedaan dua kelompok yang selama ini terlanjur lazim: totok dan peranakan. Kita bisa membedakan lima kelompok yang berlainan di antara minoritas ini.

Heryanto, Ariel (2018) “Peranakan: Yang Punah, Yang Mengglobal”, dalam L. Wibisono dkk (eds) Peranakan Tionghoa Indonesia; Sebuah Perjalanan Budaya, Jakarta: Komunitas Lintas-Budaya Indonesia dan PT Intisari Mediatama, hal. 342-349.

kata kunci: budaya, Eropa, fiksi, Melayu, Orde Baru, Tiongkok

Pendidikan, setelah 20 tahun Reformasi

2018_05_25_Conversation Pendidikan, setelah 20 tahun Reformasi-c

Tulisan ini merujuk dua masalah utama. Pertama, sejak didirikan pemerintah kolonial hingga hari ini, lembaga pendidikan formal sekuler belum pernah menikmati otonomi dan belum dikelola secara profesional sesuai kaidah keilmuan. Kedua, perlu pemerataan kesempatan internasionalisasi bagi PT yang jauh dari Jakarta.

Heryanto, Ariel (2018) “Pendidikan, setelah 20 tahun Reformasi”, Conversation, 25/05/2018, https://theconversation.com/pendidikan-setelah-20-tahun-reformasi-97209

kata kunci: ideologi, kolonial, Orde Baru, sekolah, UKSW

Di Asia, Indonesia Kalah Berpengaruh Dibanding Singapura dan Malaysia

WWR_2018 Di Asia, Indonesia Kalah Berpengaruh Dibanding Singapura dan Malaysia-c

Kesan saya, secara umum para politikus Indonesia dan masyarakat pada umumnya sejak tahun 1970-an sibuk dengan masalah-masalah dalam negeri . . . Jadi mereka kurang berminat menjadi pemain besar dunia. Tidak seperti zaman Bung Karno yang mengguncang-guncang dunia sejak proklamasi 1945

Wijaya, Sastra (2018) “Di Asia, Indonesia Kalah Berpengaruh Dibanding Singapura dan Malaysia”, ABC News, 10/05/2018, http://www.abc.net.au/indonesian/2018-05-10/pengaruh-indonesia-di-asia-dibawah-singapura-dan-malaysia/9747332

kata kunci: Asia Power Index, Lowy Institute

Gaji Dosen Asing: Solusi atau Masalah?

Seandainya professor senior unggulan dari manca-negara itu diundang bekerja dengan gaji Rp 65 juta, dosen lokal berhak iri, sementara yang diundang belum tentu tertarik. Kecuali dosen asing ini sedang mencari kerja, karena kalah bersaing di negara asal mereka. Atau mereka yang merasa tidak nyaman di tempat kerjanya.

Heryanto, Ariel (2018) “Gaji Dosen Asing: Solusi atau Masalah?”, Kumparan, 20/04/2018, https://kumparan.com/ariel-heryanto/gaji-dosen-asing-solusi-atau-masalah

kata kunci: intrernasionalisasi, kebebasan akademik, kelas menengah, professor, universitas

Mengapa Kita Terus Mencurigai Internasionalisasi Perguruan Tinggi?

Tradisi puluhan tahun mengirimkan sarjana Indonesia ke luar negeri untuk kegiatan akademik (studi lanjut, penelitian, konferensi, atau penerbitan) harus diimbangi, bahkan sudah saatnya dibalik, dengan prioritas program internasionalisasi di dalam negeri. Tidak cukup mengundang tenaga ahli asing sebagai dosen atau peneliti.

Heryanto, Ariel (2018) “Mengapa Kita Terus Mencurigai Internasionalisasi Perguruan Tinggi?”, Tirto, 20/04/2018, https://tirto.id/mengapa-kita-terus-mencurigai-internasionalisasi-perguruan-tinggi-cH4f

kata kunci: globalisasi, industrial, kapitalis, LPDP, menristek