BR 2016_04_18_HISTORIA Negara Harus Meminta Maaf-c
“Ariel Heryanto: Negara Harus Meminta Maaf”, Historia, 18/04/2016, http://historia.id/modern/ariel-heryanto-negara-harus-meminta-maaf
kata kunci: konflik vertikal, negara, simposium 1965
BR 2016_04_18_HISTORIA Negara Harus Meminta Maaf-c
“Ariel Heryanto: Negara Harus Meminta Maaf”, Historia, 18/04/2016, http://historia.id/modern/ariel-heryanto-negara-harus-meminta-maaf
kata kunci: konflik vertikal, negara, simposium 1965
WWR 2015_09_10 REMOTIVI Perubahan Ini Belum Kita Pahami dengan Baik-c
“Banyak gerakan sosial lain yang Anda tanyakan bergerak dalam medan yang berbeda. Mereka sosok sosial dari abad ke-20. Mereka berorganisasi dengan musuh yang terlembaga seperti negara atau perusahaan.
Arus politik dan budaya yang bergelombang di samudra digital pada masa ini berbeda. Salah satu cirinya yang paling kuat adalah jaringannya berlingkup trans-nasional. Selain itu, perjuangan yang muncul bukan semata-mata untuk merebut kepentingan ekonomi atau kekuasaan negara, tetapi pembentukan identitas diri.
Selama ini kita baru memahami sedikit gejolak yang masih baru pada tahap awal pertumbuhannya. Gejalanya macam-macam. Mulai dari lautan jilbab di tahun 1980an, demam Hallyu atau Korean Wave di awal abad ke-21, sampai anak-anak muda di negara mayoritas kulit putih sekuler yang bergabung dengan ISIS atau kelompok anti-ISIS.”
“Ariel Heryanto: Perubahan Ini Belum Kita Pahami dengan Baik”, wawancara, Remotivi, 10/09/2015, http://www.remotivi.or.id/wawancara/214/Ariel-Heryanto:-Perubahan-Ini-Belum-Kita-Pahami-dengan-Baik.
kata kunci: gerakan sosial, identitas, maskulin, Orde Baru, teknologi
Intelektual di Indonesia sekarang mengalami masa sulit. Bila orang lulus PhD lalu menjadi bintang, diwawancarai di mana-mana, tampil di seminar-seminar, dan dia tak perlu baca banyak. Yang penting dia mau memaki-maki penguasa dan kekuasaan. Dia lalu jadi bintang. Karena situasi yang seperti itu intelektual di Indonesia terbelah menjadi dua. Satu yang mengabdi kepada kekuasaan, dan mereka yang sangat kritis.
“Ariel Heryanto”, wawancara Bre Redana, Kompas, 29/12/1996: 2.
kata kunci: diaspora, identitas, intelektual, kapitalisme, maskulinitas, rantau, TKI
WWR 1995_12_31_SM Terpaksa Keluar dari Indonesia-c
“Terpaksa ‘Keluar’ dari Indonesia”, dan “Fakta dan Fiksi Itu Fakta”, wawancara Wilis dan Fanani, Suara Merdeka, 31/12/1995: 4.
kata kunci: fakta, fiksi, kelompok diskusi, latar belakang, masa kecil, pribadi, UKSW
Klik 1980_09_06_SH Tak Perduli Tanggal Berapa-c
Turun ubin
Mengusap ubun
Tak luput uban
. . .
Heryanto, Ariel (1980) “Tak Perduli Tanggal Berapa”, puisi, Sinar Harapan, 6/09/1980.
BR_2015_07_03_TI Agar Riset Tak Berakhir di Kolong Meja-c
“Agar Riset Tak Berakhir di Kolong Meja”, Tempo Institute, 3/07/2015, http://tempo-institute.org/agar-riset-tak-berakhir-di-kolong-meja/.
kata kunci: kebijakan, penelitian, riset
Jauh lebih banyak karya jurnalis yang dikutip mahasiswa dan dosen dalam makalah mereka, ketimbang sebaliknya. Hasil penelitian para sarjana yang dikutip jurnalis biasanya karya dari luar Indonesia.
Heryanto, Ariel (2016) “Media Massa dan Publik Terpelajar”, Tempo, 6-13/03/2016: 124-125.
kata kunci: akademik, Historia, IndoProgress, jurnalisme, Pantau, Prisma, publik, The Act of Killing, Time, Suharto
Klik 2015_12_13_CNN Indonesia Ben Anderson_ Tidak Ada Duanya-c
Heryanto, Ariel (2015) “Ben Anderson: Tidak Ada Duanya”, CNN Indonesia, 13/12/2015, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20151213180149-21-97899/ben-anderson-tidak-ada-duanya/
kata kunci: bahasa, Ben Anderson, CNN Indonesia, imagined communities , intelektual, George Kahin, kreativitas, Majalah Loka, Rex Mortimer, Universitas Cornell
Klik 2000_05_17_K Hoakiao-isasi Intelektual-c
Seperti di berbagai negara lain, makin hari makin banyak anak muda Indonesia belajar di luar tanah airnya. Ini satu mata rantai dari proses lebih besar yang dinamakan globalisasi. Semakin banyak orang lahir di sebuah daerah, katakanlah (A), bersekolah di kota (B), melanjutkan studi atau mulai bekerja di negara (C), berpacaran dan menikah dengan orang dari lain suku (D) atau agama (E) atau kebangsaan (F), mencapai puncak karir di negara yang sama sekali baru (G), dan menghabiskan masa tua di tempat berbeda (F), lalu mati dan dikuburkan di wilayah (H).
Heryanto, Ariel (2000) “Hoakiao-isasi Intelektual”, Kompas, 17 Mei 2000, hal. 30.
kata kunci: beasiswa, global, hoakiao, intelektual, Kompas, nonpribumi, pasca-sarjana, pendidikan tinggi, universitas
2000_08_20_TEMPO Dua Tahun Kemudian-c
Heryanto, Ariel (2000) “Dua Tahun Kemudian”, Tempo, 20 Agustus 2000, hal. 72-73.
kata kunci: Akbar Tandjung, Ferdinand Marcos, Golkar, Gus Dus, KKN, Megawati, pasca-Orde Baru, people’s power, pers, Tempo, TNI